Oleh: Serlina—Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Menurut KBBI orang tua adalah orang yang dianggap tua ( cerdik pandai, ahli, dan sebagainya). Orang tua tentunya memilki peran yang sangat penting untuk perkembangan anak, sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya orang tua adalah madrasah pertama bagi anaknya, tidak hanya itu biasanya peran orang tua juga menentukan bagaimana anak mampu berkembang dan beradaptasi dengan lingkunganya. Dengan peran orang tua yang baik tentunya juga akan menciptakan perkembangan anak yang baik.

Seiring perkembangan zaman, banyak remaja  yang mengsalah artikan pola didik orang tua. Mulailah  timbul istilah “Strict Parents” atau orang tua yang pola asuhnya dengan gaya otoriter.

Hal ini sangat kontrofersial di kalangan remaja, banyak yang menganggap ini berlebihan dan tidak masuk akal. Tetapi hal ini tentulah sangat wajar dengan melihat perkembangan zaman dan pergaulan yang semakin hari semakin bebas.

Baca Juga  Membangun Kawasan Pendidikan, Pentingkah?

Namun sebagai orang tua seharunya memberikan pola asuh yang sesuai batasan, tanpa mengurangi rasa percaya terhadap anak. Tak jarang anak yang Strick Parents malah menjadi anak yang nakal dan pemberontak karena mereka menuntut kebebasan dan pengertian dari orang tua.

Para ahli mengatakan bahwa 20 tahun terakhir ini kasus anak-anak yang mengalami stres meningkat hal itu di tandai dengan banyaknya anak-anak dengan tindakan anti sosial, anak menjadi nakal, hal ini terjadi karena pada sistem keluarga misalnya broken home, pola pengasuhan, pertengkaran ayah dan ibu akan memicu pribadi anak yang nakal (Rahayu, 2008).

Hampir 50 % anak usia 1-3 tahun di 54 negara maju menunjukan beberapa sistem ganguan perilaku anti sosial yang dapat berkembang  menjadi perilaku tetap di kemudian hari.

Baca Juga  Merayakan Tahun Baru dengan Kegiatan Bermanfaat

Fenomena ini terjadi di berbagai negara misalnya Kanada dan Selandia bari  menunjukkan sekitar 5-7 % anak mengalami anti sosial, itu akibat dari pola pengasuhan yang salah anak bisa menjadi depresi sebagai gambaran di Amerika menunjukakan 1 % pada anak usia 1-3 tahun, 2 % usia sekolah, dan 5- 8% pada usia remaja yang mengalami depresi.

Di Indonesia sendiri walaupun belum ada angka pasti, namun jumlah anak yang terlibat kejahatan hukum atau kenakalan dapat diprediksi kalau hal tersebut sebagai akibat dari pola pengasuhan yang salah di awal tahun perkembangan (Devi, 2005).

Sebagai orang tua yang bijak seharusnya mampu menyikapi fenomena ini dengan baik. Membuat tempat ternyaman bagi anak sehingga anak menjadi lebih terbuka kepada orang tua dan menjadikan orang tua sahabat tanpa lupa cara menghormatinya, untuk membuat ruang ini bisa dilakukan dengan hal yang sederhana misalnya melakukan family time di ruang makan atau ruang keluarga.

Baca Juga  Kasus Kekerasan Seksual Marak, Bupati Bateng Sorot Peran Orang Tua