Karya Sudi Setiawan

Sudah berhari-hari Ramidun tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Sudah berkali-kali ia mondar-mandir mencari lokak pekerjaan milik para penguasa tanah di kampungnya.

Tapi tak satu pun memberinya pekerjaan walaupun hanya sehari atau bahkan setengah hari pun tak ada. Ramidun hampir menyerah, sebab, masa sulit saat ini benar-benar membuatnya kelimpungan.

Ramidun ingin pasrah. Tapi anaknya baru genap sebulan itu masih memerlukan susu formula sebab ibunya tak bisa memberikan Asi pada bayinya. Itu dikarenakan sang istri sedang mengalami masa-masa pemulihan dan beban pikir yang bertambah. Menyebabkan Asi tak keluar dari raganya. Ramidun tak banyak berbuat. Selain menenangkan Rahma–istrinya.

Dengan sepeda motor warisan bapak, ia mengunjungi Jamari. Kenalan yang didapatkan dari Sumijan tetangganya yang kerap berbagi beras ketika ia tak memiliki uang. Menurut Sumijan, Jamari adalah seorang mandor sedang mencari anak buah untuk menjadi penambang timah di kebun milik Pak Rau yang merupakan juragan kaya dari kampung sebelah.

Berita dari Sumijan itu disambut semringah oleh Ramidun. Dengan laju motor butut yang tak kuat menanjak, Ramidun hampir saja tergelincir jika saja tak cekatan. Ia bergegas menuju kebun yang Sumijan katakan.

Kebun Pak Rau ternyata berada di dekat muara Sungai Nyiri yang bermuara di laut Jawa. Aroma air sungai yang anyir sekaligus amis memenuhi penciuman Ramidun. Kebun Pak Rau sendiri ditanami kelapa sawit yang sudah setinggi pintu rumah.

Baca Juga  Bangku Tua

Kira-kira usianya tiga sampai lima tahun masa panen. Ada sedikit pikiran yang mengganjal di benak Ramidun, yaitu kenapa duda tua kaya raya itu masih menambang di perkebunan padahal Pak Rau masih akan tetap kaya jika hanya merawat kelapa sawit itu dengan benar.

Di kebun, Ramidun disapa hangat oleh Jul. Teman sebaya yang dulu duduk sebangku ketika sekolah dasar. Karena pernikahan Ramidun dan Rahma, menyebabkan Ramidun pindah kampung dan jarang bertemu dengan kawan lamanya.

Jul berambut cepak ala komandan TNI dengan rokok ketengan melekat di salah satu telinganya. Mereka bercengkerama sembari menunggu Pak Rau datang. Mereka menunggu di pondok kebun yang sederhana. Di sana hanya ada empat orang dewasa termasuk Ramidun dan Jul, dua lainnya merupakan warga kampung seberang yang Ramidun sendiri tak kenal.

Lima belas menit menunggu, Pak Rau datang dengan sopir yang kerap dipanggil Jamari. Selain sopir, nantinya Jamari akan menjadi mandor mengawasi kinerja mereka berempat. Jamari adalah orang yang diceritakan oleh Sumijan.

Ramidun memberanikan diri mengenalkan dirinya ke Pak Rau yang terkenal angkuh. Walaupun demikian, dia tetap berusaha menyapa meski sapaannya dianggap angin semata yang berlalu.

Baca Juga  Aku Bianglala

“Sudahlah. Kamu ini seperti tidak tahu saja,” tegur Jamari. Menyalakan rokok yang bergambar cengkeh dan pala. Lalu membuntuti tuan tanah.

“Katamu. Peta yang kita beli dari perusahaan timah itu sudah pasti ada barangnya. Sudah mahal-mahal saya membelinya sampai sekarang belum tembus-tembus juga…,” ungkap Pak Rau menyangkutkan kedua tangannya di pinggang sembari melihat kubangan tanah yang sudah bercampur lumpur.

“Sebentar lagi pak. Saya jamin pokoknya hari ini akan ada hasil yang banyak,” sahut Jamari dengan muka manis di hadapan Pak Rau.

“Kalo sampai hari ini terus merugi. Saya bakalan tarik semua alat.”

Ramidun kaget. Padahal dia baru saja masuk kerja tapi mendengar ucapan Pak Rau langsung mengerut wajahnya itu. Dia hanya menghela nafas pendek. Pak Rau lantas bergegas menuju mobil dan meninggalkan Jamari dan yang lainnya.

Jamari meminta Jul untuk membantu Ramidun yang bahkan tak kenal dengan alat-alat tambang. Jika saja karena bukan permintaan Sumijan, dia tak mau menerima Ramidun yang masih kosong pengalaman seperti ini.

*

Menjelang siang. Guratan-guratan garis pasir halus berwarna kehitaman mulai terlihat di sela-sela akar kelapa sawit yang mencengkeram rapat-rapat. Bang Bib dan Mang Leng meminta Ramidun untuk mengecilkan tarikan gas, agar air yang keluar dari pipa-pipa mengecil.

Bang Bib melihat bahwa garis-garis halus itu tebal dan menukik ke bawah tanah. Seakan paham, Bang Bib meminta Mang Leng mengambil sekop untuk mengecek.

Baca Juga  Rasa

Ramidun mengamati dari kejauhan dan Jul mencoba menyiapkan Sakan yang terbuat dari papan dan melapisi dengan karpet khusus. Ramidun masih awam. Jul meneriaki namanya berkali-kali. Karena dekat mesin, ia tak mendengar teriakan itu sama sekali sampai Jamari mendekati Ramidun.

“Hei!” teriakan itu menyadarkan Ramidun.

“Ke sana bantu si Jul menyiapkan Sakan”.

Ramidun hanya mengangguk pelan.

Pipa-pipa itu menyedot pasir-pasir yang bercampur dengan lumpur dan remahan kayu menuju Sakan. Air itu kembali ke dalam kubangan tanah yang berdiameter cuma lebar dan dalam. Ramidun terus mengamati. Agar ke depannya dia bisa menyiapkan tenaga dan kemampuan lebih berpengalaman.

Pasir-pasir itu kemudian tertahan di dalam karpet yang telah disiapkan oleh Jul. Banyak jenis material yang ikut tersedot tapi yang pasti. Jul harus memastikan material penting itu tak turun dari karpet.

Ramidun membantu Jul membuang material yang dianggap tak penting seperti tanah palet, remahan kayu bahkan beberapa material aneh lainnya. Badan mereka semua basah kuyup tanpa kering sedikit pun, tangan-tangan mereka juga sudah penuh dengan lumpur yang melekat. Dia atas kubangan ada Jamari yang bermanja-manja dengan tidur siangnya.