Karya: Sheila Fiorencia Caroline

Sepoi-sepoi angin menerpa melalui jendela kelas. Setiap hembusan angin yang menerpa meninggalkan jejak dingin di kulitku. Dengung kecil terdengar di telingaku, menyamarkan suara seorang guru paruh baru yang dengan terengah-engah terus menjelaskan materi yang harus kami pelajari.

Maka dari itu, suaranya yang tegas dan berapi-api lewat begitu saja di telingaku. Fokusku tak tertuju padanya.

Dalam beberapa kesempatan, aku akan mencuri pandanganku padamu yang berada di sudut ruang kelas. Satu tanganmu kau letakkan menopang dagumu, terkadang kau akan memutar bola matamu karena jenuh yang menerpa, tak lama kau akan menggigit bibir bawahmu karena gugup dan gelisah.

Setiap gerakan kuperhatikan dengan seksama, seperti saat mata indah berkilauan itu berputar, ketika kulit putihmu memerah karena panasnya cuaca hari ini dan ketika bibir kecil itu mengerucut karena sesuatu nampaknya tidak berjalan sesuai keinginanmu. Aku tidak ingat kapan aku tidak mengaguminya. Kekaguman yang hanya bisa kulukiskan di atas secarik kertas putih, lewat arsiran garis yang membentuk wajah cantikmu.

Kekaguman yang terpaksa kupendam sendiri, kekaguman dalam diam, jauh, dan tak terlihat. Tak berani aku memberikan coretan tulisan dan potret yang kubuat padamu, apalagi menyampaikannya langsung di hadapanmu. Takut jika aku merusak pertemanan yang sudah kita bangun bersama, takut kau justru pergi meninggalkanku, dan takut semuanya tidak akan sama seperti sedia kala.

Keesokkan harinya, kau datang menghampiriku dengan senyum lebar di wajahmu. Walaupun aku tahu senyum itu bukanlah untukku, namun ketahuilah bahwa setiap aku melihatmu bahagia, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Hanya saja untuk kali ini, kata-kata yang keluar dari mulutmu justru benar-benar menyakiti hatiku teramat dalam.

“Kau ingat laki-laki yang pernah kubicarakan waktu itu? Aku menyukainya dan kurasa dia juga menyukaiku. Sepertinya inilah saatnya aku menyampaikan perasaanku padanya. Bagaimana menurutmu? Haruskah aku bicaranya padanya malam ini? Atau besok lebih baik?” begitu ujarmu dengan rona merah di pipi dan senyum yang semakin merekah.

Baca Juga  Tak Ada Karangan Bunga, Tak Ada Belasungkawa

Ucapanmu bak sambaran petir di siang bolong bagiku. Sejujurnya hatiku langsung terasa sesak saat itu, tapi kepalaku menuntutku untuk jangan memperlihatkan itu padamu. Pikiranku berkelibat tak karuan, di satu sisi aku tidak ingin kau jadi milik orang lain, namun di sisi lain aku tidak bisa tidak mendukungnya. Aku takut kehilanganmu dan aku takut kau akan kecewa pada kenyataan akan perasaanku.

Kuharap kau tidak perlu mengungkapkan apapun padanya.

Pada akhirnya aku menemukan kembali suaraku setelah hening cukup lama dan aku hanya bisa berkata, “Besok saja.”

“Begitu, ya? Baiklah, terima kasih sarannya.” Kau tersenyum manis ke arahku sebelum berlari pergi menghampiri teman-temanmu yang lain.

Dadaku terasa sangat sakit. Perih yang seolah membakar jauh ke dalam sanubariku. Bagai tusukan belati yang menusuk hingga menembus punggungku. Pikiranku mendadak menjadi kosong karena perasaan sedih yang tidak tertahankan. Aku tetap seperti itu hingga waktu pulang sekolah.

Rasanya aku ingin sekali kembali ke rumah untuk bergelung di dalam selimut sembari menangisi diriku sendiri dengan menyedihkan.

Sayangnya seolah belum habis penderitaanku, aku justru melihatmu bersama laki-laki lain. Kau berjalan bersama sambil bersenda gurau. Api cemburu seolah membakarku dari dalam. Membayangkan diriku berada di sampingmu, menggantikan laki-laki yang kini tengah bersamamu. Betapa beruntungnya laki-laki itu.

Mungkin laki-laki inilah yang kau ceritakan padaku saat itu. Memang kau tidak menyebut namanya, namun melihatmu menatapnya seperti itu membuatku yakin bahwa laki-laki itulah orangnya. Dialah yang kau cintai, bukan aku.

