Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi
Karya: Yak Dand
Hari Pertama di Kota Nabi
Penat perjalanan terbayar sudah saat roda burung besi menyentuh tanah yang diberkahi, Kota Nabi. Hamba tertegun sesaat mengucap syukur setelah sembilan jam mengarungi angkasa sampai dengan selamat. Ada rasa sejuk embun pagi terhirup memenuhi dada walau terik gurun menaungi. Teringat kata guru, “Bergembiralah, akan terasa sejuk di sana karena nanti insan akan bertemu dengan Nabi pembawa berita gembira.”
Sebagian insan berbaris rapi menunggu dalam antrean bagai menunggu panggilan hisab nanti. Ada yang terduduk lelah di ruang tunggu, ada yang bergegas wudu untuk salat hajat memohon kebaikan tanah ini. Kabar duka menyeruak sedih, satu insan yang sakit harus dirawat terpisah dengan kami. Ada sedih dan doa menyelip di hati, mohon kepada Robbi untuk menyembuhkan saudara kami dan agar tubuh ini bisa menikmati anugerah-Nya dalam ziarah besar suci.
Panggilan berkumandang, para insan berbaris lagi disambut petugas imigrasi. Wajah cerah menghapus gurat letih, menanti giliran dengan senyuman. Ya, senyuman yang berbuah selawat kepada Nabi, dimulai lirih kemudian keras menggema memenuhi ruangan antre. Semua insan bergegas pergi menuju kendaraan dengan tenteram.

