Membentuk Identitas melalui Pembangunan Kawasan
Oleh: Dr. Darus Altin, SE, MMSI
OPINI, TIMELINES.ID — Menuju suatu kawasan diidentikkan dengan masuk melalui pintu depan berupa struktur bangunan gerbang atau gapura.
Sebagai pintu depan masuk sebuah daerah atau kawasan tertentu, maka seringkali kita mengabaikan bahwa sesuatu yang di awal atau di depan dengan estetika atau suatu keindahan menjadi pembentuk citra positif bagi yang melihatnya.
Selain itu yang paling utama dirasakan sebagai bentuk penanda (identitas) suatu kawasan, baik itu kawasan pendidikan, kawasan industri, identitas batas daerah baik itu antar kabupaten/kota/atau desa/kampung hingga wajah depan sebuah sebuah teritorial, bahkan benteng pertahanan kedaulatan sebuah negara.
Dari aspek filosofi yang lain, gapura/gerbang diartikan sebagai simbul gerbang menuju kawasan masa depan yang cerah, makmur, gemar ripah loh jinawi, dan sukses bagi mayarakat yang tinggal didalamnya.
Dilihat dari aspek sejarah, sebuah gerbang dengan estitetika tertentu menunjukkan kemenangan atau kebesaran suatu negara, seperti: Arch of Constantine salah satu gerbang kemenangan Romawi tertua yang masih berdiri gerbang sejak tahun 312 yang menjadi awal diakuinya agama Kristen di Kekaisaran Romawi, Triumphal Arch didirikan tahun 1806 sebagai bentuk menghormati jasa para pahlawan selama Revolusi Perancis dan Perang Napoleon di Kota Paris, Bradenburg Gate sebagai gerbang kemenangan di Berlin, Jerman yang dibangun Raja Frederick William II tahun 1788-1791 yang sekarang dijadikan simbol kedamaian dan persatuan Eropa. Di Indonesia tercinta, simbol gerbang juga telah dimulai masa kerajaan Nusantara seperti Majapahit yang membangun Candi Wringinlawang sebagai bentuk peninggalan arsitektur mendunia dan dulunya dijadikan pintu gerbang utama menuju Kerajaan Majapahit.
Dalam konteks kekinian, seperti telah dibangun Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) pada tahun 2014 yang merupakan batas antara Kabupaten Kudus dengan Kabupaten Demak.
Pembangunannya difasilitasi perusahaan rokok terbesar di Indonesia, yaitu PT Nojorono Tobacco dan PT Djarum yang menjadi brand sebagai salah sebagai gerbang termodern dan termegah di Asia Tenggara yang berada di sebelah timur Jembatan Tanggul Angin.
Filosofi gerbang dengan bentuk atau model daun tembakau di atasnya dengan 59 ruas jari-jari memiliki makna tersirat.
Angka 5 sebagai lambang Rukun Islam dan angka 9 memaknai Wali Sanga, sedangkan bagian bawah gerbang yang berbentuk empat tiang cengkeh menopang daun tembakau, sejatinya melambangkan empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Perpaduan Bahan stainless steel dan beton dengan bentuk simetris menjadi simbol kekinian kota industri dan kekokohan religiusitas masyarakat dalam kehidupan yang penuh harmoni.
Pada konteks Kepulauan Bangka Belitung, gerbang perbatasan antar kabupaten kota beberapa telah ada dan sebagian kecilnya telah mengalami perubahan yang mendasar dan mencirikan budaya “Melayu” sebagai branding kemelayuan di dalamnya.
Tentunya gerbang-gerbang batas kabupaten yang ada sebaiknya mulai dilakukan pembenahan gerbang yang menyesuaikan dengan nilai-nilai budaya “melayu” yang melekat di dalamnya seperti: icon Tudung Saji yang sebagai ciri icon budaya Bangka Belitung, dan ornamen-ornamen lain yang diperlukan dan berhubungan dengan budaya Melayu.
Kabupaten/kota yang ada di Bangka Belitung memiliki gerbang-gerbang batas kabupaten/kota yang sekarang belum sepenuhnya tersentuh dengan bercirikan budaya Melayu di dalamnya.
Tentunya hal ini dapat dilakukan pembenahan gerbang yang sudah ada selaman ini bisa menjasi salah satu yang bercirikan budaya Melayu di Bangka Belitung.
Bahkan jika diperlukan tentunya Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dapat menetapkan dalam satu Peraturan/Regulasi Daerah sehingga memiliki satu formalitas atau baku dalam proses pengembangannya.
Peran Pemerintah Provinsi sebagai fungsi koordinasi dengan kabupaten/kota di Bangka Belitung dapat menjadikan provinsi ini sebagai provinsi dengan ciri dan estitika tertentu atau memiliki unsur kemelayuan di dalamnya.
Ini juga bisa menjadi perluasan lebih lanjut bagi batas desa/kelurahan sehingga semakin tampak estika dan identitas di dalamnya. Kita terkadang bingung sudah sampai di wilayah mana kita memasuki kawasan daerah/desa tertentu di Bangka Belitung jika perjalanan dilakukan malam hari.
Apalagi belum didukung sepenuhnya desa-desa tersebut dengan penerangan jalan yang memadai.
Selain itu, di beberapa daerah di Indonesia telah dibangun Kawasan Pendidikan oleh Pemerintah daerah setempat seperti: Pembangunan Kawasan Pendidikan oleh Pemerintah Sumedang di Jatinangor (Perbatasan Bandung-Sumedang) di mana di dalamnya banyak kampus Perguruan Tinggi seperti: UNPAD, STPDN, ITB dan Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN).

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.