Pariwisata Berkelanjutan di Bangka Belitung: Antara Potensi dan Tantangan Pascapertambangan

Oleh: Sinta Desta Rina – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini berada pada fase transisi ekonomi yang strategis, di mana sektor pariwisata mulai diposisikan sebagai alternatif untuk menggantikan dominasi sektor pertambangan timah yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Kendati memiliki potensi pariwisata yang tinggi, baik dari segi keindahan alam pesisir maupun kekayaan budaya lokal, upaya untuk mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan di wilayah ini dihadapkan pada beragam tantangan kompleks.

Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang holistik serta perencanaan strategis jangka panjang yang berbasis data dan berkelanjutan.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik mengindikasikan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih menunjukkan pola fluktuatif yang cukup signifikan. Pada laporan per Oktober 2024, tercatat sebanyak 42.443 tamu menginap di hotel berbintang, yang mencerminkan adanya peluang pertumbuhan di sektor akomodasi pariwisata.

Baca Juga  Pro-Kontra Pertambangan Timah dalam Perspektif Sosial Ekonomi

Namun demikian, capaian ini perlu dianalisis secara lebih komprehensif, mengingat keterbatasan infrastruktur pendukung pariwisata yang masih menjadi kendala utama dalam mendukung pengembangan sektor ini secara berkelanjutan.

Pemerintah pusat menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengembangan sektor pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung melalui penerbitan Peraturan Presiden No. 17 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional Bangka Belitung Tahun 2023–2044.

Dokumen perencanaan strategis ini menjadi landasan kebijakan jangka panjang yang menegaskan upaya pemerintah dalam menjadikan pariwisata sebagai pilar utama ekonomi alternatif di kawasan tersebut.

Pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kepulauan Bangka Belitung dihadapkan pada tantangan besar yang tidak terlepas dari warisan historis industri pertambangan timah, yang telah meninggalkan kerusakan lingkungan berskala luas.

Baca Juga  Awal Tahun 2023 Sudah Ada 5 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Kota Pangkalpinang

Aktivitas penambangan ini telah menyebabkan degradasi ekosistem, penurunan keanekaragaman hayati, serta memburuknya kualitas tanah dan air, faktor-faktor yang secara langsung memengaruhi daya tarik wisata berbasis alam yang menjadi andalan utama wilayah ini.

Pencemaran lingkungan yang dihasilkan dari aktivitas tambang turut menimbulkan dampak sistemik terhadap kawasan pesisir dan laut, termasuk kerusakan terumbu karang, pencemaran perairan, dan sedimentasi berlebih.

Dampak-dampak tersebut tidak hanya mengancam kelestarian ekosistem laut, tetapi juga menurunkan nilai estetika serta daya tarik wisata bahari, yang merupakan keunggulan komparatif Bangka Belitung.

Meski demikian, dalam kerangka pandang yang lebih progresif, kondisi ini juga membuka peluang untuk merancang pendekatan inovatif melalui pengembangan pariwisata restoratif (pemulihan) dan edukatif.

Baca Juga  Sastra Cyber, Seberapa Layak?

Inisiatif untuk merevitalisasi bekas lahan tambang sebagai destinasi wisata alam berkelanjutan dapat menjadi model transformatif yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pariwisata berbasis tema dan konservasi.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menyoroti urgensi penerapan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dalam pengembangan sektor pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung.

Menurut pejabat kementerian, “pengembangan pariwisata di Bangka Belitung harus menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan”, mengingat model konvensional terbukti kurang efektif dalam menghadapi tantangan lingkungan yang telah mengalami degradasi.