Mimpi Buruk Afta
Karya: Maria Sareng Putri
Udara dingin mulai menyelinap masuk di balik jaket tebal yang dipakai seorang pria muda. Udara malam ini benar-benar dingin, hawa sekitar terasa mencekam. Di ketinggian 500meter. Gedung tua yang berada jauh dari pusat kota.
Dia berjalan mengendap, menyusuri setiap ruangan yang ada di sana. Suara di luar gedung sangat berisik, kicauan burung, Auman binatang buas, dan suara binatang-binatang malam saling bersahutan.
Di tambah suara kencang angin diiringi dahan pepohonan yang ikut terbawa arus. Menambah kesan horor. Bermodalkan senter dari gawai yang dibawanya Afta kembali mengendap masuk.
Malam itu di saat bumi sudah mulai menyepi. Suara nyaring benda mati pertanda ada yang menelepon membangunkan tidur nyenyak Afta. Pesan yang membawanya ke gedung tua dengan segala mitos buruk yang beredar. Ntah pesan seperti apa itu, sehingga membuat Afta memberanikan diri kemari.
Anyir, bau darah. Itu kesan pertama yang Afta tangkap saat memasuki ruangan lantai 93 nomor 19. Siapa saja tidak akan kuat mencium bau menyengat ini. Rasa mual mulai mengudara. Namun, bukannya keluar Afta semakin di buat penasaran dengan pintu yang ada di ujung lorong.
Pintu itu terlihat berbeda dari yang lain. Warna merah pekat dengan goresan abstrak menghiasi bagian depan. “Pasti ada sesuatu di dalamnya.” Langkah Afta mulai merajut.
Dukh.. kreak.. suara benda yang diinjak dan patah.
Di sana, tepat di bawah pijakan sneakers hitam yang di pakai Afta, tangan putih pucat berlumur darah, yang terpotong dengan nail art cantik itu tergeletak. Sial, orang gila mana yang membuang potongan tangan manusia di sini? Ada yang tidak beres.
Afta pikir setelah ruangan merah pekat tadi tidak ada ruangan lain. Ternyata salah, suara potongan yang terdengar datang dari ruangan bawah tanah yang berada tidak jauh dari hadapan Afta itu lebih gelap, bau menyengat menguar dari sana.
“Bisa jadi ini markasnya. Mereka pintar sekali membunyikan hal besar ini.” “Mungkin tempat penyimpanan senjata nya disini, mereka sedang memproses pembuatannya.” lanjut monolog Afta.
Wajah takut itu berganti dengan senyuman tipis seiring dengan langkahnya yang berjalan masuk kedalam ruangan itu.
“Hahahah.. suara tawa mengerikan mulai terdengar, namun tidak ada balasan. Afta bisa menebak, di sana hanya ad satu orang.
Dukh.. lagi kakinya menginjak sesuatu. Bukan tangan namun kaki, seperti kaki pria.
“Siapa di sana?” Suara syarat akan takut, waspada, panik dan sebuah ancaman itu terdengar. Dari suaranya, sepertinya dia seorang perempuan. Dengan gesit Afta bersembunyi di balik box coklat yang ada di dekat posisinya saat ini.
