*Meninggalkan Singapura

Pada bulan Desember 1941, Perang Pasifik mulai mendekat Asia Tenggara. Jepang menyerbu Malaysia dan mulai masuk wilayah Singapura. Pada tanggal 8 Februari 1942, Pasukan Jepang mendarat di Pulau Singapura.

Evakuasi para warga pun mulai dilakukan karena situasi Singapura dalam keadaan genting. Pada malam tanggal 12 Februari 1942, dua hari sebelum jatuhnya Singapura ke tangan Jepang, HMS Vyner Brooke merupakan salah satu kapal yang meninggalkan Singapura dengan membawa pengungsi untuk meninggalkan Singapura.

Meskipun biasanya kapal itu hanya membawa 12 penumpang, selain 47 krunya, Vyner Brooke berlayar ke selatan dengan 181 penumpang, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Di antara penumpang terdapat 65 perawat Australia terakhir yang berada di Singapura.

Baca Juga  Pray for Indonesia

Laporan-laporan lain mengatakan jumlah penumpang berbeda-beda yang berada di kapal. Situs Naval-History.net mengatakan terdapat 47 kru dan 181 penumpang, 125 orang menghilang. Hal ini menunjukkan terdapat 228 orang.

Mayor William Alston Tebbutt, seorang staf perwira perwakilan intelijen Australia yang juga ikut menumpang, menyatakan bahwa yang di atas kapal adalah “.. Letnan R.E. Borton ditambah 50 kru, termasuk kru meriam…”. Dia juga memperkirakan jumlah total penumpang sebanyak 200 orang.

Termasuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak Indo-Eropa. Hal ini
menandakan jumlah keseluruhannya 250 orang. Penulis Ian W. Shaw, di dalam bukunya “Di Pantai Radji” (hal. 126) menyatakan terdapat 65 Perawat Angkatan Darat Australia, sekitar 150 warga sipil dan personil militer serta 40 kru, dengan total sekitar 255 orang.

Baca Juga  Api dan Mawar tanpa Arang

Dalam situs Angelpro.com, Vivian Bullwinkel memberikan pernyataan bahwa “…265 laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang ketakutan, ditambah 65 Perawat Angkatan Darat Australia…”, diperkirakan sekitar 330 orang berada di kapal.

Kapten Borton mengatakan dalam laporannya bahwa orang-orang yang berada di kapal meliputi kru, 7 orang perwira dan 45 orang kelasi, penumpang berkisar 180 orang sipil dan tentara, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Hal ini menandakan terdapat 227 orang penumpang, tetapi kemungkinan tidak akurat untuk petugas kapal ketika berada di laut. Catatan dan ingatan yang berbeda terhadap jumlah para penumpang kapal menggambarkan
situasi yang kacau di Pelabuhan Singapura pada hari-hari terakhir sebelum penyerahan ke pihak Jepang.

Baca Juga  Menulis untuk Kehidupan