Karya: Shiela Fiorencia Caroline

CERPEN, TIMELINES.ID — Suara dengung statis mesin terdengar, diikuti sepasang pintu lift baja yang terbuka perlahan.

Kulangkahkan kakiku ke dalam lift yang dinding-dindingnya terbuat dari marmer terbaik.

Aku menekan tombol lantai nomor 5 dan perlahan pintu lift pun tertutup. Bunyi bip pendek terdengar dan kurasakan diriku dibawa naik ke atas oleh lift.

Sembari menunggu, kusempatkan melihat ponselku yang dipenuhi panggilan tak terjawab dari ibuku.

Aku berencana meneleponnya balik jika aku sudah sampai ke dalam apartemenku.

Tepat saat aku tiba di lantai 3, aku kebingungan karena lift tiba-tiba saja berhenti naik.

Pintu di hadapanku juga tak kunjung terbuka. Aku menunggu beberapa saat dan pintu masih juga belum terbuka.

Baca Juga  Nun (9): Tafsir Sukun

Aku memencet tombol angka 5 beberapa kali, namun pintu lift masih tak kunjung terbuka.

Terdengar bunyi listrik korslet yang kasar, tak lama lampu pun padam. Aku mulai merasa tidak nyaman. Adrenalin seketika memenuhi jantungku dan beberapa bulir keringat mulai berjatuhan.

Bernapas….

Ini akan baik-baik saja. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

Jika orang-orang bisa baik-baik saja, maka tidak akan ada bedanya denganku. Yang harus kulakukan hanyalah mengontak petugas keamanan.

Sambil berusaha mengatur napas yang lebih cepat dari biasanya, aku menekan tombol darurat.

Terdengar bunyi statis acak. Harusnya itu membuatku merasa tenang karena mesin sedang menghubungkanku dengan siapa saja yang bisa menolongku.

Baca Juga  Ibu dan Sapu Lidi

Namun, suara-suara acak tersebut justru membuatku semakin panik. Kurasakan jantungku mulai berdebar kencang.

Atur napasmu….

Tak lama suara berat seorang pria terdengar, “Mohon maaf kepada pengguna lift. Lift tiba-tiba mengalami malfungsi sehingga menyebabkan pengguna lift terjebak di lantai 3. Ada berapa banyak orang di dalam lift?”

“Ha– hanya ada… aku. Aku– aku sendiri. Ku– kumohon… selamatkan aku!”

“Baiklah, nona. Jangan panik dan tetaplah tenang. Kami akan segera memperbaiki kerusakan dan mengeluarkan anda dari dalam sana.”

Aku tak lagi menjawab karena kudengar suara klik pertanda mikrofon telah dimatikan.

Dia menyuruhku tetap tenang, namun yang kurasakan sekarang adalah ketakutan yang sangat mendalam.

Baca Juga  Di Ujung Senjamu

Bulir keringat dingin sebesar biji jagung terus-menerus mengalir dari pelipisku.

Debaran jantungku semakin keras dan tidak teratur. Kurasakan kakiku yang lemas dan aku mulai bertumpu pada dinding dengan tangan kananku.

Tetap bernapas….

Wushh….!

Lift tiba-tiba saja jatuh dengan keras dan cepat. Ketakutan memenuhi seluruh jiwaku yang sekarat.

Gravitasi mendorongku hingga jatuh berjongkok. Pinggang dan betis terasa kram seketika. Lidahku terasa kelu sehingga berteriak pun tidak mampu.

Kepalaku mendadak sakit luar biasa dan aku melihat dunia seolah sedang berputar.