Karya: Nurul Jannah Gustina

“Apa kau tidak memikirkan anakmu? Apa yang kau lakukan?”

“Siapa yang tidak memikirkan siapa? Aku telah bekerja banting tulang hanya untuk dia!”

“Lalu mana hasilnya? Sora akan lulus SMP sebentar lagi, mana uang untuk melanjutkannya ke SMA? Oh tidak, jangankan untuk SMA, bahkan untuk biaya kelulusannya pun kau tak ada!”

“Nanti pasti ada! Jikapun tidak, kau harus berusaha untuk anakmu! Kalau kau tidak mau ya Sora tidak usah sekolah saja! Biarlah dia membantuku di kebun! Lagipula Sora masih kelas 8, masih lama!”

“Itulah yang kau katakan saat menjelang kelulusan SD kemarin! Ujung-ujungnya aku juga yang membayar segala biayanya. Dasar pria tak bertanggung jawab! Itu anakmu. Anak kandungmu! Aku sudah membesarkan dan membiayai kakaknya seorang diri! Kali ini kau yang harus mengurusnya. Aku tidak peduli lagi.”

Langkahku terhenti, netraku terpaku, longgar tak fokus. Hatiku tertujam besi. Otakku sibuk mengulang semua yang kudengar sore ini.

Tidak usah sekolah?

Membantu di kebun?

Tidak!

Jikapun se-tidak mampu dan se-tidak ingin itu mereka meneruskan aku ke jenjang SMA. Maka aku sendiri yang harus melanjutkannya. Jikapun memang takdirku tak bisa melanjutkan ke jenjang SMA, aku tak perduli. Aku hanya ingin melanjutkan pendidikanku sampai aku menggapai cita-citaku.

Sampai kami tak melulu diremehkan lagi. Sampai Ibu tidak disuruh-suruh lagi saat pulang ke rumah nyai—kecuali nyai dan saudara tuanya—tetap di dapur sedangkan menantu lain yang jelas lebih muda jalan-jalan tanpa beban ketika pulang ke rumah nenek. Lalu dengan seenaknya mereka saja menyuruh ibuku seperti pembantu.

Aku muak. Aku sudah muak akan cairan bening yang terus mengalir di pipi. Cairan bening itu sangat tak berguna. Itu tak memperbaiki apapun. Aku harus mencari beasiswa. Yang terpenting, aku harus menjaga nilaiku agar setidaknya tidak turun.

Walau hanya peringkat 7 di kelas, aku bertekat untuk masuk 3 besar. Bodo amat dengan label SMP ku yang terkenal akan kepintaran siswanya.

Ternyata seperti ini, ya. Rasanya bergantung dengan orang lain—walaupun orangtua—sangat tidak nyaman. Ingin minta uang untuk fotocopy tugaspun lidahku terasa kelu. Aku sangat tidak suka, benci rasanya aku masih se-bergantung dan se-menyusahkan diriku pada orang tua.

Entah bagaimana, sudah syukur rasanya aku diberi tempat tinggal dan diberi makan. Sekolah adalah kemewahan bagiku. Apalagi uang jajan. Kalau orang Jepang bilang, Muri.

Baca Juga  Bukan Aku

Esoknya, seisi kelas sibuk membicarakan SMA impan mereka, jurusannya, atau jalur mana mreka masuk. Aku hanya diam, bingung. Asing bagiku jenjang SMA atau SMK. Apalagi jurusannya yang banyak macamnya.

“Kau nanti lanjut ke mana Mon?” tanya Zari, dia duduk di sebelah orang yang duduk di belakangku.

“Nanti ke SMK, aku mau langsung kerja sambil kuliah. Kalau SMA susah.” Jawab Raymond, teman sebangku ku.

“Itu susah pula masuk kuliahnya.” Jawab Ken, dia duduk di belakangku.

“Bisa lah sekarang, sudah dipermudah loh. Eh kau mau lanjut di mana nanti, Ra?” Raymod malah balas bertanya padaku, aku terdiam. Aku harus jawab apa?

“Untuk sekarang belum tahu sih.” Jawabku, ambil aman saja.

“Kau belum tahu lanjut ke mana atau belum tahu tentang sekolah-sekolahnya?” tanya Kenzi menatapku curiga.

