Karya: Sudi Setiawan

Di penghujung akhir tahun, ketika musim kering telah selesai tergantikan oleh jutaan air mulai membasahi seluruh lapisan tanah, ditemani kesiur angin yang mulai merontokkan daun-daun pohon angsana di seberang jalan, dan bunga-bunga amarilis akan bermekaran.

Bunga-bunga amarilis yang sengaja ditanam pada pelataran rumah tampak kosong oleh kedua bola matanya-Ibu, sejak Agustus lalu-perempuan yang selalu mencepol rambutnya ke belakang itu-mengisi ruang kosong itu dengan penuh penantian.

Desember telah datang, ditandai bunga-bunga amarilis segera bermekaran setelah menanti setahun lamanya untuk menumbuhkan kelopak-kelopak kembang yang mekar dalam hitungan jari. Tapi, penantian amarilis yang mekar seperti “rindu yang sengaja ditanam olehnya

Sore itu, kuingat hari sudah sedikit gelap. Agaknya, mendung yang menghitam dilangit akan lekas turun. Membasahi bumi, lagi dan lagi.

Di ruang dapur sederhana berdinding bata merah yang kuat, aku duduk di kursi; menyaksikan perempuan tua itu berkisah layaknya Ibu yang sedang mendongengkan anaknya yang masih kecil.

“Apakah Rama tahu, kenapa Ibu menanam amarilis setiap tahun?” tutur Ibu menolehku penuh rasa penasaran. Aku hanya menggeleng, pertanda aku tidak tahu.

Semburat garis halus tercetak pada kedua pipinya. Perempuan itu mendekatiku dengan segelas kopi hitam racikannya yang menggoda selera hidungku.

“Amarilis-amarilis itu untuk menemani pohon mangga yang sering kali kau petik sebelum masak.” Perempuan tua menawan dengan senyumnya yang terpahat ramah.

Baca Juga  Ada Kisah Tersimpan di Bulan Ramadan

Binar matanya yang tenang, menenangkan perasaanku yang gaduh sedari tadi.

“Pohon mangga itu mengganggu Bu. Sebulan lalu, dahannya roboh menimpa teras rumah. Untung saja, bukan menimpa kamar Dazis…,” celetukku, entah perasaan apa yang tengah menggenang di hatiku. Terkoar-koar begitu saja.

“Pohon mangga itu peninggalan Bapak. Ada begitu banyak cerita tentang keberadaannya yang kerap kali dianggap mengganggu nak.” Ia duduk di sebelahku, menandakan akan banyak cerita yang telah disiapkan olehnya.

“Mau dengar?” tanyanya dengan lembut, menunggu jawabanku yang aku sendiri tak tahu harus menjawabnya apa. Sekali lagi, aku mengangguk-angguk pelan.

*

Setelah masa transmigrasi dilaksanakan di akhir tahun 1980an dari Nganjuk, Jawa Timur menuju pulau seberang bernama Sumatera.

Para rombongan-rombongan dengan jutaan harapan baru di tanah yang jauh itu seperti mimpi-mimpi yang akan segera jatuh pada mereka. Bus yang membawa mereka seperti kendaraan yang menuju surga. syahdu bukan?

Di pojok bus, anak perempuan itu sudah cukup penat menatap apa pun di hadapannya, jalan-jalan yang tak terputus sama sekali. Panggil saja, anak perempuan itu Saryatin. Saryatin kecil merenggut bibir kecilnya dengan wajah murung tak berkesudahan.

Entah lah, itu hanyalah perasan bosan atau yang lain tak ada yang tahu. Di usianya yang masih belia itu ia harus ikut kedua orang tuanya pergi dari tanah kelahirannya dan kepalanya penuh dengan tanda tanya besar tentang tanah harapan, yang sering didengar dari orang-orang di dalam bus yang tengah melaju.

Baca Juga  Senja Menyulam Bunga

Enam malam yang dia ingat, sebelum akhirnya jalan setapak berwarna kemerahan dan hutan-hutan yang baru saja dirobohkan menjadi tujuan akhir.

Bus akhirnya berhenti dengan pasti, samar-samar Saryatin kecil bisa mendengar beberapa teriakan-teriakan hewan buas di kesunyian malam yang kentara mengerikan. Mereka diantar pada sebuah rumah panggung yang masih terlihat baru, tercium jelas bau gesekan kayu dan oli mesin menguar diudara.

“Ini rumahmu Pak Darmo. Lahanmu ini bisa kau olah menjadi ladang dan juga sawah. Semoga, perjalanan jauh bapak terbayarkan…” Saryatin kecil mengamati orang dewasa berbaju loreng hijau memberikan sebuah kunci dan menjabat tangan Bapaknya.

Keduanya berpelukan, seperti sebuah haru sekaligus bahagia. Mungkin, Saryatin kecil hanya mengerti sedemikian saja. Malam panjang di tanah harapan itu baru saja dimulai.

Malam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan seterusnya. Hingga tak terasa, kini sudah lima tahun menetap di tanah rantau di sisi timur pulau Sumatera. Rasanya tak percaya, Saryatin kecil itu tumbuh menjadi gadis yang menawan.

Pak Darmo makin melejit kala anak gadisnya sudah diidam-idam warga kampung untuk dipersunting menjadi istri kedua. Lamaran dan lamaran berdatangan, tapi Pak Darmo selalu menolak dengan rendah hati.

Baca Juga  Pantun: Musim Kemarau

Bahwa anaknya, masih dianggapnya sebagai anak-anak. Di kampung rantau ini, anak perempuan berusia lima belas tahun sudah dianggap perawan tua.

Saryatin ingat, petang itu terdengar suara burung perjak di sebelah yang terus saja mengoceh. Katanya, burung membawa pesan mereka akan kedatangan tamu. Benar, tepat setelah azan Magrib berkumandang,  Pak Seno bersama anak laki-laki datang melamar Saryatin.

Saryatin tak menahu soal lamaran itu, yang dia ketahui bahwasanya, Pak Seno akan memberi bapak sebidang tanah untuk anak perempuannya apabila “pernikahan” itu terjadi. Keputusan bulat itu akhirnya pecah, tatkala pak Darmo akhirnya dengan enggan melepaskan anak gadisnya.

Dengan harapan, kehidupan anaknya itu akan sedikit terangkat. Karena pak Seno dikenal sebagai orang berada di Kampung Kendana.

Tepat bulan Jumadil Akhir, Saryatin dinikahkan oleh Pak Darmo dengan Mas Karmin yang kini telah menjadi suaminya. Sebenarnya, kisah cerita pernikahan seperti ini adalah hal lumrah pada masa itu.

Tapi kali ini, aku benar-benar baru tahu bahwa kisah ini terjadi pada ibu dan bapak di masa itu. Dengan catatan, ini seperti perjodohan yang sering kudengar.

“Terus Ibu bagaimana? Menerima pernikahan itu?” tanyaku penasaran.