Karya: Putri Simba

Kring …, suara bel masuk sekolah sudah dibunyikan dengan keras. Namun, Damar siswa superbadung dengan santainya masih asyik duduk-duduk di luar sembari bersembunyi agar tidak ketahuan teman-temannya, kalau dia ingin bolos sekolah.

“Eh, eh, gays, itu sih, Damar, belum datang juga ya,” tanya Mita kepada teman-temanya itu sambil sedikit was-was karena takut Damar sang Kakak dihukum.

“Kayaknya belum deh, tapi apa mungkin dia bolos lagi ya, seperti hari kemarin?” sahut Tenggu, teman sebangku Damar.

“Tidak mungkin kakakku Damar bolos,” ucap Mita lagi membela kakaknya itu

“Alah, sudah, sudah, jangan berdebat lagi,” ucap salah satu temanya lagi yang menghentikan mereka berdebat.

Baca Juga  Aku Adalah Pahlawan

Tap, tap, tap, sudah terdengar keras suara pak Hendra guru mata pelajaran Matematika kami, para siswa kelas XI ¹ gerusak-gerusuk duduk di tempatnya masing-masing. Namun, Damar belum juga datang masuk ke kelas dan sang Guru sudah berada di kelas.

“Assalamualaikum, anak-anak,” ucap Pak Guru menyapa kami semua dengan sunyuman bahagia.

“Wa’alaikumussalam m, Bapak ganteng soleh, bersinar seperti cahaya matahari,” sahut para siswa serentak, sembari memuji sang guru.

“Baiklah anak-anak, silakan pimpin doanya terlebih dahulu, ya, sebelum belajar,” ucap sang Guru lagi kepada para siswanya.

Dengan cepat ketua kelas memimpin doanya sebelum pelajaran dimulai dan usai berdoa sang guru mulai ngabsensi siswanya.

Baca Juga  Kala Lelah

“Okay, baiklah, anak-anak, siapa di sini yang tidak hadir,” tanya sang Guru mapel Matematika kepada seluruh siswa.

“Damar, Pak,” sahut para siswa serentak.

“Lagi dan lagi Damar, ke mana itu Damar?” tanya sang Guru sekalian wali kelasnya.

“Tidak tahu, Pak,” sahut para siswa serentak.

Baru dibahas Pak Guru tentang Damar, tiba-tiba orangnya nongol didepan pintu kelas, mengucap salam.

“Tok, tok, tok, assalamualaikum, Pak,” ucap Damar tanpa bersalah. Mengetok pintu kelas, menatap wajah Pak Guru dan teman-temannya.

“Wa’alaikumussalam, Damar,” sahut para siswa meratapi muka Damar dengan tatapan tajam serius.

“Damar, kemarilah, Nak,” ucap Pak Guru memanggil Damar menuju mejanya.