Oleh: Yoelchaidir

Dengan lahap Lalan menyantap makanan yang dihidangkan di hadapannya.

Segala buah buahan yang nampak ranum tak luput dari jangkauan tangannya.

Lalan tetiba kenyang dan puas dengan hidangan yang tersedia.

Ia seharian lelah, rasa haus dan lapar membuat gemetar seluruh badan.

Seorang nenek tua melihat Lalan menangis memecah sunyi hutan rimba.

Sang nenek lalu merangkul tubuh mungil Lalan dan membawanya menuju ke sebuah pondok.

Nenek lalu  menyiapkan berbagai makanan yang terlihat nikmat di mata Lalan kecil.

Lalan tak pernah terpikir sebelumnya ia telah tersesat di hutan pondok kebun.

Lalan mengejar sang ayah yang berjalan menuju sungai untuk mengangkat bubu atau injap.

Baca Juga  Cosmos Abadi di Nagasaki

Sementara Ibu dan kakaknya baru tersadar.

Lalan sudah tidak ada di teras pondok kebun.

Mereka segera mencari di seputaran kebun dan hutan kecil.

Begitu juga dengan sungai tempat pemandian yang berada tak jauh dari pondok kebun, namun hingga petang  Lalan kecil tak mereka temukan.

***

Pak Ugek hampir menjelang Maghrib tiba di pondok kebun.

Ia membawa banyak ikan tangkapan dari sungai.

Pak Ugek terdiam sesaat mendengar penuturan sang istri atas kejadian tersebut.

“Memang tadi pagi Lalan mau ikut ke sungai tapi nggak saya ajak,” kata Pak Ugek lirih membuka percakapan setelah terdiam beberapa saat.

Ternyata tanpa sepengetahuan Pak Ugek, anaknya yang masih kecil itu nekat mengikuti langkah kaki sang ayah.

Baca Juga  Harapan di Persinggahan

Namun ia tak mampu untuk menyusul.

Lalan kecil akhirnya tersesat.

***