5 Faktor yang Memengaruhi Frekuensi Buang Air Kecil
KESEHATAN, TIMELINES.ID– Pada dasarnya, organ ginjal bekerja dengan cara menyaring darah dan membuang zat-zat yang tidak diperlukan melalui urine yang ditampung terlebih dahulu pada kandung kemih.
Ketika kandung kemih sudah penuh, otak akan mengirimkan sinyal ke saraf di kandung kemih untuk selanjutnya seseorang buang air kecil. Karena itu, frekuensi buang air kecil bisa menjadi salah satu indikator untuk mengevaluasi fungsi ginjal dalam memproduksi urine.
Sebetulnya, berapa kali buang air kecil dalam sehari yang tergolong normal? Adakah faktor-faktor tertentu yang bisa memengaruhinya? Agar lebih paham, mari simak ulasan lengkap mengenai frekuensi normal buang air kecil beserta faktor-faktor yang bisa memengaruhinya dalam artikel berikut ini.
Mengenal Frekuensi Buang Air Kecil yang Normal
Dalam kondisi normal, organ ginjal dapat memproduksi urine sebanyak 0,5–1,5 cc per kilogram berat badan untuk setiap jamnya. Dengan begitu, jika seseorang memiliki berat badan sebesar 50 kilogram, tubuh dapat menghasilkan urine sebanyak 25–75 cc dalam satu jam.
Kemudian, urine tersebut akan ditampung terlebih dahulu pada kandung kemih sebelum dikeluarkan melalui buang air kecil. Rata-rata kandung kemih akan menampung sekitar maksimum 300-500 cc urine.
Urine ini biasanya akan dikeluarkan melalui buang air kecil setidaknya setiap 6 jam sekali. Namun, berapa kali buang air kecil dalam sehari yang tergolong normal? Kebanyakan orang umumnya buang air kecil sebanyak 6–7 kali dalam satu hari atau selama 24 jam. Kendati demikian, buang air kecil sebanyak 4–10 kali sehari masih dapat dianggap wajar apabila tidak terdapat gangguan kesehatan.
Berbagai Faktor yang Memengaruhi Frekuensi Buang Air Kecil
Perlu diketahui bahwa jumlah urine yang diproduksi oleh organ ginjal pada setiap individu bisa berbeda-beda, di mana hal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di samping berat badan, berikut adalah beberapa faktor yang memengaruhi jumlah urine dan frekuensi buang air kecil pada setiap individu.
1. Usia
Frekuensi buang air kecil seseorang pada dasarnya akan meningkat seiring dengan pertambahan usia. Misalnya, seseorang berusia di atas 60 tahun mungkin akan terbangun hingga dua kali pada malam hari untuk buang air kecil dan hal ini masih tergolong normal.
Pada pria berusia 60 tahun ke atas, meningkatnya frekuensi buang air kecil merupakan hal yang normal karena seiring bertambahnya usia, ukuran kelenjar prostat biasanya juga dapat bertambah besar.
Hal ini dapat menyebabkan pendesakan di kandung kemih, sehingga kapasitas kandung kemih pun semakin kecil. Berkurangnya kapasitas ini menyebabkan seorang pria ingin berkemih meski urine baru tertampung sedikit di kandung kemih.
Kebiasaan tersebut umumnya akan berbeda bila dibandingkan dengan mereka yang berusia di bawah 60 tahun. Di mana, rata-rata mereka hanya terbangun sekali pada malam hari untuk buang air kecil.
Di samping itu, anak-anak, seperti bayi dan balita, cenderung lebih sering buang air kecil dibandingkan dengan remaja, yaitu sebanyak 4–6 kali dalam sehari. Sebab, seiring dengan bertambahnya usia, ukuran kandung kemih akan semakin membesar sehingga bisa menampung urine lebih banyak sebelum buang air kecil.
