Karya: Putri Simba

Di sebuah desa kecil yang tersembunyi, tinggallah seorang anak laki-laki bernama Haikal. Dia anak yang cerdas dan sangat bersemangat untuk belajar. Namun, HaiKal tidak memiliki akses ke pendidikan yang layak karena jarak sekolah terdekat jauh dari desanya.

Di desa itu, hanya ada seorang guru tua yang mengajar beberapa anak di bawah pohon besar, tetapi fasilitasnya sangat terbatas. Haikal sering merasa sedih, menangis, takkuasa, dan iri melihat anak-anak dari desa tetangga yang dapat pergi ke sekolah dan belajar dengan berbagai fasilitas modern. Namun, dia tidak menyerah begitu saja.

Setiap kali, Haikal melihat buku-buku tua yang ditinggalkan di sana-sini, hatinya terus berkobar ingin belajar lebih banyak. Suatu hari, ketika Haikal berjalan pulang dari sawahnya, dia menemukan seorang pria tua yang sedang membersihkan gudangnya sendirian. Di dalam gudang itu, dia melihat tumpukan buku-buku tua yang sudah tidak terpakai lagi.

Baca Juga  Sajak Rasa

Tatapan anak yang harus bersekolah itu tertuju pada buku-buku tua. Da merasa hatinya berdetak lebih kencang.

“Permisi, Pak, asalamualaikum,” ucap Haikal memanggil pria tua itu sambil menciumi kedua tangannya.

“Wa’alaikumussalam, anak muda,” jawab pria tua itu.

“Pak, apakah buku-buku itu masih digunakan?” tanya Haikal dengan perasaan berharap.

Pria tua itu terkejut mendengar pertanyaan Haikal, lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak, anak muda. Buku-buku itu sudah lama tak tersentuh. Mereka hanya mengumpulkan debu di sini,” ucap pria tua itu tanpa basa basi.

Haikal merasa senang penuh bahagia karena buku-buku itu tidak lagi digunakan sambil berkata.

“Bolehkah saya mengambilnya, Pak? Saya ingin belajar lebih banyak tentang dunia di balik buku-buku ini,” ucap Haikal kepada pria tua itu.

Baca Juga  Luka Berakar di Atas Kertas

Pria tua itu hanya tersenyum dan mengangguk sambil terheran-heran, “Tentu saja, Nak, ambil saja. Aku senang melihat semangat belajarmu,” jawab pria tua itu. Dia mengizikan Haikal sambil salut akan semangat belajarnya.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak ya,” ucap Haikal kepada pria itu penuh bahagia.

“Iya, sama-sama, Nak. Owh, iya, kalau boleh tahu, namamu siapa, Nak? Kita belum kenalan,” tanya pria tua itu.

“Namaku Haikal Pratama, Pak ,bisa dipanggil Haikal. dan jikalau boleh tahu nama Bapak siapa?” ucap Haikal.

“Nama Bapak Sodikin, bisa dipanggil Sodik,” jawab pria tua itu memperkenalkan namanya.

“Kalau begitu, saya mau angkat dulu buku ini, Pak, ya, lalu pamit pulang, takutnya dicari orang tua saya, Pak,” ucap Haikal berpamitan.

Baca Juga  Bajak Laut dan Jambul Nanas

“Iya, Nak,” jawab Pak Sodik singkat.

Setelah lama berbincang-bincang asik, Haikal mulai mengangkat beberapa buku dengan hati-hati dan membawanya pulang ke rumah. Setibanya di rumah, dia membersihkan buku-buku itu dari debu lalu mulai membacanya dengan penuh semangat.

Di tengah malam, Haikal masih tetap terjaga, menelusuri halaman demi halaman, menyerap ilmu pengetahuan dari buku-buku tua itu.
Sejak meminta buku itu dari pak Sodik, Haikal terus belajar dari buku-buku yang dia temukan. Setiap waktu luangnya diisi dengan membaca dan belajar. Ia belajar tentang sejarah, ilmu pengetahuan, matematika, bahasa, juga biologi.