Mau Dibawa ke Mana Hubungan Kita
Oleh: Heri Suheri, CIJ., CPW., CA-HNR., CFLS.
Di daerah ini ekonominya sedang turun, atau terjadi (perlambatan) ekonomi secara signifikan dalam dua tahun terakhir berturut-turut. Wilayah ini diketahui bahwa pendapatan daerahnya paling tinggi dari sektor sumber daya alam mineral.
Ketika industri pertambangan mineral daerah ini lagi turun, perekonomian daerah ini juga ikut turun, hal ini menunjukkan ketergantungan terhadap sektor pertambangan mineral begitu tinggi, daerah ini juga kaya akan potensi alam lainnya, seperti perkebunan, potensi perikanan dan kelautan, sejarah, budaya, pariwisata yang seharusnya secara optimal bisa dikembangkan menjadi sumber ketahanan perekonomian berkelanjutan daerah ini.
“Mau dibawa ke mana hubungan kita
Jika kau terus menunda nunda
Dan tak pernah nyatakan cinta
Mau dibawa ke mana hubungan kita
Ku tak akan terus jalani
Tanpa ada ikatan pasti antara kau dan aku
Tak perlu kau tanya lagi
Siapa pemilik hati ini
Kau tahu pasti dirimu
Tolong lihat aku
Dan jawab pertanyaanku”
Ketika Armada menyanyikan “Mau Dibawa ke Mana” tentang hubungan yang menggantung tanpa kepastian, lagu ini seakan mencerminkan perasaan banyak warga masyarakat terhadap arah pembangunan ekonomi daerah ini pasca terus merosotnya perekonomian daerah ini secara signifikan.
Pertanyaannya kini, mau dibawa ke mana sebenarnya pembangunan ekonomi di daerah ini dengan kondisi sekarang?
Lagi-lagi lagu “Mau Dibawa ke Mana” dari Armada seakan menjadi cermin bagi kondisi di daerah ini yang sering kali terkesan menggantung dan seolah penuh ketidakpastian.
Seperti hubungan tanpa status yang hanya menimbulkan kebingungan, ketidakpastian dalam kebijakan pembangunan dapat membawa dampak serius bagi masyarakat.
Daerah ini, yang kaya akan potensi sumber daya alam, sejarah dan budaya, berada di persimpangan jalan, menunggu arah yang jelas dari para pemimpinnya.
Para pengusaha, masyarakat, dan pemuda-pemudi berbakat di daerah ini menunggu kejelasan dalam kebijakan yang bisa membantu mereka berkembang.
Daerah ini perlu diversifikasi ekonomi lainnya secara holistik terintegrasi, selain pada sektor pertambangan, yaitu industri pariwisata alam, pariwisata sejarah dan budaya, sektor perikanan, potensi kelautan lainnya, sektor perkebunan.
Tentunya semua yang disebutkan di atas memerlukan perhatian lebih besar dari semua pihak dalam pelaksanaannya, peningkatan infrastruktur yang layak sebuah keharusan, dan terciptanya ekosistem yang selaras dengan kemajuan teknologi salah satu tujuannya.
Sudah adakah tindakan konkret yang cepat dan akurat dalam mengatasi kondisi yang terjadi saat ini yang bisa membuat rakyat semakin percaya dan optimis? Indikator-indikator pembangunan ekonomi yang ada sekadar menjadi wacana harus segera diolah menjadi langkah nyata.
Masyarakat mengharapkan terobosan regulasi dan praktik berkeadilan yang tidak hanya menguntungkan satu pihak tertentu, tapi juga mampu membuat perubahan lebih baik dan sejahtera bagi daerah ini.
