Kenangan di Balik Pintu Kelas Putih Abu-Abu
Kenangan di Balik Pintu Kelas Putih Abu-Abu
Oleh: Putri Simba
Pintu kayu itu tak lagi berderit seperti dulu. Engselnya mungkin sudah dilumasi, atau diganti dengan yang baru. Tapi suara-suara dari masa lalu tetap hidup di sana, takpernah benar-benar pergi.
Setiap kali aku berdiri di depannya, ingatan seperti meledak. Tawa riuh, teriakan bercanda, dan obrolan tanpa ujung yang mengisi hari-hari kami. Kelas itu bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah saksi bisu dari cerita kami, cerita yang takpernah bisa ditulis ulang, hanya bisa dikenang.
Kala itu … di siang hari di saat Dinda membuka pintu kelas dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya menggenggam erat sebuah novel tebal yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan. Begitu pintu terbuka, dor … yang di kelas kaget, “Ada guru! Ada guru!!”
Seruan itu membuat seisi kelas langsung panik. Dalam hitungan detik, semua duduk tegak, tangan di atas meja, berpura-pura membaca atau menulis sesuatu. Padahal, takada siapa-siapa di lorong yang ada hanyalah Dinda yang baru saja dari perpustakaan sekolah membaca buku favoritnya.
“Dindaaaa!”Teriakan protes pun menggema dari suara para siswa kelas XII-1.
Dinda hanya terkekeh pelan, memamerkan senyum polosnya. “Maaf, Gais … tadi aku udah ucap salam, kok, pelan tapi,” ucapnya santai sambil berjalan ke bangku tempat duduknya lalu langsung membaca buku novel yang dia pinjam itu.
“Makanya Din, kalo masuk itu ketok dulu, bilang salam, masuk main nyelonong aja seperti hantu!” Ujar Rini siswa paling cerewet, tetapi baik hati tidak sombong yang sedikit kesal memarahi Dinda karena selalu muncul tiba-tiba.
