Bahaya Gas Beracun di Depan Mata, Hadirkah Pemerintah dan Negara?
Oleh: D ‘Utama — Pemerhati Kemasyarakatan dan Lingkungan Bangka Belitung
Satelit NASA menampilkan kandungan karbon monoksida CO di atas langit Indonesia dari tanggal 5 s.d. 15 Oktober 2026 akibat asap buangan kendaraan bermotor, pabrik, aktivitas vulkanik, dan kebakaran hutan. Dari tampilan citra satelit, tampak 90 persen wilayah Indonesia tertutup warna merah yang diinterpretasikan sebagai gas karbon monoksida CO.
Bagaimanakah sifat kimia gas CO? Dan apa dampaknya bagi manusia? Mari kita telaah dampak langsung maupun dampak tidak langsung dari gas CO yang merupakan hasil pembakaran tidak sempurna ini.
Gas CO bersifat reaktif dan mudah terbakar dengan nyala api berwarna ungu (epa.se). Gas CO sangat beracun serta memiliki daya ikat (afinitas) terhadap hemoglobin dalam darah manusia sekitar 200 hingga 250 kali lebih kuat dibandingkan dengan oksigen (eresources.thamrin.ac.id). Ketika terhirup, CO akan mendesak oksigen dan berikatan dengan hemoglobin membentuk karboksihemoglobin (COHb), sehingga sel-sel tubuh kekurangan pasokan oksigen (hipoksia) yang bisa berakibat fatal (keslan.kemkes.go.id).
World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa polusi udara merupakan suatu permasalahan utama dalam pencemaran lingkungan. Setiap tahun, polusi udara—baik luar maupun dalam ruangan—menyebabkan 7 juta kematian. Kematian yang disebabkan oleh polusi udara 3 kali lebih besar dibandingkan dengan kematian yang disebabkan oleh malaria, TBC, dan AIDS. Polusi udara menyebabkan kematian akibat penyakit jantung sebanyak 25%, stroke 24%, penyakit paru obstruktif kronis 43%, dan kanker paru 29% (keslan.kemkes.go.id).
Dari penjelasan WHO di atas, jelas sekali bahaya gas CO ini. Perlu kita sadari bahwa peristiwa kabut asap ini harus disikapi dengan benar, sebab di dalam kabut asap tersebut terkandung gas CO.
Paparan gas CO kepada masyarakat secara rutin atau terus-menerus dapat memicu penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan penyakit kardiovaskular lainnya, serta dapat menyebabkan Delayed Encephalopathy after Acute Carbon Monoxide (DEACMP). Paparan gas CO berhubungan dengan meningkatnya Years of Life Lost (YLL) harian dari penyebab nonkecelakaan seperti penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan, penyakit jantung koroner, stroke, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Sehingga, paparan gas CO yang melebihi baku mutu akan meningkatkan risiko Years of Life Lost pada masyarakat yang terpapar.

