Karya: Sheila Fiorencia Caroline

Sepoi-sepoi angin menghembus kencang menusuk dari kulit hingga tulang. Bulan naik begitu tinggi pada malam yang senyap nan damai. Malam yang indah, malam di mana orang-orang akan tertidur damai di atas ranjang mereka dengan selimut yang menghangatkan tubuh. Malam yang seharusnya indah untuk menghabiskan waktu sekadar menatap bintang-bintang yang bertebaran menghiasi angkasa.

Namun, Luna mengunci dirinya sendiri di kamarnya. Tertidur lelah dengan jejak air mata yang masih segar, bantal yang basah akibat air matanya sendiri, dan tangan yang memeluk bantal di sebelahnya. Bekas kemerahan memenuhi wajahnya.

Dalam tangisnya sebelun tertidur, dia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama sejak hari yang menentukan itu. Kejadian yang terjadi tepat tiga hari yang lalu. Luna mengenang kembali saat-saat terakhir bersama Mike.

*****

Mike adalah seorang atlet yang kini sudah berlaga di tingkat internasional. Namun karena suatu masalah dengan atlet di negara lain. Mike kini dibenci oleh hampir semua pendukung atlet negara itu. Atlet itu adalah legenda di olahraga ini dan dia terkenal di seluruh penjuru negerinya. Negara yang kini Mike dan Luna pijaki. Negara di mana perlombaan Mike berlangsung.

Baca Juga  Para Lintah Pengisap Timah

Tidak peduli berapa kali dia memijakkan kakinya di sana, ketakutan ini semakin tinggi. Kebencian itu tidak main-main, kebencian itu bahkan hampir membahayakan nyawanya dan keluarganya. Komentar-komentar kebencian dan ancaman pembunuhan sudah pernah dia dapatkan. Namun yang paling parah pernah dia alami. Pernah suatu hari Mike mendapatkan paket berisikan kepala banteng yang baru disembelih. Entah bagaimana, bahkan penjaga yang dia sewa kadang tidak membantu.

Mike tidak ingin membawa kekasihnya itu, namun Luna sangat bersikeras sehingga di sinilah dia sekarang. Namun firasat Mike semakin tidak mengenakkan, sehingga Mike mendesak Luna kembali ke Jakarta.

“Kenapa aku harus pulang?”

Tidak peduli lalu lalang orang-orang asing yang menatap mereka, Luna perlu mengerti alasan Mike menyuruhnya untuk kembali ke Jakarta. Dengan helaan napas dan senyum tipis di wajah, Mike hanya bisa membetulkan topi berbulu Luna sebelun beralih ke bahunya.

“Kau tahu mereka tidak menyukaiku. Yah, mereka tidak perlu membencimu juga, hahaha.”

Bukannya tertawa, Luna terlihat semakin khawatir dan kesal, “Kau tahu aku tidak peduli, kan? Sudah berapa kali aku mengatakannya? Lihat orang-orang itu! Aku ingin mendukungmu di sini, bukan di rumah, dan orang-orang itu tidak akan bisa menghentikanku!”

Baca Juga  Pengembaraan Hisab

Luna berujar dengan frustasi, menarik perhatian beberapa orang yang mulai mencurigai penyamaran mereka. Namun, Luna tidak lagi peduli. Mike bertingkah aneh belakangan. Dia tidak ingin merasakan hal itu, namun perasaan itu datang begitu saja dan tidak tertahankan.

Mike hanya bisa menggeleng putus asa, “Oh, sayang. Maafkan aku. Tapi aku ingin melindungimu. Aku tahu ini terdengar aneh, tetapi setiap aku di sini, semakin aku merasa aku kehilangan banyak orang-orang terdekatku.”

“Apa ada gadis lain?” tanya Luna memberanikan diri menyatakan kecurigaannya.

“Apa? Luna, kumohon–”

“Jika memang kau sudah bosan denganku, katakan saja! Jangan bersembunyi dan hadapi aku seperti seorang lelaki!”

Tiba-tiba Mike menarik Luna ke dalam dekapannya sembari membelai rambutnya. Nampak setetes air mata jatuh dari mata indah Luna. Mike sadar dia baru saja menyakiti perasaan gadisnya. Mike berusaha menghiburnya dengan mengucapkan kata-kata yang selama ini ingin Luna dengar.

“Ssst, jangan katakan itu. Maaf jika aku membuatmu merasa begitu. Tidak, kukatakan sekali lagi, aku tidak akan pernah melakukan itu, oke? Aku mencintaimu, maaf jika aku mengatakan dengan aneh, tapi aku sungguh hanya mencintaimu. Kita sudah sampai sini, buat apa aku mencari emas jika sudah dapat berlian? Dengar, aku memilihmu dari awal karena kau berbeda dari banyak wanita yang kutemui. Kau sangat sabar denganku dan aku tidak pernah mendengarmu mengeluh tentangku, kau sangat suportif dan menerimaku apa adanya. Aku ingin melindungimu. Tolonglah, dengarkan aku kali ini saja.”

Baca Juga  Di Arung Dalam, Kita, dan Lempah Kuning 

Mendengar monolog tersebut, hati Luna yang sebelumnya dipenuhi kabut, kini bagaikan dipenuhi bintang-bintang. Seketika komitmen Mike mampu menghangatkan hati Luna. Astaga, betapa beruntungnya dia. Kenapa orang-orang harus menjadi begitu buta terhadap kekasihnya? Mike memang keras kepala di luar, namun sebenarnya hanya anak anjing yang meminta kasih sayang dari dalam.

Mike segera melepas Luna untuk menghapus air matanya dengan kedua jempolnya. Lalu, dia melihat papan jadwal yang menunjukkan tujuan ke Jakarta sebentar lagi akan lepas landas, “Lihat, pesawatnya sebentar lagi take off.”

 “Aku benar-benar tidak ingin pergi, tapi aku akan menghargai keputusanmu.”