Oleh: Meilanto

OPINI, TIMELINES.ID — Proses mene/menih dimulai dengan membuat lubang sedalam kurang lebih 5-10 cm menggunakan kayu sebesar ibu jari kaki orang dewasa dengan bagian bawah yang diruncing atau lancip yang dipegang tangan kiri dan kanan.

Pekerjaan ini dilakukan oleh laki-laki dewasa. Kemudian diikuti oleh sang mene/menih yaitu orang yang memasukkan benih padi ke lubang yang telah dibuat oleh si nugal/ nuja.

Benih padi yang ditanam biasanya mayang angat, padi empat bulan, padi keteb, ampal, mayang besar, padi kuning dan padi kutu, sedangkan padi jenis ketan seperti ketan putih, ketan jawa, ketan pare, dan ketan hitam.

Benih padi ditanam berdasarkan jenisnya pada petak-petak yang telah dibuat.

Baca Juga  Tim SAR Gabungan Kembali Temukan Jenazah dan Tas Milik Korban Kecelakaan Helikopter P-1103

Benih padi ditempatkan pada tempurung kelapa atau wadah plastik kecil lainnya. Pekerjaan mene (menih) biasanya dilakukan oleh kaum perempuan.

Pada proses ini dilakukan dengan sistem besaoh atau mengundang kerabat terdekat.

Sang empunya lahan biasanya menyiapkan bubur kacang hijau atau makanan ringan pada pagi hari dan makanan berat pada siang hari. Pada saat mene (menih) pondok masih sangat sederhana belum bentuk jadi seutuhnya.

Seminggu kemudian, benih-benih padi mulai tumbuh atau ngenyerom (berkecambah). Padi-padi mulai tumbuh seperti jarum (antara kelihatan atau tidak) keluar dari lubang-lubang.

Setelah proses mene (menih) selesai dilakukan dan padi mulai tumbuh (ngenyerom), proses selanjutnya yaitu tunggen (tunggu).

Baca Juga  Tahapan Seleksi Anggota KPU Babel Telah Dibuka, Begini Daftarnya!

Warga yang punya lahan ume mulai membangun pondok ume atau rumah di lokasi yang disebut dengan memarung.

Lokasi memarung terletak dibagian tengah ume atau pada lokasi yang strategis untuk mengawasi ume dari ganggung hama seperti babi, burung pret,  kera, lutung beruk dan lain sebagainya.

Seiring perjalanan waktu padi-padi sudah tinggi, pondok sudah yang pada awalnya masih belum sempurna (belum selesai) maka seiring dengan perjalanan waktu, pondok harus selesai.

Padi-padi harus ditunggen, maka pondok harus mulai diberi dinding dan disiapkan pelantar sebagai tempat mengirik padi (memisahkan bulir padi dengan tangkai menggunakan kedua kaki) dan menjemur padi serta menyimpan lanting lesung.

Pada pondok tersebut juga dibuat antang-antang (pagar) di pelataran pondok ume untuk menjemur kain-kain.

Baca Juga  Urgensi Pelestarian Tradisi Hikok Helawang sebagai Upaya Memperkuat Eksistensi Adat dan Budaya Babel