Disabilitas Tuli Bisa Ikut MTQ
Oleh: Syamsul Bahri — Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
Bagi umat Islam pelaksanaan Musabaqah Tilwatil Qur’an (MTQ) bukan seseuatu yang asing lagi. Bahkan sekarang hampir setiap tahun perlombaan dalam mengeksplor Al-Qur’an dan Hadits Nabi itu dilaksanakan. Pelaksanaannya pun secara berjenjang. Mulai dari tingkat paling rendah (RT, Desa/Kelurahan) sampai ke tingkat yang lebih tinggi (Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional).
Aneka cabang perlombaan tersedia dalam ajang yang dulunya dilaksanakan dua tahun sekali itu. Semua peserta terbaik dari perwakilan daerah masing-masing akan dipertemukan dalam satu panggung demi untuk meraih yang terbaik. Tentunya menjadi suatu kebanggaan jika mampu tampil terlebih lagi bisa menjadi juara.
Berdasarkan petunjuk teknis dan panduan MTQ Nasional setidaknya ada beberapa cabang dengan syarat-syarat tertentu yang dilombakan. Cabang tersebut antara lain Seni Baca Al-Qur’an (Tilawah dan Tartil) untuk golongan Tartil Anak-anak, Remaja, Dewasa, Qira’at Al-Qur’an, dan Cacat Netra. Kemudian Hifzhil Qur’an terdiri dari golongan 1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz, dan 30 juz.
Lalu Tafsir Al-Qur’an yaitu hafalan Al-Qur’an disertai penafsiran Bahasa Arab, Indonesia, atau Inggris. Selanjutnya cabang Fahmil Qur’an yaitu lomba cerdas cermat isi kandungan Al-Qur’an secara beregu. Ada juga cabang Syarhil Qur’an yaitu lomba penafsiran/pemberian penjelasan isi kandungan Al-Qur’an dengan cara pidato, syarahan, dan ilustrasi.
Kemudian cabang Khattil Qur’an (Kaligrafi) yaitu menulis huruf-huruf Al-Qur’an ke sebuah media terdiri dari golongan naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital. Kemudian cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an dan Hadits yaitu penulisan karya ilmiah yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits. Dan terakhir cabang Hafalan Hadist terdiri dari golongan 100 hadits dengan sanad dan 500 hadits tanpa sanad.
Tujuan utama MTQ sendiri, pertama untuk membumikan Al-Qur’an yaitu menumbuhkan kecintaan serta semangat baca-tulis Al-Qur’an agar umat Islam tidak buta huruf Al-Qur’an. Kedua, pengamalan nilai Al-Qur’an yaitu mendorong pemahaman mendalam dan penerapan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari guna membentuk kesalehan diri dan sosial.
Ketiga, pembinaan generasi muda yaitu membentengi akhlak pemuda dan menciptakan generasi Qur’ani yang disiplin, berkarakter, serta berakhlak mulia. Terakhir, pencarian bibit unggul yaitu menjaring talenta dan potensi terbaik di bidang seni baca, hafalan, tafsir, hingga pemahaman Al-Qur’an untuk tingkat daerah hingga nasional. Dan keempat mempererat silaturahmi karena ajang MTQ menjadi sarana memperkuat persaudaraan, kerukunan, dan toleransi antarumat beragama.
Ajang MTQ juga sebagai sarana mengharumkan identitas, baik identitas peserta itu sendiri maupun daerah yang diwakilinya bahkan bisa mengharumkan nama negara di kancah internasional. Sudah terbukti banyak putra terbaik daerah yang berhasil mengharumkan nama daerahnya bahkan nama negara, dari berbagai sumber tercatat ada nama Syamsuri Firdaus Qari asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang telah menorehkan prestasi sebagai juara di berbagai ajang dunia, termasuk kembali mengharumkan nama bangsa di MTQ Internasional Abu Dhabi.

