Oleh: Tri Windy Astuti, S.T 

Sebagai hari besar umat Islam, kehadiran hari raya Idulfitri sangat dinanti-nanti apalagi setelah umat Islam bergulat dengan puasa Ramadan dan rangkaian ibadah lainnya selama satu bulan penuh. Perayaan Idulfitri  berlangsung selama dua hingga tiga hari, di mana pada pagi hari di hari pertama Idulfitri umat Islam akan melakukan salat Id.

Di saat yang bersamaan umat Islam akan saling mengucapkan selamat Idulfitri dengan berjabat tangan dan pelukan formal sebagai berbagi kebahagian dan saling memaafkan kesalahan yang telah lalu.

Tidak berhenti di situ, di rumah-rumah juga akan disediakan hidangan-hidangan manis serta hadiah-hadiah yang kerap diberikan kepada anak-anak dan mereka yang membutuhkan. Umat Islam pada hari fitri akan saling bermaaf-maafan. Tradisi-tradisi ini akan bervariasi dari tiap-tiap negara.

Baca Juga  Besame Kite Pacak, Bangka Belitung Hebat: Momentum Hari Jadi ke-24

Di banyak negara dengan populasi Muslim yang besar, hari raya Idulfitri akan menjadi hari libur nasional. Sekolah-sekolah dan perkantoran akan diliburkan sehingga pada hari raya umat Islam dapat berkumpul dengan keluarga, sanak saudara, teman-teman, dan tetangga sekitar tempat tinggal.

Namun demikian, tahukah anda bagaimana tradisi para dinasti-dinasti dan pimpinan umat Islam dahulu dalam merayakan hari raya?

Merujuk pada penjelasan Habib Muhammad bin Ahmad Asy-Syatiri dalam salah satu karyanya, ia mengatakan bahwa hari raya dijadikan sebagai momentum oleh para dinasti dan raja-raja zaman dahulu untuk menampakkan kekuatan Islam.

Mereka keluar dari kerajaan dengan ribuan prajurit dan penduduknya disertai dengan lantunan lagu-lagu kebesaran kerajaan, dan dengan cara ini umat Islam bisa disegani oleh pemeluk agama lain.

Baca Juga  Pariwisata Berkelanjutan di Bangka Belitung: Antara Potensi dan Tantangan Pascapertambangan

Tradisi seperti ini terus berlanjut hingga masa kepemimpinan sultan Abdul Hamid. Ia sebagai pemimpin ke-34 dalam kesultanan dinasti Utsmaniyah yang sangat adil, dan lebih memprioritaskan kemaslahatan Islam dan rakyatnya.

Salah satunya adalah dengan memperlihatkan bala tentaranya di setiap hari raya sambil membacakan takbir sebagaimana yang biasa dibaca setiap hari raya. Kisah ini sebagaimana diabadikan oleh Habib Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syatiri dalam salah satu kitabnya, ia mengatakan:

وَمُلُوْكُ الْمُسْلِمِيْنَ يُسْتَحَبُّ لَهُمْ اِظْهَارُ الْقُوَةِ وَعِزِّ الْاِسْلَامِ. كَانَ الْمُلُوْكُ السَّابِقُوْنَ يَقُوْمُوْنَ بِاسْتِعْرَاضِ الْجُيُوْشِ، وَأَخِرُهُمْ السُّلْطَانُ عَبْدُ الْحَمِيْدِ، وَهُوَ أَخِرُ مُلُوْكِ الْمُسْلِمِينَ. اِسْتَمَرَّتْ خِلَافَتُهُ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَكَانَ قَوِيَ الْاِيْمَانِ مُخْلِصًا لِدِيْنِهِ وَرَعِيَّتِهِ

Baca Juga  Masih Adakah Kebanggaan Kita?

Artinya: “Para pimpinan umat Islam dianjurkan bagi mereka untuk menampakkan kekuatan dan kemuliaan Islam (di hari raya). Para raja terdahulu menampakkan (kekuatannya dan kemuliaan Islam) dengan mempertontonkan bala tentara, dan yang paling akhir (melakukan tradisi ini) adalah Sultan Abdul Hamid, ia merupakan pemimpin terakhir kaum muslimin. Masa kepemimpinannya selama 30 tahun. Ia merupakan (raja) yang kuat imannya, ikhlas (berjuang) untuk agama dan rakyatnya.” (Habib Ahmad Asy-Syatiri, Syarhu Yaqutun Nafis fi Mazhabi ibn Idris, [Darul Minhaj: 2009], halaman 177).

Selain mempertontonkan bala tentara, raja-raja zaman dahulu juga membawa para pemuda pemberani untuk ikut serta dalam pertontonan ini.