Oleh: Putri Simba

Namaku Putri Rahmawati, biasa dikenal dengan nama penanya Putri Simba, pelajar SMAN 1 Simpang Rimba tingkat akhir (kelas 12 SMA) dari pelosok Selatan Pulau Bangka. Aku merupakan Novel Enthusiasm, penikmat karya tulisan, yang membuatku melebur dalam cerita. Salah satu penulis yang mampu meleburkanku dalam tulisan adalah beliau, (Gol A Gong) sang Maestro Sejuta Pena.

Ini merupakan pengalaman yang luar biasa, berangkat dari harapan yang mungkin cukup mustahil terjadi untuk anak seusiaku. Sebuah keinginan untuk bertemu dengan idola (Gol A Gong) seorang yang mampu membuatku jalan-jalan dalam imajinasinya melalui tulisan. Ia (Gol A Gong) bahkan sesekali aku sebut dalam doa seusai aku menyembah Sang Kuasa. Kira-kira begini doanya:

“Tuhan, ijinkan setidaknya sekali saja aku bersua dan bercerita dengannya. Ijinkan aku melihat dan mendengarnya dalam nyata. Tuhan, tolong … sekali saja”. Begitulah doaku ketika aku masih duduk di bangku Kelas X tingkat SMA.

Saking seringnya diriku berdoa, bahkan sampai lupa kalau kini aku sudah duduk di akhir masa sekolahku di SMA. Harapan itu tetap ada, tetapi mulai luntur karena cukup lama tidak dijawab oleh Sang Maha Kuasa. Namun, disela lunturnya harapan itu muncul jawaban yang selama ini aku tunggu.

Masih teringat kala kala itu (malam hari) aku sedang duduk di ruang tamu menatap TV dengan tangan kanan memegang smartphone (yang sesekali scroll media sosial) untuk melihat beberapa konten menarik seputaran tulisan. Tiba-tiba muncul notifikasi (chat dari seseorang) yang membuat aku sejenak terdiam tanpa kata.

“Put, bisakah kamu datang ke Pusat Kota untuk menghadiri safari Literasi bersama Gol A Gong.” Begitu tanya salah satu guru dalam organisasi kepenulisan di Selatan Bangka yang bernama bapak Tri Prasetio S.Pd

Tanganku gemetar, pikiranku kacau seakan tak percaya dengan chat yang baru kuterima. Dengan sedikit debaran jantung yang makin kencang, tangan makin bergetar, aku mencoba tetap tenang dan tegas menjawab.

“Iya pak, Putri bisa dan mau,” jawabku yang seakan masih tak percaya. Ternyata doaku telah dijawab Sang Kuasa.

Singkatnya, hari yang aku tunggu pun tiba. Aku sengaja menguras semua tabungan yang aku kumpulkan untuk bisa berangkat ke kota. Bahkan aku rela hanya menumpang di salah satu kost tempat teman yang sudah kuliah disana bernama Mila.

Namun sayangnya, tabunganku hanya cukup untuk satu kali jalan saja. Untuk makan pun aku hanya bisa membeli yang sangat sederhanya. Namun, itu bukan masalah bagiku, karena yang terpenting adalah, aku bisa bertemu dengan beliau, (Gol A Gong) Sang Maestro idolaku sejak lama.

Baca Juga  Kita yang Seamin namun Tak Seiman

Dengan keyakinan tinggi, aku yakin Sang Kuasa memberi jalan untuk mempermudah dalam mewujudkan impian hambanya.
Kamis, 31 Oktober 2024 merupakan hari besarnya. Aku antusias mempersiapkan segalanya, bahkan aku berangkat setelah adzan subuh berkumandang. Aku diantar oleh ayahku menggunakan motor bututnya, dengan mata yang masih sedikit sulit untuk dibuka, ayahku perlahan menarik gas motornya menuju halte bis yang menuju ke kota. Aku ingin berangkat lebih awal, karena perjalanan dari rumahku menuju kota tersebut memakan waktu 2-3 jam lamanya.

