Polesan Menjadi Penentu Harga Diri: Menguak Kerapuhan Ego di Balik Obsesi Kecantikan

Oleh: Sayyidah Aufa A — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Di era digital yang serba visual ini, makeup bukan lagi sekadar alat rias. Bagi sebagian orang, ia telah bertransformasi menjadi semacam identitas bahkan tameng yang melindungi harga diri.

Kita semua pasti mengenal setidaknya satu orang yang begitu terobsesi dengan makeup dan penampilannya seolah-olah seluruh eksistensinya bergantung pada seberapa sempurna polesan di wajahnya.

Celakanya, sensitivitas mereka terhadap “penghakiman” penampilan bisa sangat melampaui batas, bahkan ketika tak ada satu pun yang melontarkan kritik.

Dilema di Balik Kecantikan: Antara Ekspresi Diri dan Validasi Eksternal

Baca Juga  Bangka Belitung dan Dinamika Desentralisasi: Urgensi Reformasi Kebijakan Pemerintahan Daerah

Tidak bisa dimungkiri, makeup adalah bentuk seni, ekspresi diri, dan hobi yang menyenangkan bagi banyak orang. Ia bisa meningkatkan rasa percaya diri, menonjolkan fitur terbaik, atau sekadar memberikan sensasi “siap” menghadapi hari.

Namun, ada garis tipis yang memisahkan antara menikmati makeup sebagai bagian dari diri dengan menjadikannya satu-satunya penentu nilai diri.

Masalah muncul ketika makeup menjadi sebuah topeng, bukan lagi pelengkap. Topeng ini dipakai untuk menutupi ketidakamanan atau insecurities yang mendalam, keraguan diri, atau bahkan kekurangan yang dirasa ada.

Dalam kondisi ini makeup bukan lagi soal mempercantik, melainkan tentang menciptakan ilusi kesempurnaan yang diharapkan bisa memancing pujian dan validasi dari orang lain. Sayangnya, fondasi harga diri yang dibangun di atas ilusi dan validasi eksternal ini cenderung rapuh.

Baca Juga  Di Tepi Samudera Kebenaran: Menakar Reputasi dalam Timbangan Ilahi

Peran Media Sosial dan Standar Kecantikan yang Mustahil

Mari jujur, media sosial punya andil besar dalam fenomena ini. Setiap hari, kita dibombardir oleh gambar-gambar influencer dengan riasan sempurna, kulit mulus berkat filter, dan pose yang memamerkan fitur terbaik. Ini menciptakan standar kecantikan yang seringkali tidak realistis dan sulit dicapai oleh orang biasa.

Fenomena perbandingan sosial pun tak terhindarkan. Kita mulai membandingkan diri dengan standar yang ada di layar ponsel lalu merasa kurang, tidak cukup cantik, atau tidak sepopuler mereka. Tekanan untuk selalu “tampil” dan “memperbarui” penampilan menjadi begitu besar.

Aplikasi dengan filter wajah yang mengubah fitur wajah secara instan semakin memperparah disforia citra tubuh (body dysmorphia), di mana seseorang menjadi terobsesi dengan kekurangan fisik yang dianggapnya ada, padahal mungkin tidak signifikan atau bahkan tidak ada sama sekali.

Baca Juga  Normalisasi Tambang Ilegal di Bangka Selatan dalam Perspektif Politik Ekologi

Lingkaran setan ini terus berputar, merasa insecure lalu mencari validasi melalui makeup dan penampilan, namun tak pernah merasa cukup.

Harga Diri yang Rapuh: Ketika Kritik Melukai Jiwa

Inilah poin yang mungkin paling membuat kita gemas. Orang yang terlalu mengagungkan makeup seringkali sangat sensitif terhadap kritik, bahkan yang tidak langsung atau bahkan tidak ada.