Oleh Dedy Irawan

“Kita tak akan mampu menyamakan infrastruktur pendidikan dengan sekolah di Pulau Jawa, tetapi melalui gerakan literasi, kita akan mampu bersejajar dengan daerah di mana saja”. Rusmin Sopian, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Bangka Selatan.

Persis Jumat (16/12/2022) lalu kami (PWI Basel) menyelesaikan tugas rutin workshop literasi jurnalistik pelajar Bangka Selatan.

Ya, sejak awal tahun 2022, kami memang cukup gencar menggelar kegiatan tersebut baik di Rumah Literasi, Sekretariat PWI Basel maupun di beberapa kecamatan di Basel.

Awalnya, PWI Basel hanya ingin membuka akses komunikasi antara media dan sekolah. Silakan civitas sekolah menarasikan kegiatan sekolahnya seperti prestasi sekolah, siswa dan lainnya kepada media. Sekolah tak bakal dipungut bayaran alias gratis

Bagaimana caranya? Ya dengan pelatihan penulisan berita yang kami berikan kepada siswa. Nantinya siswa yang akan mengirimkan tulisan tentang kegiatan sekolahnya kepada kami.

Kegiatan apa saja. Tentu, atas bimbingan guru. Alhamdulillah, misi ini cukup berhasil. Sekolah-sekolah yang kami datangi hingga kini masih rutin mengirimkan rilis berita kegiatan sekolahnya.

Baca Juga  Fintech Start-up di Bangka Belitung: Momentum Menumbuhkan Inovasi Keuangan dari Daerah

Saya pun kadang kewalahan menerima rilis berita yang cukup banyak. Ada juga sekolah yang boleh dibilang putus hubungan komunikasi pemberitaan. Entah apa penyebabnya. Di beberapa sesi kegiatan, kami mencoba menawarkan materi baru.

PWI melibatkan para penulis senior seperti Rusmin Sopian dan penulis muda Dian Chandra dengan suguhan karya sastranya. Responnya luar biasa. Ternyata pelajar Basel cukup berbakat berkarya sastra seperti menulis cerpen, puisi dan pantun.

Tiga hari setelah workshop literasi jurnalistik di Kecamatan Airgegas beberapa bulan lalu. Salah satu peserta mengirimkan pesan WA. “Kak, saya mau ngirim cerpen, bisa diterima gak?” ujarnya.

Saya dengan tegas menjawab iya. Karena misi PWI Basel yang kedua adalah untuk menggali potensi pelajar Basel yang berbakat menulis. Impian Syarifah, begitu judul cerpen pertama karya siswi Khoiriah Apriza, Kelas XI SMAN 1 Airgegas tersebut.

Baca Juga  Calon Imamku?

Membaca sekilas, saya kaget. Sebab siswi kelas 2 SMA itu sudah bisa menulis cerpen yang baik. Cerpen ini langsung saya teruskan ke penulis senior Basel Rusmin Sopian. Maklum, penulis pun juga belum berpengalaman dengan karya sastra seperti ini.

Kereeen. Begitu jawaban WA Rusmin ketika pertama kali membaca tulisannya. Siswi ini sangat produktif. Cerpen kedua dan ketiga hanya rentang waktu sepekan atau dua pekan saja. Karya Khoiriah langsung disambut positif oleh Rusmin yang juga mantan jurnalis ini.

“Kualitas menulisnya keren untuk sekelas penulis muda anak SMA Kelas 2. Kalau cerpen siswi ini ada sepuluh maka bisa kita bukukan. Kita ada anggarannya,” kata Rusmin melalui pesan WA.

Sekali lagi Alhamdulillah. Misi kedua kami untuk menggali potensi pelajar berbakat menulis berhasil. Bahkan disambut positif oleh GPMB dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Basel dengan menyiapkan anggaran pencetakan buku bagi siapa saja yang berkarya.

Baca Juga  Aku Ingin Menjadi Polwan

Kesepuluh naskah cerpen sudah dikirim ke penerbit dan saat ini sedang dalam proses editing dan lainnya. Sebenarnya, PWI Basel pun saat ini sedang mengumpulkan tulisan-tulisan opini para wartawan yang rencananya akan dibukukan. Tapi entah kapan selesainya.

Tingkat Literasi Indonesia sangat Memprihatinkan

Survei Program For International Student Assesment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2019, Indonesia berada di urutan ke-62 dari 70 negara di dunia.

Indeks literasi sangat dipengaruhi rendahnya minat baca tulis. Era digital memang menggiring manusia untuk serba instan. Minat baca tulis jauh menurun drastis.

Telah terjadi pergeseran perilaku minat baca dari manual ke digital. Parahnya lagi, saat ini indeks literasi rendah namun tingkat update status dan komen meningkat.

Penulis berpikir, dengan menulis akan memaksa kita membaca. Sehingga pada setiap kegiatan workshop maupun kelas literasi, PWI selalu meluangkan sesi praktik wawancara dan menulis.