Tepat saat matahari seperti malu-malu menampakkan dirinya, aku sudah sampai di halte menunggu bis menuju kota. Ayahku menemaniku hingga bis itu datang dan membawaku menuju kota. Tak butuh waktu lama, bis itupun mulai menghampiriku. Dengan keyakinan tinggi, aku memasuki bis tersebut dan sesekali melambaikan tangan ke ayahku sebagai bukti perpisahan kami.

Tak terasa, 2.5 jam bis itu melaju dan akhirnya aku sudah sampai di kota. Kala itu pukul 07 pagi, aku dijemput temanku untuk singgah dikost-nya sebentar (menaruh barang-barangku). Kami hanya mampir sebentar di kost itu, karena kami harus secepat mungkin menuju gedung untuk menghadiri pertemuan dengan Sang Maestro.

Setengah jam berlalu, tepat pukul 08.00 pagi, aku sampai di gedung megah milik kantor Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat pertama kali masuk ke ruangan itu, badanku sedikit kaget karena tidak terbiasa dengan pendingin udara.

Saat acara dimulai, aku sengaja memilih tempat duduk paling depan, dengan harapan supaya lebih dekat dengan idolaku. Rasanya tak percaya, aku bisa sedekat ini, bahkan mendengar sang maestro bercerita di depanku. Sesekali air mataku tak terasa menjatuhkan dirinya sendiri, aku tak peduli, mungkin ia memang ingin merayakan impianku yang menjadi nyata.

“Kamu tidak apa-apa, Put?” tanya peserta lain yang duduk di sebelahku.

“Tidak, aku dan air mataku sedang merayakan impian kami,” jawabku sambil mengusap air mata yang tidak punya malu tersebut.

Tidak terasa, untaian kata yang diucapkan sang Maestro (Gol A Gong) membuatku tersihir tanpa kata. Aku mamatung selama acara tersebut berlangsung, bahkan aku masih mematung saat pembawa acara memastikan acara tersebut sudah berakhir.

Rupanya keberuntunganku hari itu belum berakhir. Masih ada sesi 2 (setelah acara cerita motivasi dari sang Maestro). Aku terpilih menjadi 20 peserta yang mengikuti pelatihan menulis dari sang idola.

Baca Juga  Lato-lato Makan Korban

“Tuhan, terima kasih sudah membuatku beruntung hingga sejauh ini,” gumamku dalam hati.

Namun, Tuhan tidak berhenti membuatku beruntung hari itu. Seusai sesi kedua berlangsung, saat peserta lain sedang asyik foto bersama Gol A Gong. Aku dihampiri guru yang aku kenal dari Selatan Pulau Bangka.yang bernama bapak Tri Prasetio S.Pd

“Kamu sama siapa, Put, di sini?” Tanyanya dengan wajah yang sesekali memperhatikan Gol A Gong.

“Aku sendiri, Pak,” jawabku singkat dengan tanganku reflek mengajak guru tersebut berjabat tangan.

“Terus kamu berangkat sama siapa? Pulang nanti sama siapa?” Ia pun melirikku sambil memasang raut wajah penasaran.

“Putri berangkat sendiri, Pak, dan nanti mungkin pulang pakai bis,” jawabku singkat dan pandanganku menuju ke Gol A Gong dan menunggu momentum untuk bisa foto bersama.

Kami berbincang singkat hingga aku reflek meninggalkan beliau untuk bisa berfoto dengan Gol A Gong. Di moment tersebut aku hanya bisa berfoto selfie saja, karena malu meminta tolong peserta lain untuk memfotokan kami. Namun tiba-tiba Pak Tri Prasetio S.Pd guru yang aku kenal mengulurkan tangannya dan menawarkan diri untuk memfoto kami, (aku dan Gol A Gong)

“Mana, Bapak aja yang fotoin,” ucapnya sambil tersenyum. Aku dengan senang hati memberikan smartphone-ku dan dengan suka cita merayakan moment bersejarah itu.
Di akhir sesi foto, aku meraih tangan Gol A Gong dan memberi tahu rahasia

“Pak, Saya Fans Bapak sejak lama,” ucapku dengan tatapan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Idolaku pun membalas ucapanku dengan senyuman khasnya, hal itu juga yang membuatku sumringah seakan tak percaya.
Pak Tri, guru yang kukenal pun mengembalikan smartphon-ku.

