“Bagaimana keadaan adikmu? Kudengar dia sakit”.

“Dia demam tinggi, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah membawa bejampik[2] ke Tetue Kampong, tapi tidak ada hasilnya”.

Suaranya menurun beriring dengan penjelasan akhir nan penuh kecemasan.

Tanpa menunggu waktu lama, aku mulai mengobati adiknya dengan obat-obatan yang sebelumnya kubawa.

*

Tiga bulan kemudian, wabah belum sepenuhnya hilang dari warga kota kecil ini.

Terlebih lagi, makin banyak korban jiwa akibat wabah yang mengganas.

Para petinggi Belanda dan orang-orang Chin menjadi korban jiwa paling banyak.

Ini menimbulkan pertanyaan bagiku.

Mengusik pikiranku dengan pertanyaan kenapa ini terjadi pada mereka, padahal mereka adalah orang pertama yang mendapatkan penanganan medis terlebih dahulu dibanding para pribumi.

Aku mengernyitkan dahi, mengusap alisku memikirkan jawabannya. Di tengah kebingunganku malam ini, suara tak asing memintaku untuk hadir di ruang tamu.

“Frans…”, sapa pria berjanggut tebal dengan seorang ajudan di sebelahnya. Ya, aku tahu siapa dia. Dialah pemegang kekuasaan di distrik ini.

Aku meminta untuk duduk bersama sembari menatap riuh pepohonan yang tertiup angin malam. Aku tidak tahu, sebenarnya aku menaruh rasa dingin padanya semenjak aku berada di sini.

“Ada yang ingin kutanyakan. Bisa jadi ini juga peringatan”.

Suara berat itu cukup membuatku gugup, kenapa tiba-tiba Tuan Guard-kepala distrik mengajakku berbicara serius. Obrolan kami ditemani lampu damar menyala temaram.

Baca Juga  Sungai yang Menghidupkan

“Aku tahu selama ini kau diam-diam membantu para pribumi dari wabah saat ini…”. Aku hampir saja tersedak dengan teh yang sudah berada di tenggorokanku.

Seketika aku seperti disambar petir, badanku menjadi kaku dan keringat dingin membasahi punggungku, aku mengulum bibir karena bergetar.

Aku bukan takut karena aku ketahuan membantu pribumi diam-diam, tapi hal yang aku takutkan lebih dari itu, yaitu para pribumi yang aku bantu diam-diam selama ini.

Mereka tidak akan tinggal diam mengenai persoalan ini, terlebih para pribumi yang selamat dan bertahan selama aku berada di sini.

“Tuan—”.

“Dr. Frans …”, potongnya.

“Sebenarnya, aku tidak masalah soal kamu membantu para pribumi yang juga terkena wabah. Aku hanya ingin kau jujur padaku, selaku petinggi di distrik ini…”. Aku tidak tahu apa yang sedang Tuan Guard pikirkan malam ini. “… Aku juga berharap, Dr. Frans bisa mencari pemecah dari masalah wabah ini..”.

Tutupnya dari obrolan menegangkan ini. Laki-laki itu berdiri dan menuju pintu.

Apa yang sedang ia pikir? Bahkan aku sebelumnya berpikir bahwa ia juga sama dengan petinggi-petinggi yang lain-korup dan egois.

Nyatanya itu tidak. Sempat berpikir bahwa aku akan segera dipulangkan ke Batavia. Tapi, semua itu salah.

“Aku akan dengan senang hati membantu…”. ucapnya, lalu berjalan bersama ajudan meninggalkanku berdiam diri mencerna perkataannya.

Baca Juga  Buyut

*

Menginjak masa sembilan bulan di pulau Bangka, perlahan wabah mulai bisa ditangani dengan bantuan beberapa tenaga kesehatan dari Palembang dan semangat untuk hidup dari para masyarakat yang terjangkit wabah sekalipun.

Hal yang paling menggembirakan bagiku, sebagai relawan adalah kesembuhan para pasien yang aku tangani. Tentu ini juga berkat bantuan Dayang Musya, perempuan yang membantu ketika di lapangan menangani pribumi dari rumah ke rumah, perempuan yang sebelumnya meragukan diriku sebagai seorang tenaga kesehatan berkulit putih.

“…Frans, Amara sudah sembuh?”, tanyanya kembali tak percaya, wajahnya mengembang bahagia. Binar matanya terang menahan tangis,  memeluk yang berdiri di sebelahnya-aku.

Hatiku terasa tenang dan haru, rasanya campur aduk saat ini. Langkahku sebagai relawan membawa misi kemanusiaan di pulau Bangka memiliki alur yang penuh lika-liku.

Keraguan yang awalnya kini menjadi sebuah kepercayaan bagi mereka. Aku menahan haru, enggan rasanya aku harus berpura-pura aku tidak tersentuh. Sial.

“Tuan Guard! Dr. Frans…”, Ivan-ajudan kepala distrik Blinjoe menghadapku. Aku bergegas berlari menuju rumah asisten.

*

Aku kembali ke Batavia. Setelah setahun yang lalu berjuang bersama masyarakat Bangka untuk menangani wabah dan mengobati mereka yang terjangkit wabah.

Mentok, Blinjoe dan beberapa distrik di pulau Bangka sudah aman dari wabah yang diteliti dari hama tikus yang menginfeksi manusia yang menyebabkan penyakit beri-beri yang menular.

Baca Juga  Gadis Penjual Timun

Setelah beberapa Minggu menetap dan tinggal bersama mereka, aku baru menyadari akan sesuatu dan alasan kenapa wabah ini banyak menelan korban jiwa dari orang-orang Eropa dan orang-orang Chin pada masa itu.

Amara adalah salah satu alasan kenapa aku berhasil menemukan alasan orang-orang pribumi bisa bertahan dari serangan wabah.

Padi Lading, beras merah darat yang mereka tanam di ladang dan parit-parit memberikan semacam antibodi dari makanan yang mereka konsumsi dalam bertahan pada wabah beri-beri yang menyerang selama hampir satu tahun belakangan ini.

Dengan perasaan bangga, aku membawa karung goni padi Lading itu ke Batavia dan memberikan pada Rama-pengasuhku.

Sebelum aku kembali ke Rotterdam mengantarkan abu jenazah tuan Guard pada istrinya.

**

SUDI Setiawan, adalah penulis kelahiran Bangka yang sedang mengenyam pendidikan S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Semangkuk Mi Ayam dan Kenangan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023)

[1] Buitenzorg : Bogor-sekarang

[2] Bejampik : pengobatan tradisional masyarakat Bangka yang dilakukan oleh dukun atau Tetue Kampong.