Karya: Sudi Setiawan 

“Aku akan segera pulang. Batara,” ucapnya bernada sendu menggetarkan isi hatiku.

Matanya yang kecil itu berbinar terang, senyum melengkung dalam begitu manis dipandang-hatiku teduh melihatnya.

Aku menatapnya dalam, sangat dalam. Kekasih yang kutemui di Kalapa[1], 1367 Saka pada musim Grisma[2] melanda pesisir utara Bhumi Jawa, semuanya masih sangat jelas-pertemuan singkat di pelabuhan kecil itu.

“Aku akan datang mengunjungi rumahmu, negeri yang antah berantah. Bersabarlah, setelah angin musim barat berembus. Aku akan datang meminangmu,” menggenggam tangannya yang begitu hangat, enggan melepasnya, menyentuh rambutnya halus yang jatuh diterpa angin laut; pelan.

“Aku akan menantimu. Bersabar dengan segalanya,” Fatmah, melepaskan kecupan singkat di bibir tipisku yang terasa dingin sebelumnya.

Kecupan hangat itu melelehkan sesuatu yang ada di dalam diriku, lembut dan menenangkan perasaanku yang sedari tadi berkecamuk menolak takdir yang sebentar lagi memisahkan kami berdua dengan jarak. Tak ingin segera usai, aku terus menautkan pergulatan bibir kami berdua, memejamkan mataku mengikuti permainan manis ini.

*

Hari ini terasa terik begitu menyengat-terasa terbakar sampai ke pori-pori, dahaga terus melanda kerongkonganku. Musim Grisma² akhirnya tiba di tahun ganjil ini.

Sial, rasanya aku ingin menceburkan diri ke laut saja, lalu meminum air asin itu memenuhi perutku, berharap dahaga ini segera berhenti.

Ah, tapi itu pikiran gila! Aku terus mengipasi diriku dengan daun lontar kering yang ku ikat di batang bambu, berharap rasa kepanasan ini segera hilang melalui benda aneh itu.

“…. ada bunga dengan wangi manis?” suara lembut itu tiba-tiba menghipnotisku, aku langsung diam, menutup mulut yang sedari tadi mengoceh tak jelas. Pelan, aku mencari dari mana sumber suara itu datang begitu menyentuh hatiku.

Baca Juga  Puisi

Dan dia berada di depan mataku, kedua mata kami saling bertautan, entah kenapa ketika kedua mata kami saling bertautan seperti ada ledakan berwarna.

Aku tidak tahu, entah ini tatapan karena terpesona karena kecantikannya atau mesum sekalipun, aku sudah tidak bisa mengendalikannya.

Wanita itu mengenakan baju putih panjang menjuntai ke bawah, bibirnya merah muda seperti buah beri, kulitnya kuning langsat, sedang menatapku-menunggu jawaban atas pertanyaannya.

Aku berdehem, takut dicap cabul karena menatapnya terlalu lama.

Bagaimana tidak, gerak-gerikku bahkan sudah mencurigakan. Sial, kenapa aku malah seperti maling yang tertangkap basah! Apalagi di siang hari di tengah-tengah pasar.

Berusaha kembali seperti awal, aku bertanya tentang barang apa yang sedang ia cari.  “Cengkeh yang kau maksud?” tanyaku, memastikan bahwa itu barangnya.

Aku bisa menebaknya, rempah-rempah adalah barang yang orang asing cari, mereka menyebutnya rempah-rempah yang harum dari nusantara.

Seperti dirinya, wanita itu mengangguk pelan, pertanda perkataan ku benar.

Sebagai penjual rempah, aku melayani wanita asing ini sebagaimana para pembeli lainnya yang datang dengan rasa penasaran, bertanya akan kebutuhan apa saja yang dia inginkan untuk dimuat ke dalam kapalnya.

Dia bersama para dayang-dayangnya, menemaninya sejak turun kapal layar besar yang bersandar di ujung dermaga.

Sepertinya, wanita ini bukan pedagang seperti orang-orang yang berasal dari India atau Arab, melainkan orang yang terpelajar, maksudku dia seperti orang-orang dari kasta ksatria dari negeri timur.

Aku pura-pura penasaran tentang apa saja yang ia butuhkan, sembari sesekali mencuri mata kepadanya. Dengan sedikit keberanian, aku memperkenalkan siapa diriku kepadanya.