“Ini, Put HP-mu.” Ia mengulurkan tangannya dengan gestur mengembalikan.

Aku mengambilnya, lalu guruku berlalu dan menghampiri Gol A Gong. Sayup kudengar perbincangan mereka kala itu, tiba-tiba bapak Tri Prasetio S.Pd sang guru baik hati itu berjabat tangan denga Gol A Gong dan kembali menghampiriku.

“Put, kamu kan gak tau pulang dengan siapa. Ikut Bapak saja ke kegiatan besok,” ucapnya.

“Kegiatan apa, Pak?” tanyaku dengan penasaran.

“Iya, besok Gol A Gong ada acara di tempat kita, dan bapak yang menjemput beliau hari ini,” jelasnya kepadaku.

Moment inilah yang kembali membuatku seakan tak percaya, keberuntunganku tidak berhenti hari ini. Dengan gestur girang dan seakan tak percaya, aku dengan sigap menjawab

Baca Juga  Dia yang Tak Pernah Mati

“Iya, Pak, Putri mau!” jawabku dengan nada yang agak tinggi.

Mungkin saking gugupnya aku waktu itu, aku lupa bahwa aku membawa banyak barang bawaan di kost temanku (baju dan alat penunjang lainnya). Karena waktunya sangat singkat kala itu, aku langsung diajak oleh guru tersebut menuju mobil yang dimaksud. Diriku gugup kala itu, dan berusaha sebisa mungkin menelpon temanku untuk mengantar barangku ke tempat acara.

Namun, tidak begitu lama waktu berlalu, ketika aku sudah berada di dalam mobil, beliau, Gol A Gong menyusul memasuki mobil kami. Moment itu menandakan bahwa mobil kami harus segera berangkat. Perasaanku campur aduk saat itu: Senang (karena bisa satu mobil bersama idolaku), Sedih (karena barangku harus aku tinggalkan).

“Sudah, tidak apa-apa Put, nanti kamu minjam baju di rekan bapak di sana,” ucap Pak Tri yang menenangkan aku.

Aku hanya bisa menganggukkan kepala saja, karena masih exited seakah tak percaya bisa sedekat itu dengan Gol A Gong.

“Terimakasih banyak, Pak, ini kado terindah bagi Putri,” ucapku berkali-kali kepada bapak guru Tri Prasetio S.Pd yang sudah mau mengajakku semobil dengan sang Maestro.

Mobil mulai dijalankan oleh Pak Sopir, di perjalanan menuju Toboali, aku terus tersenyum bangga karena bisa satu mobil dengan sang idola sambil sedikit berkata:

“Rasanya seneng banget bisa satu mobil dengan Bapak Gol A Gong,” ucapku di dalam mobil itu.

“Ini memang rezeki kamu, Put, beruntung kamu bisa satu mobil dengan beliau,” sahut pak Tri.

“Hehe, iya, Pak,” jawabku singkat.

Ditemani AC yang begitu dingin, kutoleh kanan kiri melihat indahnya pemandangan sejenak, lalu kembali mengobrol ngedumel tanpa henti hingga rem yang diinjak Pak Sopir itu berhenti di satu rumah makan sederhana, karena kebetulan juga perut ini memang sudah berbunyi keroncongan, lapar. Secara bersama dengan Bapak Gol A Gong aku menuruni mobil itu kemudian duduk anteng tersipu malu di samping sang Guru baik hati yang mengajakku.

“Kamu mau pesan apa, Put, silahkan dipesen.” tanya Pak Tri kepadaku.

“Udah, kok, Pak, aku tadi pesen gado-gado sama es jeruk saja,” jawabku kepada sang Guru yang bertanya secara lemah lembut itu.

Sambil menunggu makanan dipesen, semuanya berbincang santai, saat aku duduk di samping Pak Guru, ia mengenalkan aku kepada bapak Gol A Gong, kemudian menyuruhku untuk duduk di samping bapak Gol A Gong sang idolaku.