Pandangan Islam terhadap Pendidikan

Oleh: Supriatin, S.E — Aktivis Dakwah Islam

Pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMP Negeri 1 Koba telah ditutup dan mengalami kelebihan pendaftar hingga 88 siswa dari daya tampung 252 siswa, (Timelines.id/11 Juli 2025).

Berdasarkan laporan dari panitia penerimaan murid baru, SMPN 3 Koba merupakan sekolah yang minim pendaftar, bahkan masih ada 2 kelas kosong yang belum terisi.

“Kepada masyarakat yang mendaftarkan anaknya ke SMPN 1 Koba, silakan daftar ke SMPN 3 Koba yang kuotanya masih belum terpenuhi. Harapan kami, masyarakat yang rumahnya dekat SMPN 3 Koba, agar daftar kembali ke SMPN 3 Koba, karena tahun ini tidak ada penambahan kuota,” kata Pangihutan Sihombing selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Bangka Tengah, (Babelnews.id/12 Juli 2025).

Baca Juga  Adaptasi Makhluk Hidup terhadap Lingkungannya, Ini Contohnya

Berubahnya jalur zonasi menjadi domisili dalam penerimaan siswa baru belumlah mampu menyelesaikan problem pemerimaan siswa baru. Terbukti ada dua SMPN  di Koba, Bangka Tengah yang overload. Sedangkan ada 1 sekolah lagi yang masih kekurangan murid. Setiap tahun ajaran baru siswa selalu ada problem.

Kapitalisme Sumber Problem

Sistem kapitalisme menjadi dalang munculnya problem penerimaan siswa baru. Kapitalisme adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. asas inilah yang memayungi dunia pendidikan saat ini. Jadi wajar jika kurang seriusnya penguasa memberikan dukungan pada dunia pendidikan dalam bentuk nyata.

Kurangnya fasilitas ruangan,  pada sekolah yang menjadi tujuan para murid menjadi kendala diterimanya murid. Seharusnya ini sudah harus menjadi perhatian penguasa. Di sisi lain sekolah yang kurang diminati murid seharusnya penguasa berusaha agar sekolahan tersebut menjadi diminati murid, mulai dari fasilitas, tenaga pendidik, hingga gaji guru.

Baca Juga  Pentingnya Pengembangan Literasi: Dalam Tinjauan untuk Kemajuan Bangsa

Namun upaya ini nampaknya kurang serius diperhatikan. Kita melihat bahwa sekolah unggulanlah yang fasilitasnya lumayan memadai sedangkan sekolah yang  kurang diminati peserta didik fasilitasnya tidaklah sama dengan sekolah unggulan. Wajar jika membuat calon peserta didik lebih dominan memilih sekolah yang mereka anggap lebih keren.

Sistem kapitalisme juga telah menciptakan paradigma berfikir murid dan wali murid bahwa sekolah unggulan adalah sekolah yang keren secara bangunan fisik, sehingga enggan untuk menyekolahkan anaknya di tempat sekolah yang kurang diminati.

Dalam sistem kapitalisme, biaya sekolah tidaklah murah. Faktor inilah yang menyebabkan kebanyakan wali murid  menyekolahkan anaknya ditempat yang terjangkau seperti sekolah negeri. Walaupun faktanya akan ada pengeluaran biaya seperti seragam, buku, dll yang harus dibeli sendiri. Namun ini lebih terjangkau dibandingkan sekolah swasta.

Baca Juga  QRIS: Sistem Pembayaran Paling Sukses

Islam Solusinya