CERPEN, TIMELINES.ID — Setelah bermalam-malam berteman dengan ombak di laut Jawa, akhirnya kapal yang kutumpangi akan bersandar pada sebuah dermaga di bawah kaki Bukit Menumbing; tanda bahwa pulau Bangka di depan sana.

Hanya berbekal surat perintah dari pimpinan pusat di Batavia, aku membawa misi kemanusian ke negeri antah berantah yang katanya mengandung mineral penting bagi revolusi industri di Eropa.

Selama perjalanan ini, aku masih ragu. Perihal di mana nanti aku akan bertugas. Keraguan itu terus saja membayangi perjalanan menuju pelosok yang kudengar amatlah jauh.

Bangka, 23 Maret 1836. Tertanggal hari ini, aku sudah dua hari berada di Bangka.

Setelah perjalanan jauh seharian dari Mentok ke utara pulau Bangka melewati hutan belantara; rawa-rawa dan menjadi santapan para serangga yang menunggu sarapan darah segar, akhirnya aku tiba di sebuah rumah kedistrikan pemerintah Belanda di daerah beraroma asin karena berdekatan dengan teluk.

Jalur darat mungkin terdengar seperti “ini akan melelahkan”, tetapi memilih jalur laut pada saat ini juga bukanlah keputusan bijak.

Dari yang kudengar dari pemanduku, para Lanun saat ini menguasai laut yang seharusnya bisa memotong waktu tempuh perjalanan.

Buku harian ini akan ku isi selama aku menjadi relawan di sini, sebuah negeri di sisi timur pulau Andalas.

Tertanggal hari ini, kesibukanku pertama ada berbenah. Menata ulang dan membersihkan rumah tua yang tak jauh dari rumah kedistrikan.

Yang kutahu, sepertinya rumah tua dengan sebatang pohon asem tepat di depan itu merupakan rumah dan bangunan semi tropis ini dikhususkan untuk para tamu-tamu pemerintah.

Baca Juga  Babi Petare

Aku membuka pagar batas dari kayu, lalu menelusuri jalan setapak yang menurun.

Mataku terus saja melihat apa pun yang ada di depan sana, menyadari orang-orang yang terkena wabah sedang berada di dalam rumah dan memilih untuk berdiam diri sambil menunggu bantuan medis dari pemerintah.

Di tengah perjalananku, aku beberapa kali bertemu dengan para relawan yang keluar-masuk dari rumah-rumah orang penting-karena ada plang nama dan jabatan di setiap pintu rumah depan pagar.

Satu hal yang menurutku aneh, di mana para pribumi ketika wabah ini terjadi?

Aku makin penasaran, demi rasa penasaranku ini aku terus berjalan tanpa arah dan tujuan yang tak pasti.

Melupakan sejenak tugasku sebagai relawan untuk orang-orang Barat dan orang-orang Timur disini dan menyerap udara segar pagi hari sedikit berkabut.

Di tengah rasa penasaranku, aku melihat seorang anak kecil-pribumi, duduk lesu dengan tatapan kosong di hadapan sesuatu.

Sialnya, kukira itu hanya bangkai binatang, ternyata itu adalah  bangkai manusia yang ditutupi daun pisang.

Aku terkejut sambil berteriak histeris ketika mengetahui, bangkai manusia itu setengah membusuk.

Sial. Aku tak sempat mengerem kata-kata serapah yang terus keluar dari mulutku.

“Kau?” Suara parau itu membuatku lebih kaget lagi.

Perkampungan ini seperti pemukiman mati. Orang-orang pribumi bergelimpangan di jalanan, para lansia hanya duduk di depan rumahnya dengan tatapan kosong dan lebih menyedihkan lagi adalah suara tangis anak-anak kecil menahan penderitaan.

Baca Juga  Menulis untuk Kehidupan

Aku prihatin, pemandangan ini lebih mengerikan dengan wabah yang kutangani di beberapa wilayah di Bhumi Jawa. Aku tidak tahu, bagaimana masyarakat pribumi bisa melewati wabah ini tanpa perhatian dari pemerintah setempat?

“Apakah tidak ada bantuan kesehatan dari mereka?”.

“Pemerintah Belanda maksudmu?” Perempuan di depanku ini tanpa ragu mengatakan itu, ia begitu tenang mengingatkanku Margaretha-kekasihku di Buitenzorg[1].

“Lebih baik kita mengatakan “Mereka“. Itu lebih aman,…” Sahutku, aku ragu untuk mengatakan itu terang-terangan.

Walaupun statusku disini berada pada kelas atas dan sama seperti mereka. Tapi aku bukan dari golongan mereka.

“Orang-orang seperti kami hanya seonggok daging tanpa harga, yang mereka butuh kan adalah upeti, bukan sekantung obat yang hanya akan membuat mereka merugi…”. Perempuan itu seperti cukup berani.

Aku sedikit kaget walaupun ini bukan pertama kalinya, bagaimana ia terlalu jelas mengatakannya. Bahkan di depannya, ada aku orang kulit putih. Aku mengerutkan dahi.

“Kau tidak takut?”

“Kupikir. Ketakutanku selama ini adalah kami yang selalu tertindas. Nyatanya, kematian saat ini lebih menakutkan…”. Wanita lalu berdiri di depan pintu rumah berdinding bambu, rumah yang sederhana-penuh penderitaan di dalamnya.

Aku tak begitu yakin, apakah semua orang pribumi mengalami penderitaan yang sama? Hati sedikit nyeri mendengarnya. Apalagi setelah melihat kematian tadi pagi, makin membuatku merasa iba.

“Sebaiknya kau segera pulang”. Perempuan membuka pintu untukku kembali, memintaku keluar dari rumahnya ini.

Baca Juga  Kampung Usang

*

Ini adalah hari kesepuluh, aku bekerja sebagai relawan kesehatan di Blinjoe, nama yang beberapa hari lalu baru ku ketahui nama kota kecil ini.

Selama itu pula, aku hanya menangani para pasien dari kelas menengah dan atas, dan ini sudah pasti.

Mereka terus saja berkisah tentang bagaimana mereka bisa hidup dan tinggal disini. Ada yang bercerita karena ini dinas pemerintah pertamanya, mendampingi sang suami atau sampai yang bekerja sebagai mandor penambang timah di parit-parit tambang.

Aku masih belum mengetahui penyebab pastinya wabah ini terjadi.

Beberapa obat-obatan yang sebelumnya dikirim dari Palembang telah datang ke Blinjoe dengan aman, aku segera melakukan perawatan sebagaimana mestinya.

Mereka ramah karena tahu aku dari kelas atas, tapi aku juga tahu mereka melakukan perbedaan perlakukan bagi mereka, pribumi yang berjuang melawan wabah dengan obat-obatan seadanya di luar sana.

Gerimis melanda petang sebelum matahari benar-benar di tempat perantauannya, sayup-sayup udara dingin mulai menembus kulitku yang sensitif.

Aku baru sadar, udara di Bangka sedikit berbeda dengan yang ada di Batavia atau Buitenzorg sekalipun. Panas dan menyengat lalu berubah drastis ketika malam tiba.

Aku membawa tas medis di

balik baju yang sengaja aku lepaskan pengaitnya, kudengar adik perempuan yang kutemui tempo hari terkena wabah misterius ini.

“… Kau?” Matanya melotot ketika aku datang dengan menggunakan daun talas sebagai pelindung kepala dari hujan. Dia kaget melihat kedatanganku tanpa diundang. “… kenapa datang?”.