Karya Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

BOOM!

Suara ledakan disertai kilatan cahaya blitz menusuk mata tampak dari balik jendela yang retak akibat ledakan. Telingaku berdenging kuat saat benda peledak itu jatuh tak jauh dari rumahku.

Itu hanya ledakan pertama, masih ada yang lain.

Setelah berjongkok saat ledakan pertama, aku bangkit perlahan untuk menuju ayah sedang duduk dengan tangan yang dilipat.

Langkahku kikuk dan agak tergopoh-gopoh.

Aku memandang ayah, raut wajahnya tenang dan dalam, berbeda dengan matanya yang menyiratkan ketakutan.

Dua buah kursi ditaruh berhadap-hadapan di balik meja kayu bundar, ayah duduk di salah satu kursi. Dia selalu menungguku dengan sabar karena dia ingin selalu bersamaku, begitu juga aku.

Baca Juga  Dear Fairy: Tatiana

Aku menaruh papan catur di atas meja bundar. Aku memainkan pion putih, sedangkan ayah memainkan pion hitam.

Lima detik awal kami hanya saling tatap tanpa berbicara atau melakukan sesuatu.

Hingga ayah memulai dengan bidak catur pertamanya, dia mulai dengan bagus seperti biasanya. Aku melanjutkan jalanku dengan bidak catur juga.

Segalanya tenang dan menghanyutkan, aku bahkan hampir lupa bahwa kami berada di antara peperangan yang sedang berkobar.

Wajah ayah sangat serius saat bermain, alisnya berkerut tajam membuat kerutannya semakin dalam. Kerutan wajahnya mengingatkanku betapa tuanya ayah sekarang.

Dia harusnya bermain dengan tenang di antara pohon-pohon hijau di sekitarnya dan angin sepoi-sepoi yang menghangatkan hati. Bukannya suasana mencekam akibat perang yang tak ada henti-hentinya.

Baca Juga  Nganggung: Tradisi Budaya, Sumber Nilai dan Identitas Pulau Bangka (Selesai)

Ini mengerikan, sangat menakutkan bagi mereka yang berjiwa lemah. Namun, ayahku bukan jiwa yang lemah. Dia jiwa yang paling kuat yang pernah kutemui.

Bahkan di saat-saat seperti ini pun dia masih membawa kehangatan di hatiku, seolah sedang menenangkanku.

Antara horor dan tenang, aku merasa bahagia sekarang. Suasana tetap seperti itu sampai ledakan kedua kembali terdengar.

BOOM!

Ledakan kedua lebih besar dan intens, sampai-sampai tanah yang kami duduki bergoyang. Kulihat beberapa pion yang bergoyang tak tentu arah, namun ajaibnya tidak terjatuh.

Kaca jendela sudah pecah menjadi keping-keping kecil yang tajam.

Kulihat beberapa bagian tembok yang retak. Kilatan blitz lebih tajam dan suaranya lebih memekakkan telinga. Pandanganku sempat buram dan kepalaku sakit seolah beban besar sedang dilimpahkan di atas kepalaku.

Baca Juga  Arah Samudera

Ketakutan kembali menjalar di dalam diriku. Namun, begitu aku melihat wajah tenang ayahku yang sedang menyusun pion, ketakutan itu sirna seketika.

Tanpa mempedulikan tanah yang sempat bergetar dan ubin yang retak, aku melanjutkan permainan bersama ayah.

Ibu mungkin akan meneriaki kami jika dia melihat kami seperti ini. Jika ayah adalah pria bijak yang tenang, maka ibu adalah kebalikannya.

Cenderung berisik dan mudah panik. Dia mungkin mendesak kami keluar rumah untuk mencari perlindungan atau menuju ke tempat yang jauh lebih aman.