“E-eh. Eheheheh. Yang ke 2.” Jawabku mengkaui, tak apalah jika sekedar ditertawakan karena tak update tentang sekolah-sekolah lanjutan.

“Hah! Yang benar saja, kita sudah kelas 8 dan kau sama sekali belum tahu apa-apa tentang SMA? Apalagi kuliah? Wah gawat.” Kata Zari, syok mengetahui ketidaktahuanku.

Akhirnya, aku bercerita tentang kondisiku yang membutuhkan beasiswa, sedangkan jangkauan informasiku begitu minim. Aku juga bukan anak populer atau gemar bersosialisasi—kecuali bermacam-macam ekstrakurikuler yang kuikuti setiap hari—yang banyak mengenal atau banyak memiliki kenalan yang bisa memberikan informasi berguna perihal beasiswa.

Canggung juga bagiku tiba-tiba bertanya kepada orang-orang dengan sok akrabnya tentang beasiswa. Melihat tatapan mereka yang seperti risih melihatku mendekat, melihatnyapun aku sudah malas bertanya. Takut menjadi masalah. Lagi pula, sesuai cap nya, SMP tempatku belajar adalah sekolah yang cukup populer. Maka jika populer, walaupun negri, rata-rata perekonomian muridnya tak ada masalah.

Mereka bertiga ialah orang-orang yang mungkin agak baik padaku di kelas penuh persaingan terselubung ini. Ditipu dan dan dikhianati sudah menjadi makanan sehari-hari di kelas ini. Tak ada yang bisa dipercaya. Tak ada yang bisa diajak kerjasama. Hanya Zari, Kenzi, dan Raymond yang setidaknya masih menjawab pertanyaanku.

Syukurlah, mereka bersedia berbagi informasi beasiswa denganku, walau informasi mereka juga terbatas mengenai beasiswa—karena mereka memang tidak mengejarnya—tapi tak apa. Mereka juga memberi tahuku agar lebih baik membuat tujuan cadangan, agar jika tak kunjung muncul beasiswa saat lulus nanti, maka aku bisa masuk SMA atau SMK lain yang sesuai passion-ku.

Baca Juga  Ikhlaskan Segalanya

Mengingat kembali pertengkaran orangtuaku yang hanya seputar tanggung jawab dan kekurangan uang, aku berfikir lebih baik jika aku bisa menghasilkan uang sendiri.

Maka jalan tercepatnya ialah sekolah di SMK. Walau biayanya agak besar dibanding SMA, tetapi setelah 3 tahun lagi aku membebani orangtuaku.

Aku bisa setidaknya bekerja unutk diriku sendiri, kemudian nanti rencananya aku akan membuka bisnis kecil-kecilan. Kukesampingkan sebentar cita-citaku yang ingin menjadi dokter itu. Karena aku tak bisa egois memikirkan cita-citaku saja, tapi juga kesulitan keluarga.

Sulitnya, ketika kelas 9, pelajaran semakin susah. Namun terlalu longgar jam belajar. Dikarenakan belajar di rumah, kembali mempersulit orangtuaku karena harus membeli paket internet.

Aku pun lelah rasanya. Sekolah adalah satu-satunya tempat yang bisa menjadi tempat untukku melarikan dari dari istana dingin ini—walaupun tak punya teman selain buku pelajaran. Malah sekarang, setiap hari aku di rumah. Memperburuk suasana. Apapun yang kulakukan rasanya salah.

Pengeluaran untuk sekolah ku pun makin meningkat, harus bolak-balik ke fotocopy untuk print tugas. Kemudian tiap senin mengantarkannya ke sekolah. Guru-guru sama sekali tak memikirkan berapa uang yang harus dihabiskan hanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang mereka berikan. Padahal, hanya sekali lihat tugas-tugas itu akan berakhir di tempat sampah. Miris.

Menjelang kelulusan. Ulangan sudah dilakukan, berbagai promosi sekolah menengah atas dibagikan di grup chat. Aku menilik satu-persatu. Mencari kata “beasiswa”.

Aku sangat cemas. Walau wajahku datar—rasanya otot pipiku sudah karatan, aku sangat-sangat cemas. Aku sebisa mungkin mencari informasi beasiswa yang sulit disaring. Hampir nihil.

