Dialah Pahlawan, sang Guru Tak Bernama

Oleh: Putri Simba

Kabut tipis masih menyelimuti sawah dan embun terakhir menggantung manja di ujung daun padi. Udara pagi terasa dingin namun damai, seolah waktu enggan bergerak. Takada deru kendaraan, takada hiruk pikuk kota hanya suara ayam berkokok dan desir angin yang menyapa dedaunan.

Di sebuah desa kecil, tempatnya puluhan tahun lalu, datanglah seorang laki-laki tua berambut putih membawa satu tas lusuh, sehelai sarung yang sudah bolong di ujung, dan mata yang menyimpan duka mendalam. Takada yang tahu dari mana ia berasal, dan ia pun tak pernah bercerita.

Tapi sejak hari pertama kakinya menginjak tanah kampung itu, satu hal pasti: ia mencintai anak-anak di sana, lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.

Ia tinggal di gubuk tua persawahan milik warga baik hati di sana, Pak Dermawan. Suatu pagi, tatkala Bapak itu keluar rumah gubuk pertama kalinya, ada beberapa anak yang tengah bermain layangan mendatangi bapak itu karena ada rasa penasaran dari mana datangnya bapak asing tua itu.

“Pak, sepertinya kami gak pernah lihat Bapak di sini ya, apakah Bapak orang baru, dari mana asalnya, dan nama Bapak siapa?” tanya anak-anak itu penuh penasaran.

Baca Juga  Merindukanmu

“Iya, Nak, Bapak baru di sini. Bapak datang hanya ingin mendidik anak-anak muda yang ada disini. Dan yang lainnya tidak perlu dikatakan nanti juga kamu akan taju,” sahut Bapak Tua itu yang tidak menyebutkan namanya.

“Nak, maukah kalian belajar dengan Bapak?” tanya Bapak Tua.

Anak-anak itu saling pandang, ragu. Beberapa menunduk. Salah satu dari mereka, seorang anak perempuan maju selangkah.

“Untuk apa belajar, Pak? Lagian di sini kami belum punya sekolah,” suaranya tegas. “Fasilitas pun tidak ada. Jadi… untuk apa belajar?” ujar anak perempuan itu yang bernama Rindu dengan nada yang bukan marah tapi getir.

Bapak tua itu terdiam sejenak. “Nak, Bapak tahu tempat ini tak punya bangku, papan tulis pun takada. Tapi tahukah kamu, belajar bukan soal ruang kelas. Belajar soal harapan dan kalau kalian menunggu segalanya sempurna untuk mulai belajar, maka kalian akan kehilangan waktu.

Tapi kalau kalian mau belajar sekarang, meski dengan keterbatasan, kalian sedang membuka pintu masa depan,” ujar bapak tua itu kepada anak-anak yang ada di hadapannya.

Anak-anak itu masih berpikir meluluhkan hatinya apakah ingin belajar memulai hal baru atau tidak. Dua menit kemudian mereka semua satu persatu mengajukan tangannya.

Baca Juga  Pantun Pantun Semangat Literasi (Bagian II): Beradu Nulis

“Pak, saya ingin belajar, Pak, memulai hal baru karena saya ingin mengubah desa ini jadi lebih baik,” kata anak laki-laki yang berada di samping Rindu.

Satu persatu di antara mereka tunjuk tangan dan Rindu pun ikut ingin belajar bersama dengan penuh semangat. Keesokan harinya, pak tua itu mulai mengajari anak-anak dengan senyuman penuh dedikasi di halaman gubuk sederhananya itu.

“Anak-anak, A … ini berati awal dari angan masa depan, B … ini berjuang meski harus jatuh bangun disetiap proses nya,” katanya sambil tersenyum, walau batuknya terdengar di telinga siswanya itu.

Hari berganti, Anak-anak mulai mengenal huruf, mulai membaca, mulai menulis nama mereka sendiri. Tapi tak satu pun dari mereka tahu bahwa Pak Tua sering menahan rasa sakit, penyakit mematikan yang bahkan sulit disembuhkan .

“Ya Allah, tolong kuatkan saya, jangan biarkan saya tumbang ataupun engkau panggil saya dulu, karena tugas saya untuk mendidik anak-anak didesa ini belum selesai,” keluhnya kepada Sang Kuasa di hamparan sajadah tua dengan mengangkat kedua tangan.

Sepanjang hari bapak tua itu terus berusaha kuat meski menahan rasa sakit, terus mengajar anak-anak di desa meski tidak semua warga menyukai kehadirannya. Ada yang menganggapnya tak berguna. Bahkan kepala desa sendiri pernah berkata kasar kepada Bapak Tua itu.

Baca Juga  Pangung Retorika

“Kalau Bapak tak punya surat tugas ataupun gelar, buat apa ngajar anak-anak kami? Kami bisa usir kau kapan saja. Jadi, sudahlah, lebih baik Bapak berhenti saja mengajar!”

“Iya betul, lebih baik berhenti saja, ayo Bapak, Ibu, mari kita bawa anak-anak kita,” ujar salah satu warga yang ada di sana tak terima kalau anaknya diajari Bapak Tua.

Tetapi pak tua itu hanya terdiam saja. Di tengah itu ada pak Dermawan, warga yang memberikan tumpangan tempat tinggal untuk bapak tua seketika langsung membela bapak karena ia tidak salah karena juga baginya masa depan untuk anak-anak desa itu penting.

“Pak Kepala Desa, seharusnya Bapak tidak boleh begitu dengan Bapak tua ini, seharusnya Bapak bisa mendukung beliau untuk mengajar, jika Bapak juga berpendidikan, mengapa Bapak tidak mendukung, menanya Bapak ingin anak-anak tidak bisa mengenal huruf, jauh dari masa depan,” kata Pak Dermawan membela pak tua.

“Kami ingin sekolah, jangan larang kami belajar,” ujar anak-anak yang baru saja dibina oleh pak tua.