Oleh: Agustian Deny Ardiansyah, S.Pd.

Siapa yang tidak punya media sosial? Hampir setiap orang di era sekarang pasti memilikinya. Tik-Tok, Ig, Fb atau lainnya pasti ada di menu aplikasi handpone kita.

Terlebih pengoprasiannya tidak rumit-rumit amat, tinggal install, media sosial sudah bisa digunakan. Dari yang berumur hingga paling muda sangat familiar dengan media sosial tersebut.

Tak terkecuali guru, di berbagai platform media sosial ada saja sosok guru. Dari mulai konten jedag-jedug, joget-joget, jualan hingga konten pembelajaran tak luput dari sosok guru.

Terbaru ada kasus yang menyorot guru gara-gara media sosial, bahkan menjadi headline media nasional dengan judul “Guru Sibuk Ngonten Tik-Tok, Siswa Gagal SNPB”.

Baca Juga  Pengelolaan Keuangan Daerah Bangka Belitung di Era Otonomi Daerah: Tantangan dan Harapan

Atau platform media sosial yang menampilkan sosok guru dan siswa dengan konten jauh dari nilai-nilai kesopanan dan kesusilaan.

Selain kasus-kasus di atas, beberapa waktu lalu juga booming istilah “Guru Badut” yang ditulis oleh Iman Zanatul Haeri.

Iman Zanatul Haeri mengolongkan guru badut sebagai guru yang menari dan menyanyi di berbagai platform media sosial untuk menghibur muridnya-muridnya agar memperlihatkan pembelajaran lebih menyenangkan.

Lebih tajam, Iman Zanatul Haeri menyoroti guru badut sebagai guru yang bermutasi menjadi guru kreator konten sehingga sibuk merekam dirinya dan akhirnya meninggalkan kelas.

Berbagai kasus dan sorotan tajam tentang guru dalam bermedia sosial harusnya menjadi intropeksi dan bahan renungan bagi guru.

Baca Juga  Hore, Guru Raudhatul Athfal dan madrasah di wilayah 3T Dapat Tunjangan Khusus, Segini Besarannya?

Kenapa? Ki Hajar Dewantara berpesan, guru haruslah memiliki sifat “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” (di depan memberi contoh, di tengah memberi inspirasi dan di belakang memberi dorongan).

Oleh karena itu di tengah gempuran media sosial seperti saat ini, guru harus bijak dalam menggunakannya, jangan sampai guru yang harusnya digugu dan ditiru jadi haus viewers dan like.

Menyikapi hal tersebut, seorang guru harus pandai-pandai dalam menggunakan media sosial sehingga konten yang dibuat dapat menjadi media inspirasi, edukasi dan ruang kreatifitas guru bukan sebaliknya.

Lalu bagaimana cara guru cerdas bermedia sosial?

1. Membuat Konten Bermakna

Baca Juga  Prestasi Baik Kontingen Karate Bangka Selatan di Kejuaraan FORKI Bangka Belitung

Booming media sosial yang terjadi saat ini bisa menjadi tantangan dan peluang bagi guru. Terlebih di tengah gempuran adsense yang menggiurkan di berbagai platform media sosial seperti youtube, facebook, tik-tok atau lainnya.

Jika tidak tahan, guru bisa terbawa arus dengan membuat konten yang hanya mengejar viewers dan like namun nihil akan kebermaknaan.