Aku berjalan melewati kalian, tidak peduli apakah kau melihatku atau tidak. Kurasa aku tidak akan bisa menahannya lebih lama lagi. Sembari mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan tinggi, aku mencoba mengingat kenangan menyenangkan di antara kita, namun bayanganmu bersamanya tetap menghantui.

Baca Juga  Demi Kau, Kutenggak Racun Itu!

Saat aku sampai di rumahku, aku tidak menemukan siapapun di rumahku sendiri. Seperti hari-hari biasanya. Aku hanya menemukan ART kami yang sedang menyirami tanaman-tanaman hias kesukaan Ibu. Dengan terburu-buru dan hanya mengucapkan salam padanya, aku berjalan masuk ke dalam rumah.

Aku dengan cepat berjalan pergi ke arah kamar mandi. Aku memutuskan menyendiri di dalam kamar mandi sembari terus memikirkan apa yang baru saja kulihat. Pukulan kenyataan sungguh nyata adanya. Aku bersandar pada pintu sembari merenungi betapa menyedihkan dan pengecutnya aku.

Seolah aku baru saja dilempar ke sebuah jurang yang dalam tanpa dasar. Salahku karena terlalu takut kehilanganmu, karena terus berharap mukjizat akan datang padaku, dan karena terus mengira dengan seperti ini hubungan kita akan terus berkembang. Betapa bodoh dan pengecutnya aku. Selalu ciut saat harus berhadapan denganmu.

Hanya mampu mengagumi lewat gambar dan kata-kata, tidak pernah memberitahumu dengan jujur. Hatiku hancur hanya dengan membayangkan kau akan berjalan bersama orang lain, bukan denganku. Aku sadar bahwa aku tidak ada di dalam masa depanmu, namun aku tidak pernah sadar bahwa rasanya akan semenyakitkan ini.

Aku pun berjalan ke arah cermin wastafel. Memandang diriku sendiri membuatku merasa marah dan kecewa. Bersamaan dengan amarah yang semakin meningkatkan, tanpa kusadari aku sudah mengangkat dan mengepalkan tanganku. Aku tidak tahu emosi apa yang tengah kualami ini, seolah emosi ini mengendalikanku lebih dariku mengendalikannya.

KRAKK!

Ada rasa nyeri dan perih saat kepalan tangan kananku menghantam cermin hingga pecah berkeping-keping. Tanganku kini penuh dengan luka terbuka dan goresan yang perlahan mengucur darah merah kental yang amis. Aku menutup mataku, menahan nyeri yang kusebabkan sendiri.

Baca Juga  Bunga di Antara Bebatuan

Tak lama kudengar suara pintu yang dibuka paksa. Bu Mirna, ART kepercayaan keluarga kami, dia berdiri di ambang pintu dengan ekspresi cemas dan panik. Aku hanya tersenyum tipis saat itu.

*****

Suasana Hari Minggu pagi adalah suasana favoritku selama ini, namun yang kali ini aku tidak yakin akan menyukainya. Bisa jadi mulai hari ini aku akan membenci Minggu pagi. Semua karena kau akan mengatakan itu pada-nya hari ini.

Aku teringat kembali saat semalam kau mengirimiku dua foto kau memakai dua gaun berbeda. Pada satu foto aku melihatmu mengenakan gaun panjang berwarna merah dengan ikatan pita yang melingkari pinggangmu, yang lain kau mengenakan gaun biru laut selutut dengan hiasa glitter yang membuat kulit putihmu nampak lebih bercahaya.

Jika aku harus memilih, aku menyukainya memakai gaun biru itu. Aku ingat akulah yang memberimu gaun itu di hari ulang tahunmu tahun lalu, dan sekarang aku akan melihatmu mengenakannya untuk orang lain.

“Kau suka yang mana?” tanyamu.

Butuh waktu lama bagiku di antara rasa sesak kecemburuan yang bergejolak di hatiku, hingga dengan ragu-ragu aku menjawab, “Yang merah.”

Kau lama membalas setelahnya, aku bertanya-tanya apa yang mengusik pikiranmu. Tak lama setelahnya, jawaban yang tidak kuduga justru kudapatkan.

“Kupikir kau akan menyukai yang warna biru.”

Mendengar itu, entah kenapa, aku justru merasa sangat marah. Aku tidak ingin kau memakai gaun itu untuknya, rasanya seperti dikhianati. Napasku mulai terengah-engah tak karuan. Aku menghempas ponselku menjauh, memutuskan tidak akan membalas pesanmu sampai aku merasa lebih tenang.