Tapi, Ini Bukan tentang Langit
Karya: Navisabilillah
Aku selalu menyukai semua tentang langit, mau saat dia cerah atau bahkan mendung sekalipun. Apapun cuacanya, aku akan tetap menyukainya dan sangat menyukainya.
Langit sangat indah, jika aku lelah yang pertama kali ingin aku lihat adalah langit karena selalu berhasil membuatku tenang dan nyaman.
Langit, adalah sebuah ciptaan yang indahnya tidak bisa diungkapkan dengan kata.
Apapun bentuknya, langit selalu memberi yang terindah, membuat mata terhipnotis keindahannya.
Siang itu, Bastian mengajak Rani untuk bersepeda.
Sambil menikmati keindahan alam dan langit yang begitu biru.
Mereka duduk, di sebuah taman. Di bawahnya penuh rerumputaan, di samping nya ada pepohonan untuk berteduh.
“Wahh indah sekali langit itu, aku sangat menyukainya, ” ujar Rani sambil menatap langit.
“Hujan atau pelangi? Mana pilihanmu?” tanya Bastian.
“Langit,” ujar Rani.
“Aku tau kau menyukai langit, namun langit tidak
termasuk dalam pilihan, ” ujar Bastian sambil melihat Rani.
“Tetap saja, jika boleh aku ingin memilih langit, ” ujar Rani dengan penuh keyakinan.
“Alasannya?” tanya Bastian.
“Bermain di bawah air hujan memang menyenangkan, dan warna pelangi juga sangat indah. Keduanya memang bisa membuat bahagia, namun tetap saja keduanya hanya sementara. Hujan dan pelangi hanya datang sesaat, lalu pergi tanpa memberi kepastian kapan mereka akan kembali. Berbeda dengan langit yang selalu ada, langit selalu menemani setiap waktu tanpa ada kata pergi, ” jawab Rani sambil melihat Bastian lalu tersenyum.
Mereka saling berpandangan dan saling memberi senyuman, seperti keindahan langit yang memandangi mereka berdua.
“langit itu keindahan bukan?” tanya Rani lagi sambil memandang langit.
“Menurutku tidak selalu, terkadang langit bisa menjadi luka, ” jawab Bastian.
“Bastian, aku menyukai langit, bahkan keburukan langitpun kuanggap sebuah hal yang mengagumkan, dan saat langit menjadi luka, aku masih tetap menyukainya, ” ujar Rani sambil menikmati keindahannya.
“kenapa begitu tulus untuk sebuah hal yang
tak perlu?” jawab Bastian sambil mengangkat kedua alisnya.
“karena langit itu seperti kamu Tian, indah dan
menyakitkan, ” ujar Rani sambil menoleh ke arah Bastian.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.