Sebagai “Urang Habang” Mengenang Toboali Tempo Dulu

Oleh: Iyek Aghnia — Penulis yang Tinggal di Toboali, Bangka Selatan

“Zaman Ente agik berek dan angkit Bujang, macem mane Toboali nih?” tanya seorang anak muda saat kami ngopi di sebuah warung kopi di Jalan Sudirman, Toboali.

Penulis menatap jalanan yang ramai dengan suara knalpot kendaraan roda dua dan empat yang lalu lalang. Suara knalpot kendaraan itu seolah-olah saling bersahutan.

Kopi di gelas masih meninggi, setinggi cahaya matahari yang mulai menaiki langit. Di depan warung kopi milik kaum muda itu, berjejer rapi kendaraan pengunjung.

Penulis teringat dengan peristiwa yang tak terlupakan hingga kini, saat masih bersekolah di sebuah SMP Negeri sekitar tahun 1982–1983, kala duduk di kelas dua atau tiga.

Saat menonton film layar lebar, saking “tekacer-kacer” (tergesa-gesa), penulis lupa mengunci sepeda. Tak heran, saat menonton film favorit di Bioskop Pelita ada pula yang menyebutnya Bioskop Bawah pikiran penulis menjadi tidak tenang.

Begitu di layar bioskop tertulis kata “Selesai”, penulis langsung keluar dengan tergesa-gesa. Alhamdulillah, sepeda yang selalu penulis gunakan untuk pergi ke sekolah masih terparkir di tempat semula. Sebuah kenangan yang tak pernah terlupakan hingga kini.

Pada era ’80-an, warga Toboali yang hidup dan beraktivitas pada masa itu sudah tidak asing lagi dengan dunia persuratkabaran. Media-media nasional seperti Kompas, Merdeka, dan berbagai majalah terbitan Jakarta lainnya sudah dibaca warga Toboali pada masa itu.