Menyegarkan Kembali Makna Intelektual dalam Ranah Kampus
Oleh: Akhmad Hasyim Fikri
“Inilah peran seorang intelektual sejati yang ada di dalam sebuah kampus sebenarnya. Kampus seharusnya menjadi rumah produksi intelektual-intelektual yang membawa kepada keadilan dan keseimbangan sosial masyarakat yang termarjinalkan. Bukan malah sebaliknya tunduk dan patuh kepada penguasa atau pemilik kebijakan dan kaum elit yang tidak bertanggung jawab. ”
Jikalau kita membicarakan kampus, tentu semua orang atau kalangan sudah pasti tidak asing mendengar kata itu. Seseorang yang melanjutkan studi di perguruan tinggi adalah para mahasiswa atau mahasiswi, baik yang mengikuti jenjang D-III,D-IV,SI,S2 dan S3.
Kemudian tempat mereka menimba ilmu, memproses diri dan mengikuti jenjang tersebut setiap harinya, itulah yang disebut kampus.
Menurut penulis setiap tempat yang selalu membicarakan dan mengajarkan ilmu pengetahuan baik teori maupun terapan dan juga etika, bisa kita sebut sebagai kampus.
Sederhananya dalam pandangan penulis dua orang yang sedang berdialektika di warung kopi kemudian mereka membicarakan ilmu pengetahuan dan kemudian warung kopi tersebut berhak mencapai definisi dari kata ”Kampus” yang disampaikan di atas.
Karena dalam perspektif historisnya seorang filsuf Plato tahun 385 sebelum masehi adalah orang pertama yang mendirikan kampus pada masa itu.
Kemudian kampus ini, Plato beri nama dengan istilah “Akademi”.
Istilah Akademi dalam ranah sekarang populer orang menyebutnya dengan “Akademik”.
Dalam KBBI kata akademik bermakna akademis, kemudian bersifat ilmiah, ilmu pengetahuan, baik itu teoritis maupun praktis.
Sudah penulis sampaikan di muka, bahwa komponen yang berada di dalam arena kampus adalah orang-orang yang dekat dengan ilmu pengetahuan, baik teori maupun terapan.
Tentu orang-orang ini pantas kita sebut sebagai orang-orang cerdas, berakal, berpikir jernih dan lebih banyak lagi.
Berbicara tentang orang-orang cerdas, berakal, dan berpikir jernih secara makna yang lebih tinggi dan universal ini lah yang biasa disebut dengan intelektual/cendekiawan.
Harus kita akui bahwa, bersyukurlah orang-orang yang ada di dalam kampus dan menjadi bagian di dalamnya.
Begitulah kira-kira seseorang teman yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi berkata kepada temannya yang melanjutkan ke perguruan tinggi dalam satu pertemuan di warung kopi.
Dalam teori perubahaan sosial, yaitu teori piramida. Keberadaan kaum intelektual sangat dibutuhkan dalam mencapai masyarakat ideal.
Di samping dibutuhkan, kaum intelektual juga memiliki peran strategis dalam menciptakan keseimbangan sosial antara pemegang kebijakan dalam hal ini pemerintah, kemudian dengan masyarakat umum dalam hal ini seperti petani, nelayan, buruh dan kaum proletar yang lainnya.
Seorang intelektual memiliki tanggung jawab besar di dalam sebuah kemajuan peradaban umat manusia.
Dan ini sudah teruji di dalam fakta sejarah yang ada dunia ini.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.