Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi (IV)
Hari Ketiga di Kota Nabi
Oleh: Yak Dand
Tujuh waktu sholat telah terlewati. Saat cinta mengetuk pintu kamar hotel untuk mengajak Subuh berjamaah di Nabawi, setelah Subuh ini seperti pesan guru ada parit perkasa yang dibangun di Kota Nabi, hamba berniat mengunjungi, Masjid Khandaq namanya kini.
Waktu Subuh menghampiri, hamba dan cinta bergegas menuju Masjid Nabi. Ada peristiwa yang selalu teringat di benak saat disapa kakek tua di gerbang pagar Nabawi, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Wajah teduh dengan misai lebat putih berseri, berbadan kekar, bergamis sederhana memegang tasbih, langsung memeluk seperti saudara lama yang dinanti. Spontan hamba membalas salam dan berkata menunjuk ke diri, “Indonisi” (panggilan jemaah Indonesia). Beliau mengucapkan, “Ahlan wa sahlan ya akhi, marhaban.” Menjadi pertanyaan siapa gerangan sang pelipur hati karena hamba asing di Kota Nabi.
Waktu berlalu singkat. Setelah bertukar senyum dan ucapan terima kasih, hamba berlalu karena cinta melambai menunggu di kejauhan, dan sang kakek misteri menghilang tidak tampak punggungnya pergi.
Zuhur dan Asar di Masjid Nabi. Menjelang Magrib hamba kembali dengan tekad yang sama, ingin bertemu lagi dengan Nabi. Sehabis Isya hamba sendiri masuk Bab Bilal, menyusuri shaf pertama sampai batas Raudhah menuju Bab Baqi untuk bertemu Nabi terkasih.
Menyusuri shaf terdepan Nabawi sendiri di tengah lautan manusia, hanya selawat terucap, lirih tak terputus. Guru berpesan bagaimana pun sulit dan tertekan waktu nanti ziarah, berselawatlah maka akan lapang semuanya yang sempit dilapangkan, yang susah dimudahkan, yang sakit disembuhkan.

