Karya: Maria Saraeng Putri

“Selamat ulang tahun putri kecil ibu.”

Sinar yang mulai menanjak dari timur, yang membangunkan seorang gadis, disambut dengan ucapan riang dari sang ibu.

Dengan tergesa dirinya bangun dari atas kasur. Baru teringat hari ini ada janji dengan kedua orang tuanya pergi ke pasar bersama.

“Bu, hari ini kita jadikan ke pasar, bareng-bareng?” tanya gadis remaja itu.

Suaranya terdengar sangat antusias dengan mata berbinar memandang ibu dan bapaknya.

“Iya. Itu udah pasti jadi.”

Suara hiruk pikuk para ayam yang baru saja di lempari beras sebagai makanannya, mengundang rasa penasaran gadis remaja yang baru saja mengobrol dengan ibunya.

Dari depan teras, pria paruh baya, membawa kaleng bekas susu yang sudah tak berisi langkah pastinya menghampiri kedua wanita yang dicintai.

“Selamat ulang tahun putri kecil bapak,” ucapnya, sambil menghisap pelan kepala yang di bungkus hijab hitam kusut, bentuk sayang untuk putri kecilnya.

“Terima kasih Bapak, Ibu. Rika sayang banget sama kalian,” ucap si gadis sambil memeluk kedua orang tuanya.

“Sekarang Ibu dan Rika segera bersiap. Kita akan pergi ke pasar. Bapak tunggu di depan. Sambil manasin motor,” ujara Bapak.

Baca Juga  Jeruk Serbaguna

Ibu dan Rika segera masuk ke kamar dan bersiap diri.

Sepanjang perjalanan menuju ke pasar Rika tak henti-hentinya berceloteh ria.

Menyebutkan makanan yang harus dimasak oleh ibu, beserta bahan apa saja yang perlu ibu beli nantinya, bercerita tentang sekolah dan perasaannya sejak bangun dari tidur pagi tadi.

Hari ini adalah hari spesial, hari di mana usianya menginjak angka 15. Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, saat ulang tahun mereka wajib sekeluarga pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan sekaligus membuat kue ulang tahun untuk Rika.

Terlalu asik bercerita sambil bercanda gurau. Tak sadar, dari arah berlawanan, sebuah truk dengan laju kencang tak terkendali mendekati posisi mereka. “Bapak Awas, Ibu, Bapak…..” teriak Rika.

Mimpi itu…

Dengan napas tersenggal Rika mengusap air mata yang membanjiri pipi tirus nya.

Tragedi itu mengingatkannya akan kejadian 3 bulan yang lalu, lagi-lagi rasa trauma mengusik pikirannya.

Dengan tangan gemetar Rika mengusap pelan bingkai kecil yang di dalamnya terdapat foto ibu, bapak dan Rika.

“Bu, kalo saja waktu bisa diputar. Rika rela Bu, Pak hari itu untuk pertama kalinya gak dimasakin makanan yang Rika pengen, Rika gak mau ngajak Bapak dan Ibu ke pasar. Tapi itu hanya angan-angan Rika. Nasi udah menjadi bubur. Ibu dan bapak udah pergi.”

Baca Juga  Mimpi Buruk Afta

Cristal bening lagi-lagi turun deras. “Rasanya hari itu masih sulit Rika percaya. Rika masih membutuhkan ibu dan bapak. Rika gak bisa ngelakuin sendiri. Dunia terlalu jahat…” meraung.

Sakit, sakit sekali melihat dua pahlawan yang pergi di hari jadi mu, melihat mereka terkulai lemas, bersimbah darah di pinggir jalan untuk melindung kamu.

Tak ada yang lebih menyakitkan selain kepergian, orang tua. Mengusap sekali lagi linang yang masih berbekas. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan.

Rika berujar lirih, “Ini menyakitkan, tapi.. Rik.. Rika, bakalan berusaha ikhlas. Ibu dan bapak yang tenang ya di sana. Rika janji bakalan sekolah yang bener. Biar jadi oang sukses yang punya gedung pencakar langit. Seperti keinginan ibuk dan bapak,” Rika berujar yakin di kalimat terakhir.

Sudah menjadi aktivitas kebiasannya. Pulang sekolah menenteng 1 karung yang setia menemani langkah menuju rumah.

Rika berjalan seorang diri. Mata pencarian yang bisa dia lakukan untuk memenuhi biaya hidupnya adalah dengan memulung, beruntung dengan kemampuan otak yang cerdas Rika di anugrahi beasiswa full.

Baca Juga  Serial Keluarga Ummi: Rumah Ulat Ketikung

Jadi, dirinya tak perlu terlalu repot memikirkan biaya sekolah. Cukup memikirkan kepentingan hidupnya.

Memiliki IQ tinggi, adalah keberuntungan dan anugerah yang Tuhan titipkan untuknya.

Tak heran dirinya selalu dibenci, teman sekelas yang merasa tersaingi. Karena nilai ulangan dan tugas setiap harinya.

Tapi… Setiap hal yang di anggap beruntung sekalipun kesialan pasti memiliki sisi positif dan negatifnya sendiri.

Nikmat yang di berikan Tuhan untuk Rika, membuat ia harus menerima perundungan di sekolah oleh teman kelasnya sendiri.

“Eh Lo, sana beliin gua makanan gih. Lapar neh..,” suara perintah, dengan gebrakan meja yang dipukul kencang dan wajah yang menunduk memperlihatkan mata tajam yang menghunus masuk ke retina teduh milik Rika.

Merasa terusik, Rika menghentikan aktivitas membaca bukunya. Beralih memandangi kedua mata tajam gadis dengan rambut sebahu yang dicatok lurus.

Bukannya menjawab langsung, Rika malah kembali menundukkan pandangannya menatap buku tebal yang menurutnya lebih menarik.

Sontak saja respon yang diberikan Rika membuat gadis tadi menggeram marah.

“Aku lagi belajar Rin” beberapa detik diam.