Kisah Arumi, Selimut dan Bantal
Karya: Khoriah Apriza, Siswi SMAN 1 Airgegas
Prang!
Terdengar suara piring dibanting dengan nyaring. Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari seorang wanita paruh baya.
“Aku capek, Mas! Aku mau kita cerai!” teriak perempuan itu.
“Oke, aku juga cepek sama keegoisan kamu! Aku talak kamu Linda!” balas seorang lelaki paruh baya di depannya.
“Bagus!”
“Tapi dengan syarat, Akhtar akan ikut dengan aku!” ujar Danu dengan tegas.
“Enggak! Akhtar anak aku. Aku ibunya, yang melahirkannya. Aku lebih berhak atas Akhtar!” tolak Linda dengan keras.
“Akhtar anak aku juga! Aku lebih berhak atas Akhtar, karena dia anak laki-laki. Kamu dengan Arumi, anak penyakitan itu!” ujar Danu.
“Aku enggak mau menghidupi anak
penyakitan itu! Aku mau Akhtar!” ujar Linda tegas.
“Lihat aja Linda, hak asuh Akhtar akan jatuh ke tanganku!” ujar Danu dingin.
“Dan akan aku pastikan, bahwa itu tidak pernah terjadi!” ujar Linda tak kalah dingin.
Di lain tempat, seorang gadis mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya dari balik pintu kamarnya. Arumi yang masih menginjak usia 15 tahun itu memutar kursi rodanya menuju tempat tidurnya.
Kini ia sedang duduk di atas kasurnya. Memandangi jendela yang menghadap hamparan kota-kota penuh dengan lampu-lampu yang indah.
Arumi kemudian menidurkan dirinya. Menutupi tubuhnya dengan selimut. Kemudian, menghadapkan wajahnya ke arah jendela. Kedua tangan yang menangkup mengganjal wajahnya juga tubuh yang meringkuk bak seekor kucing. Lama dengan posisi itu, kedua mata Arumi berkaca-kaca menahan tangis.
“Lihat, sebentar lagi dia akan menangis, Tal,” ujar Selimut yang berwarna biru.
“Iya, kamu benar, Mut. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Bantal panik kala Arumi meneteskan air matanya.
“Tugas kamu mengusap air matanya. Dan tugasku, memeluk dan menghangatkankannya,” ujar Selimut mengeratkan pelukannya kepada tubuh Arumi.
“Hiks … hiks … Arumi enggak mau Papa dan Mama pisah,” ujar Arumi dengan isak tangis yang membasahi pipinya.
“Bagaimana ini Selimut? Aku tak tega melihatnya seperti ini?” ujar Bantal semakin panik kala tangis Arumi tak kunjung berhenti.
“Aku juga tidak tau, Tal,” jawab Selimut bingung.
“Aku ingin bisa berjalan seperti manusia lainnya. Aku ingin disayang Mama dan Papa. Hiks!” ujar Arumi sambil mengeratkan selimutnya.
Setelah beberapa jam menangis hingga matanya yang sipit sedikit membengkak, tak lupa hidungnya yang memerah karena terlalu lama menangis. Arumi kini tertidur dengan pulas.
Keesokan paginya, Linda memasukkan semua baju-bajunya ke dalam koper. Setelah selesai, ia pergi berlalu meninggalkan rumah yang sudah 20 tahun ia tinggali bersama keluarga kecilnya namun sekarang hanya sebatas kenangan.
Di lain tempat, Danu juga melakukan hal yang sama dengan mantan istrinya. Memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper dan akan pergi meninggalkan rumah.
Mereka berpapasan di dekat pintu keluar. Keduanya membuang muka. Linda lebih dulu membuka pintu namun ia urungkan kala mendengar suara penuh luka dari seorang gadis di atas kursi roda.
“Wah, mau piknik ya? Kok enggak ngajak Arumi?” tanya Arumi tersenyum, namun penuh luka.
“Akhtar, kamu ikut mama ya sayang,” ujar Linda tanpa menanggapi pertanyaan Arumi.
“Gak!” tolak Akhtar tegas. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada dorongan kursi roda kembaran nya. “Kalau mau pergi, pergi aja. Enggak usah ajak aku. Aku mau sama Arumi di sini,” lanjut nya.
“Akhtar, kamu mau makan apa di sini? Kamu ikut Papa ya?” ajak Danu merayu anaknya.
“Akhtar sayang__”
“Stop! Kalau mau pergi tinggal pergi. Kamu juga bisa pergi dari sini! Pergi selamanya! Enggak usah peduli sama Arumi. Mama sama Papa pergi aja, Biarkan Arumi mati di sini. Enggak ada yang peduli lagi sama Arumi!” teriak Arumi sambil memukuli tangan Akhtar yang memegang alih kursi rodanya.
“Aku enggak akan pergi! Biarkan aja mereka pergi!” ujar Akhtar dingin.
“Pergi Akhtar! Aku cacat, aku cuma bisa menyusahkan kalian. Aku enggak diharapkan di dunia ini! Aku anak pembawa sial. Mama Papa pisah karena malu punya anak cacat kayak aku,” ujar Arumi lemah, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.