Karya: Khoiriah Apriza, Siswi Kelas XI SMAN 1 Airgegas

Aku menghembuskan nafas lelah. Seharian ini, aku mengajar di beberapa kelas XI dan XII baik IPA maupun IPS.

Aku memasuki kelas terakhir yang akan kuajar, yaitu kelas XII IPS 3. Ini kelas terakhir, setelah nya aku bisa istirahat ataupun bisa langsung pulang.

Aku mengucapkan salam kemudian duduk di kursi guru. Para siswa-siswi menjawab salam dengan semangat, walaupun sekarang menunjukkan pukul 14:30 sore, jam ngantuk saat belajar.

Setelah selesai mengisi absensi, aku segera memulai pelajaran bahasa Indonesia.

“Oke, coba kalian kerjakan halaman 110. Jangan lupa nanti dikumpulkan. Ibu mau ke ruang guru sebentar,” ujarku memberikan arahan.

Mereka hanya bisa mengiyakan. Namun, ketika aku akan melangkah keluar, ada seorang siswa yang menghentikanku.

“Bu Diva, mundur Bu,” ujarnya tiba-tiba yang membuatku kebingungan.

Walaupun begitu, perlahan aku mengikuti instruksinya untuk mundur.

Baca Juga  Fana Merah Jambu

“Kenapa emangnya?” tanyaku heran.

“Cantiknya kelewatan,” ujarnya tersenyum sambil mengedipkan mata kanannya.

Sedangkan siswa-siswi lain menyorakinya. Ada sebagian yang bertepuk tangan dan memberikan siulan.

“Bisa aja kamu, Daffa,” kataku seraya menggelengkan kepala pelan. “Sudah-sudah, jangan berisik. Kelas kalian dekat dengan ruang kepala sekolah. Enggak enak kalau sampai ditegur,” lanjutku.

“Jangan lupa untuk terus tersenyum Bu Diva. Karena senyuman ibu yang membuat saya jatuh cinta,” celetuk Daffa sambil tersenyum ke arahku.

Aku hanya terkekeh geli mendengar gombalannya. Setelah itu, aku pun pergi meninggalkan mereka.

***

“Bagaimana, sudah selesai tugasnya?” tanya Diva, guru Bahasa Indonesia memasuki kelas XII IPS 3.

“Udah Bu!”

“Oke, silahkan kumpulkan. Kalian, coba dibaca buku paketnya sambil nunggu ibu mengoreksi tugas kalian,” ujar Diva.

“Bu Diva?” celetuk seorang laki-laki yang ada di dekat mejanya.

Baca Juga  Malam di Ujung Selatan

“Iya? Kenapa Daffa?” tanya Diva tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

“Coba ibu liat, ini apa?” tanya Daffa yang mendekatinya kemudian memperlihatkan cermin ke arah wajah Diva.

“Cermin?” jawab Diva.

“Ada siapa di cermin itu?” tanyanya lagi.

“Wajah Ibu?” tanya Diva sambil menunjuk ke arahnya sendiri.

“Salah, ada wajah calon istri ku di sini,” ucap Daffa setelahnya ia melompat-lompat heboh, tak lupa juga teman sekelasnya menyoraki.

“Enggak mempan gombalannya,” ujar Diva terkekeh pelan kemudian melanjutkan mengoreksi tugas siswa-siswinya.

“Bu, liat ini apa?” tanya Daffa lagi, sambil memperlihatkan smartphonenya yang tidak nyala.

“Hp,” jawab Diva yang melirik ke arah Daffa.

“Ada apa di sana?” tanya Daffa lagi.

“Enggak ada apa-apanya. Gelap,” jawab Diva, ia kemudian menatap Daffa.

“Iya, itu kondisi hati aku kalau enggak liat ibu. Huaaaa!!” teriak Daffa heboh.

Baca Juga  Misteri Rumah Kosong

“Haha makin jadi kamu Daffa. Udah, sana duduk. Di suruh baca malah gombalin gurunya. Mau kamu ibu jewer?” omel Diva sambil terkekeh pelan.

“Enggak bisa dong ibu jewer saya. Kan bukan mahram”

“Ya udah, jadikan ibu mahram kamu,” ujar Diva tersenyum geli.

Saat itu juga, teriakan heboh terdengar dari kelas XII IPS 3. Mereka tak menyangka, Diva ikut membalas gombalan Daffa.

“Ayo! Sekarang kita ke KUA,” ajak Daffa semangat, tak lupa dengan senyuman manisnya.

“Ayo, siapa takut,” tantang Diva.

“Ih Ibu..Bercanda apa serius ni?”

“Menurut kamu? Wajah ibu ini serius atau cuma bercanda?” tanya Diva menatap Daffa.

“Bercanda?” jawab Daffa tak yakin.

“Daffa! Hidup itu harus tahu, di situasi mana waktu serius dan situasi mana waktu bercanda. Kita harus tahu hal itu, agar kita tidak mudah salah paham,” nasihat Diva.