Oleh: Haji Boy Dahlan De — Guru Iqro

Buku Friends: Understanding the Power of our Most Important Relationships (2021) karya Robin Dunbar adalah karya komprehensif yang membedah persahabatan dari sudut pandang psikologi evolusioner, neurobiologi, dan antropologi dari Oxford. Dunbar berargumen bahwa persahabatan bukanlah sekadar pelengkap sosial, melainkan penentu utama kesehatan fisik, mental, dan angka harapan hidup manusia.

Berikut adalah ringkasan poin-poin utama dari buku tersebut yang dikelompokkan berdasarkan tema besar:

Struktur Anatomi Jaringan Sosial

Dunbar menjelaskan bahwa lingkaran sosial manusia tidak acak, melainkan terstruktur berlapis-lapis dalam kelipatan $\sim 3$ kali lipat yang dikendalikan oleh kapasitas kognitif otak kita (Social Brain Hypothesis). Lapisan tersebut meliputi:

Lapisan inti (5 orang): support clique, sahabat paling dekat yang Anda hubungi saat krisis ekonomi atau emosional.

Lapisan simpati (15 orang): teman dekat yang sering berkumpul dan sangat Anda sayangi.

Lapisan kelompok (50 orang): teman yang Anda undang ke pesta atau makan malam bersama.

Angka Dunbar (150 orang): batas maksimum hubungan sosial yang stabil, di mana Anda tahu siapa mereka dan bagaimana hubungan mereka dengan Anda.

Tujuh Pilar Persahabatan

Merujuk kepada bagaimana kita memilih teman, Dunbar mengidentifikasi bahwa manusia memiliki kecenderungan homofili (berteman dengan orang yang mirip). Kita secara tidak sadar memindai tujuh pilar kesamaan ini saat menyaring sahabat, yaitu:

Bahasa (atau dialek/aksen yang sama).

Tempat tumbuh besar (latar belakang geografis).

Alur karier atau pendidikan.

Hobi dan minat yang sama.

Pandangan hidup (moral, agama, atau politik).

Selera humor (hal yang membuat tertawa bersama).

Selera musik (pilar yang menurut Dunbar sangat kuat dalam memicu bonding).

Neurobiologi Persahabatan (Sistem Opioid)

Buku ini membedah mekanisme biokimia di balik kebersamaan. Primata membangun hubungan lewat grooming (saling membersihkan kutu). Manusia tidak lagi memiliki waktu untuk itu, sehingga kita berevolusi menggunakan mekanisme pelatuk endorfin baru yang bisa dilakukan dalam kelompok besar. Tertawa bersama, bernyanyi, menari, berkumpul untuk makan, dan menceritakan kisah adalah bentuk grooming modern. Aktivitas ini memicu pelepasan beta-endorfin yang menurunkan stres, memperkuat imun, dan menciptakan perasaan “mabuk sosial” (social high) yang merekatkan hubungan.

Perbedaan Gender dalam Persahabatan

Dunbar menemukan perbedaan mendasar tentang bagaimana pria dan wanita mempertahankan hubungan:

Wanita (berorientasi pada hubungan): pertemanan wanita bersifat personal dan emosional. Hubungan dijaga melalui percakapan mendalam (talking/gossiping). Jika komunikasi verbal terhenti, persahabatan mereka lebih rentan pudar.

Pria (berorientasi pada aktivitas): pertemanan pria bersifat fungsional dan berbasis aktivitas (doing things together). Pria berteman dengan melakukan sesuatu bersama seperti menonton bola, berolahraga, atau minum bersama. Jika aktivitasnya hilang, ikatan mereka cenderung melemah.

Ancaman Dunia Digital dan Media Sosial

Dunbar juga menganalisis fenomena media sosial (Facebook, Instagram, dll.):

Ilusi kuantitas: meskipun Anda memiliki 5.000 “teman” di media sosial, kapasitas kognitif otak Anda tetap membatasi hubungan dunia nyata Anda pada Angka Dunbar (150 orang).

Kelemahan digital: komunikasi digital tidak bisa menggantikan interaksi tatap muka langsung karena media sosial tidak bisa memicu pelepasan endorfin dari sentuhan, tawa bersama, atau kontak mata langsung yang intim.

Kesimpulan: Dari buku Dunbar ini, disimpulkan bahwa sahabat adalah investasi kesehatan terbaik. Memiliki jaringan sosial yang sehat berdampak lebih besar bagi umur panjang seseorang dibandingkan dengan melakukan diet, berolahraga, atau bahkan berhenti merokok.

Persahabatan dalam Pandangan Islam

Teori ini menjadi menarik karena baru dirumuskan, ditulis, dan terpublikasi tahun 2021, namun ilmu ini sudah ada serta disempurnakan sekitar 1.400 tahun yang lalu. Rasulullah ﷺ mengumpamakan sahabat yang baik seperti penjual minyak wangi yang akan menularkan kebaikan.

