Banjir Investasi dari Negeri China

Oleh: Nurul Aryani — Aktivis Dakwah Bangka Belitung

Bicara tentang investasi memang menarik. Investasi menjadi bagian dari ekonomi kapitalisme hari ini. Sebelumnya, apa itu investasi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia investasi berarti penanaman uang atau modal pada suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Abad ini kata investasi sering diucapkan dari pejabat level nasional hingga daerah.

Bangka Belitung juga baru-baru ini mendapatkan investasi dengan nilai fantastis yakni sebesar 5.1 triliun rupiah dari salah satu perusahaan China, yakni PT CCCC First Harbor Engineering Company Ltd yang untuk ketiga kalinya telah datang langsung ke lokasi titik pembangunan pelabuhan bertaraf internasional di Belinyu, Kabupaten Bangka yang akan dibangun kurang lebih di atas lahan seluas 400 hektare.

General manager perusahaan asal China tersebut menyatakan tertarik berinvestasi di Babel sebab letak Babel yang strategis yakni secara geografis pulau Bangka berada di lalu lintas perdagangan internasional. (Babelprov.go.id, 30/07/2025)

Letak Bangka Belitung yang bisa dikatakan “seksi” telah menggoda banyak investor lain untuk datang. Salah satunya juga berasal dari Singapura. Gubernur Babel mengatakan pada pertemuan Rabu 2 Juli lalu, investor Singapura ingin berinvestasi sebesar 40 triliun rupiah untuk membangun peternakan ayam, pariwisata, lapangan golf, bandara hingga pelabuhan di Kepulauan Babel. Keinginan tersebut masih dipertimbangkan oleh Gubernur Babel. (Antara News, 2 Juli 2025)

Baca Juga  Implementasi Pembelajaran Berbasis STEM pada Mata Pelajaran IPS di SMPN 29 Semarang

BRI: Proyek Prestius untuk Keuntungan Tiongkok

Bicara tentang investasi di Babel kita perlu berdialektika tentang hal ini sebab bukan hanya mereka yang pro investasi yang ingin membangun Babel tapi mereka yang kontra terhadap investasi juga sama-sama ingin membangun dan menyayangi bumi serumpun sebalai ini. Karena itu dialektika dan diskursus investasi ini lahir semata dari kepedulian kita pada kepulauan ini.

Beberapa perusahaan China yang mulai melirik Bangka Belitung sebagai tempat investasi tidaklah mengherankan. Sebab Negara Tirai Bambu tersebut memang memiliki proyek prestisius yang disebut dengan BRI (Belt and Road Initiative).

Dilansir dari CNN Indonesia Program jalur sutera atau BRI China diciptakan oleh Presiden China Xi Jinping pada 2013 untuk berinvestasi di lebih dari 130 negara dan organisasi internasional. Sejak dijalankan, inisiatif ini telah menghasilkan miliaran dolar yang dituangkan ke dalam proyek infrastruktur.

Proyeknya pun beragam dari mulai pengaspalan jalan raya dari Papua Nugini ke Kenya, membangun pelabuhan dari Sri Lanka ke Afrika Barat, dan menyediakan infrastruktur listrik dan telekomunikasi untuk orang-orang dari Amerika Latin hingga Asia Tenggara.

Program BRI tersebut membuat investasi China di Indonesia melesat tajam. Pada 2013, total investasi China hanya menembus US$ 297 juta yang menempatkan mereka pada posisi 12 investor terbesar di Indonesia. Pada 2015, China naik ke peringkat ke-9 dengan investasi US$ 628 juta hingga mencapai posisi ketiga pada tahun 2017.Pada Semester I-2023, investasi China di Indonesia sudah menembus US$ 3,8 miliar. (CNBC Indonesia, 19/10/23)

Baca Juga  Bekelakar: Budaya Komunikasi dan Kehangatan Sosial di Bangka Selatan

Selain di bidang infrastruktur China juga bergairah untuk menanamkan investasinya pada pertambangan nikel. Aliran dana itu utamanya berasal dari China, entah secara langsung ataupun melalui perusahaan cangkang di Hong Kong dan Singapura, kata Bhima Yudhistira, ekonom dan direktur eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) pada Kamis (25/01).

Sebagai catatan, Singapura dikenal sebagai hub keuangan atau tempat bagi investor asing dari berbagai belahan dunia menaruh uangnya untuk berbisnis di Asia. Karena itu, investasi dari Singapura ke Indonesia konsisten nomor satu dari tahun ke tahun, dengan angka menyentuh US$12,1 miliar (Rp192,2 triliun) pada 2023, merujuk data BKPM.

Sementara itu, investasi dari China dan Hong Kong adalah yang terbesar kedua dan ketiga pada tahun lalu, masing-masing dengan US$5,6 miliar dan US$5,2 miliar. Angka investasi dari China dan Hong Kong melonjak dalam 10 tahun terakhir di periode pemerintahan Jokowi, sejalan dengan berkumandangnya program hilirisasi. (BBC Indonesia, 29/01/24)

Dari berbagai data diatas dapat kita lihat bahwa dalam 10 tahun terakhir nilai investasi China melonjak tajam, hal ini berbanding lurus dengan tujuan BRI yang di cetuskan China 12 tahun lalu. Tentu saja berbagai investasi dari China ini hanya akan menguntungkan negara dan perusahaan mereka.

Baca Juga  Teknologi dan Literasi Digital: dalam Upaya Mengatasi Kesenjangan Pendidikan di Daerah Terpencil

Ekonom Bima Yudhistira menyatakan karakteristik investasi China itu, karena ingin cepat, dia mengimpor banyak sekali bahan baku besi dan baja dari luar negeri. (BBC Indonesia, 29 Januari 2024)

Direktur Studi Cina-Indonesia, Center for Economic and Law Studies (Celios), dikutik dari Gatra.com, Zulfikar Rakhmat menilai ketergantungan Indonesia terhadap investasi Cina membawa kerugian bagi negara. Pasalnya, sejumlah proyek infrastruktur yang didanai Cina mengalami masalah mulai dari sisi pembiayaan, lingkungan hingga isu ketenagakerjaan.

Melihat posisi Babel yang strategis dan berada di lintas jalur perdagangan internasional wajar saja membuat perushaan China tertarik. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah semua investasi milyaran hingga triliunan rupiah diberikan China secara cuma-cuma? Tentu saja jawabannya tidak.

Sebab perusahaan asing dari negara asing tersebut tentulah tidak membangun pelabuhan karena peduli pada rakyat melainkan motif bisnis semata. Berbagai investasi yang digelontorkan China tentu saja sarat akan kepentingan bisnis dan ekonomi negara tersebut yang menjadi raksasa ekonomi di Asia.

Oleh karena itu, mengamankan jalur perdagangan termasuk dengan membangun bandara dan pelabuhan eskpor impor adalah salah satu langkah strategis untuk konektivitas global menuju daratan Tiongkok.