Legenda Ikan Kelek Pergam
Karya: Dwikki Ogi Dhaswara, S.Sos
Kulit memerah, sinar yang tajam menghanguskan harapan, kekeringan menyongsong waktu yang membuat resah semua orang.
Debu-debu jalanan menyerbu rumah-rumah warga, udara yang kotor dan debu-debu yang tercecer di antara lantai-lantai rumah, membuat gersang dan gerah bumi beserta seisinya.
Di kala siangnya membuka tirai matahari, di kala sore harinya bersenandung rindu mengharap mendung dan pelangi.
Genap dua tahun hujan tak pernah lagi dirasa, mengubah hutan menjadi abu, membiarkan sumur-sumur mengering, tanpa menyisakan setetes air untuk diminum.
Tanah kering menutupi jejak yang dalam, kemarau panjang yang sangat menyiksa, langit seolah menglunglaikan dedaunan beserta manusianya yang berada di satu desa.
Desa itu dikenal sebagai sarangnya burung-burung Pergam.
Setiap harinya semua warga desa berdoa agar jatuhnya deraan air yang menyeka panas.
Mengharap nikmat dari sang pencipta. Rindu akan simphoni dari nada-nada rintikan yang berirama, menghapus debu-debu yang terurai dengan tetes demi tetes air hujan yang meninggalkan jejak di atas permukaan tanah yang tertindih.
Sumur-sumur warga sudah menjadi kubangan raksasa yang kosong, sedangkan untuk mengambil air hanya ada di tempat yang jauh dan berada di lain desa.
Kondisi itu membuat seorang pria paruh baya bernama Mang Yanto khawatir akan kondisi keluarganya.
Sedangkan untuk mandi, minum, wudhu, dan banyak lagi sudah menjadi kebutuhan rutin di setiap harinya.
Sudah dua tahun Mang Yanto bersama dengan warga lainnya di desa itu menggali sumur, berharap menemukan air dari tahun pertama saat kemarau melanda.
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka lalui, tapi tak kunjung menemukan mata air yang jernih untuk keluarga dan desanya.
Sumber kehidupan yang sulit dicari, membuat mereka hampir berputus asa, air yang sulit dicari tak sebanding dengan air mata yang terus mangalir dipipi.
Menangis di atas lembah yang mengering, padahal desa itu ditumbuhi oleh pepohonan nan rindang, dulunya berkabut, serta mata air yang banyak dan jernih di antara hulu dan hilirnya sungai.
Namun sejarah itu hilang, dihantam oleh kemarau yang berkepanjangan.
Cuaca yang panas membuat siang dan malam diarungi kegerahan yang terus menghiba luruhkan airmata, mengharap ridho Illahi Robbi.
Tepat di penghujung tahun ke dua, Mang Yanto sedang beristirahat di bawah pohon rindang yang berada di kebunnya, dekat dengan aliran sungai yang sudah mengering.
Aliran itu sudah menjadi tanah tandus, demi mata memandang rumput-rumput mengering berganti dengan ranting-ranting yang melenting, meliukan kerapuhan.
Terdengar suara gemercikan air di dalam lobang seukuran lengannya yang berada dekat dengan aliran sungai dulunya.
Perasaan ragu namun berselimutkan rasa keingintahuan.
Ia lekas memanggil anak-anak beserta saudara-saudaranya untuk kembali menjumpai tempat itu.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.