Menurut pandangan Islam dari Imam Al-Ghazali, kriteria utama sahabat sejati meliputi beriman dan bertakwa, menjauhi dosa besar, taat kepada Allah, berakhlak mulia (mampu mengendalikan diri, santun, serta menjaga lisan), jujur dan amanah (suka mengoreksi kesalahan secara tulus, bukan sekadar memuji atau basa-basi), berakal sehat (memiliki kebijaksanaan dan tidak menyeret pada kebodohan atau kemaksiatan), serta tidak serakah dunia (mengutamakan nilai akhirat dan tidak rakus terhadap harta semata).

Berikut Lima Kriteria Sahabat Sejati menurut Imam Al-Ghazali (NU Online, Selasa, 4 Agustus 2015):

Kedudukan sahabat mendapat perhatian oleh agama. Hal ini menunjukkan bahwa sahabat memiliki kedudukan penting bagi perkembangan, pertumbuhan, dan pengambilan sikap pribadi kita. Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan kita agar hati-hati dalam mencari sahabat sejati.

Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang bisa dilihat dari keberagamaan sahabatnya. Hendaklah setiap kamu memerhatikan bagaimana sahabatmu beragama.”

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah menyebutkan sedikitnya lima hal yang perlu diperhatikan dalam mencari sahabat:

Akal

“Bila kau ingin mencari sahabat yang menemanimu dalam belajar, atau mencari sahabat dalam urusan agama dan dunia, maka perhatikanlah lima hal ini. Pertama, akalnya. Tiada mengandung kebaikan persahabatan dengan orang dungu. Biasanya berakhir dengan keengganan dan perpisahan. Perilaku terbaiknya menyebabkan kemudaratan untukmu, padahal dengan perilakunya dia bermaksud agar dirinya berarti untukmu. Peribahasa mengatakan, ‘Musuh yang cerdik lebih baik daripada sahabat yang dungu,’” (Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, [Indonesia: Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah, tanpa catatan tahun], halaman 90).

Imam Al-Ghazali menempatkan akal pada urutan pertama. Pasalnya, sahabat yang bodoh atau dungu lebih banyak mencelakai kita karena kebodohannya meskipun ia bermaksud baik.

Akhlak Terpuji

“Kedua, akhlak yang baik. Jangan bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, yaitu orang yang tidak sanggup menguasai diri ketika sedang marah atau berkeinginan,” (Bidayatul Hidayah, halaman 90–91).

Akhlak bukan hanya dilihat dalam situasi normal. Akhlak seseorang lebih jauh dari itu juga perlu diperhatikan dalam situasi marah atau syahwat. Kalau dalam situasi marah atau syahwat seseorang dapat mengendalikan diri, dalam situasi normal ia lebih berkuasa atas dirinya sehingga sanggup mengedepankan akhlak terpuji.

Kesalehan

“Ketiga, kesalehan. Jangan bersahabat dengan orang fasik yang terus-menerus melakukan dosa besar, karena orang yang takut kepada Allah takkan terus-menerus berbuat dosa besar. Orang yang tidak takut kepada Allah tidak bisa dipercaya perihal kejahatannya. Ia dapat berubah seketika seiring perubahan situasi dan kondisi,” (Bidayatul Hidayah, halaman 91).

Imam Al-Ghazali tidak menyebut kesalehan dengan kegemaran beribadah. Kesalehan di sini adalah seberapa jauh orang yang patut dijadikan sahabat menjauhkan diri dari dosa besar. Seseorang yang terus-menerus melakukan dosa besar menunjukkan ketidaktakutannya kepada Allah. Orang ini cukup berbahaya untuk dijadikan sebagai sahabat karena tidak ada jaminan yang membuat kita selamat dari kejahatannya.

Allah SWT berpesan kepada Rasulullah SAW dalam Surah Al-Kahfi ayat 28 berikut ini:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Tingkat Keserakahan terhadap Dunia

“Keempat, jangan cari sahabat yang gila dunia. Persahabatan dengan orang yang gila dunia (serakah) adalah racun mematikan, karena watak tabiat itu meniru dan meneladani. Bahkan tabiat itu mencuri tabiat orang lain dari jalan yang tidak disadari. Pergaulan dengan orang serakah dapat menambah keserakahanmu. Sementara persahabatan dengan orang zuhud dapat menambah kezuhudananmu,” (Bidayatul Hidayah, halaman 92).

Persahabatan dengan orang yang rakus dan serakah terhadap dunia dikhawatirkan dapat berpengaruh kepada sahabat. Sebaliknya, kezuhudan orang di sekitar kita diharapkan menular kepada kita. Di sini pentingnya memerhatikan tingkat kezuhudan atau keserakahan seseorang terhadap dunia.

Kejujuran