“Aku Batara. Penjual rempah-rempah dari Bhumi Jawa. Jika ingin memesan atau ada sesuatu yang engkau butuhkan, jangan sungkan bertanya dan memintaku kapan saja…”, senyum menggurat pipiku yang kusam; karena sering diterpa panas.

Baca Juga  Rumah Tingkat Tengah Kota

Dia hanya mengulum bibir ke dalam, “… aku Fatmah, dari Negeri Campa yang tertarik dengan rempah-rempah. Di negeriku, rempah-rempah ini sangat berharga, hingga aku datang ke negeri seberang ini karena penasaran tentangnya…” jawab dirinya mengenalkan dirinya, sesekali memilah cengkeh yang sudah dikeringkan.

“Cengkeh, pala, lada… bagi kami adalah tanaman surga. Kami menanamnya, lalu memanen dan menjualnya. Cita rasa yang khas memikat para pedagang asing untuk membelinya.

Dan penghasilan diriku selama ini berasal dari rempah-rempah ini,” aku menunjukkan lebih banyak rempah-rempah yang berharum manis kepadanya, Fatmah tampak tertarik dengan apa yang kutunjukkan.

“Terima kasih, aku akan memesan dua karung berisi rempah-rempah ini,” menunjukkan cengkeh kering, lada putih yang berbau tajam dan buah pala yang sudah dikemas di dalam besek bambu.

Mendengarnya, aku seperti sedang disambar petir, akhirnya daganganku yang sudah seminggu ini sepi akhirnya terjual.

Satu lagi, yang membelinya membuatku sedikit gugup ketika melayaninya sebagai penjual rendahan.

“Bisakah kamu memberiku lebih banyak pengetahuan tentang rempah-rempah ini?” ucapnya tanpa ragu, membuat hatiku langsung berdetak kencang.

Entah kenapa, perasaanku begitu menggelora ketika ia menanyakan tentang keingintahuannya kepadaku, rasanya aku ingin langsung menjawab “iya, dengan senang hati“, namun sebagai lelaki aku sedikit berjual mahal seperti daganganku, “… kau bisa datang ke rumahku, aku akan mengenalkan lebih banyak rempah-rempah kepadamu…”.

Padahal akhirnya kami lebih sering bertemu di rumah Kebaya milikku dan menemaninya beberapa hari ke depan sampai bergantian musim berlalu.

Baca Juga  Setangkup Prahara Berbalut Kemelut

*

Enam bulan telah berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin kita berjumpa sebagai seorang penjual dan pembeli di pasar, masih bertanya tentang rempah-rempah, menawar harga dan kesepakatan sembari menunggu musim Warsa[3] yang akan segera datang. Tetapi sekarang, hubungan kami bukan hanya sekadar tentang itu-hubungan lebih dalam terjalin hari demi hari.

Aku selalu menemuinya diam-diam, bersembunyi dari para dayang-dayang yang terus mengikuti ke mana saja Fatmah pergi, hingga di suatu kesempatan aku bertemunya di lorong sempit menuju bagan ikan dekat dermaga.

Tempat kecil ini menjadi tempat kita saling mengenal satu sama lain. Aku sadar, jatuh cinta kepadanya sama seperti masuk ke dalam perangkap, kisah yang tidak semudah seperti buku-buku yang menjelaskan berhubungan badan antara laki-laki dan perempuan.

Kami berusaha mengenal satu sama lain, mencoba memahami  dalam hubungan yang singkat ini, saling jatuh hati.

Aku mulai paham akan sesuatu, selain perbedaan yang mencolok di antara kita berdua, nyatanya dia adalah seorang muslim yang taat.

Sedang aku? Seorang penganut Sang Hyang Widhi yang Esa.

Perbedaan ini membuatku makin ragu akan keputusan yang akan ku ambil, dan lagi, perbedaan kasta di antara kami semakin memberatkan hubungan ini.

Hubungan sembunyi-sembunyi ini semakin mengkhawatirkan dirinya.

“Aku hanya seorang pribumi dari kasta Waisya…”, memulai obrolan malam ini di ruang tamu, rumah Kebaya yang nyentrik berdinding kayu jati, tanduk rusa ku pajang, beberapa guci yang ku beli dari pedagang asal Dinasti Yuan.

Rumahku, tempat kami berdua bertemu secara terang-terangan, di sini para dayang ikut menemaninya karena berpikir kami sedang berbincang perihal rempah-rempah seperti biasanya.