“Sora, kau akan melanjutkan sekolahmu di mana?” tanya Ibuku kala kami sarapan bersama.

“Belum tahu Bu. Aku sedang memburu beasiwa.” Kataku, aku malas sekali rasanya mendiskusikan hal ini.

Mendengar jawabanku Ibu hanya mengangguk-angguk. Besoknya kami ke rumah sepupuku, tidak terlalu jauh tempatnya. Sampai di sana, Bibiku bertanya pertanyaan yang sama.

“Sora, kau akan melanjutkan sekolahmu ke mana? Jangan bilang sampai sekarang kau tidak tahu apa yang ingin kau lakukan. Setidaknya, kau harus tahu ke sekolah mana.” Tanyanya dengan sedikit penekanan.

“Ya, mau bagaimana lagi Bi, aku terserah Ibu dan Ayah saja. Rencananya sih masuk SMK 1 saja kalau tidak dapat beasiswa.” Ujarku lemah, semakin malas meladeni pertanyaan yang ujung-ujungnya….

“Kalau masuk SMK susah akan lanjut ke kuliah, lebih baik kau ke SMA saja. Lagipula SMK itu mahal biayanya. Belum lagi almamater dan biaya praktiknya. Ayo beritahu Bibi dan Ibumu, SMA mana yang kamu minati, cepatlah sebelum pendaftarannya tutup.”

Baca Juga  Ada Kisah Tersimpan di Bulan Ramadan

Aku kesal, lagi dan lagi akan kembali siklus seprti ini. Siklus yang sama persis saat aku masuk SMP. Jika aku berpendapat, akan selau ditolak dengan berbagai macam alasan hingga secara terpaksa aku memilih sekolah pilihan mereka. Apapun pilihanku, keputusanku, akhirnya merekalah yang akan memutuskan.

Maka sisa-sia saja energi dan hatiku untuk memilih, karena akhirnya akan selalu menyakitkan. Aku muak wajah yang seakan tahu segala hal tentangku. Tentang masa depanku. Dan wajah yang selalu tampak akan menerima keputusanku padahal diam-diam dengan giringan kata-katanya akan selalu membimbingku ke pilihannya, bukan pilihanku.

“Kau dengar tidak kalau orangtua berbicara, Sora? Jangan nanti setelah akan tutup pendaftaran kau baru memutuskan. Menyusahkan orangtua saja.” Kata Bibiku.

“Terserah Ibu saja Bi. Aku menerima segala keputusan Ibu.” Aku kembali menjawab dengan keputusan yang sama.

Bibiku memandang ibuku. Sepertinya menyerah menanyaiku. Kulihat Ibuku mengernyitkan dahi, sebentar lagi akan menjawab. Mulai lagi, pikirku.

“Kenapa Ibu yang memutuskan? Bukankah kau yang sekolah? Nanti kau tak mau sekolah dengan alasan Ibu yang pilih dan tak cocok, tak sesuai dengan kesukaanmu.” Tanya ibuku.

Aku benar-benar lelah mental. Cukup sudah. Biar mereka tahu pikiran dan perasaanku. Jikapun tersakiti, mereka sendiri yang menekanku sampai ke titik ini.

“Percuma saja Ibu bertanya tentang sekolah impianku kalau akhirnya Ibu yang menentukan nanti. Toh aku juga tidak bisa menolak. Jika kujawab sekolah ini, Ibu dan Bibi akan bilang jangan ini, jangan itu.

Lalu aku harus apa? Percuma menghabiskan energi mencari tahu  dan memilih jika akhirnya orangtua yang memilihkan dan mendaftarkan. Lebih baik sedari awal saja ditentukan oleh kalian. Ingin sekolah di tempat impian saja rasanya susah sekali.” Ujarku membungkam kedua wanita paruh baya itu.

Aku membuang pandanganku ke layar handphone, menenggelamkan air mata yang menggenang ke dalam pelupuk mata agar tak kembali jatuh. Jangan lagi. Sakit rasanya melihat Ibu terkejut akan perkataanku, tapi aku akan semakin sakit jika mereka tak tahu semua ini.

“Ibu tidak pernah menghalangimu menuju sekolah impianmu, Sora.” Kata Ibuku setelah terdiam cukup lama.