Oleh: Kulul Sari

Di balik rimbunnya pepohonan di kaki Bukit Aik Sibut, Kampung Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, terdapat sebuah gua yang namanya cukup membuat bulu kuduk berdiri. Warga setempat menyebutnya “Guwo Mate Anak”.

Nama itu bukan tanpa sebab. Secara turun-temurun, guwo atau gua ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya mate anak sebutan masyarakat Kampung Gudang untuk kuntilanak. Cerita ini diwariskan dari mulut ke mulut melalui tutur lisan oleh para tetua Kampung Gudang, menjadi bagian dari folklor desa yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.

Lempengan Batu yang Dipercaya Sebagai Tempat Tidur

Keunikan Guwo Mate Anak terletak pada bagian dalamnya. Di sana, alam telah memahat sendiri sebuah singgasana dari granit. Sebuah lempengan batu yang datar, dingin, dan sunyi terbaring seperti altar purba, terbentang bagaikan ranjang milik waktu. Bagi warga Gudang, lempengan batu inilah yang diyakini sebagai tempat beristirahatnya sang mate anak, sosok perempuan gaib yang keberadaannya begitu dihormati sekaligus ditakuti.

Tak heran jika banyak warga pada masanya merasa takut dan sungkan melintas di area guwo ini, apalagi seorang diri. Letaknya tidak begitu jauh dari perkampungan, kurang dari 1 km, dan sekira enam meter dari tempat penampungan air bersih. Berada di kaki Bukit Nenek, tepatnya di kawasan Aik Sibut, suasana di sekitar gua terasa sejuk, tenang, dan agak angker. Rimbunan pohon-pohon besar kian menambah kesan mistis tempat ini.

“Dari dulu orang tua mengatakan bahwa guwo itu tempat bersemayamnya mate anak. Dikisahkan mate anak ini berkeliaran di malam hari saat bulan terang,” jelas Hardin As, salah satu tetua Kampung Gudang.

Suasana di Dalam Guwo Mate Anak

Dari luar, Guwo Mate Anak seolah sengaja menyembunyikan dirinya di tengah rimbunnya pepohonan. Mulut gua yang tidak terlalu mencolok membuat keberadaannya luput dari pandangan, seakan alam sendiri menjaga rapat rahasia yang tersimpan di dalamnya.

Begitu memasuki ruang gua, suasana berubah seketika. Suasana gelap dan lembap menyelimuti setiap sudut. Cahaya hanya mampu menyusup remang melalui dua celah di antara bongkahan batu granit.

Di sela-sela batu sudut bawah, air mengalir perlahan menambah kesan sunyi dan misterius. Sementara di bagian atas gua, beberapa kelelawar bergelantungan dan sesekali mengepakkan sayap ketika merasa terganggu oleh kehadiran manusia.