Simbol Bendera One Piece dan Arah Gerak Perjuangan Hakiki
Simbol Bendera One Piece dan Arah Gerak Perjuangan Hakiki
Oleh: Nurfitriani, S.Sos — Anggota Back to Muslimah Identitiy Community
Belakangan ini, viral aksi pengibaran bendera bajak laut ala anime One Piece di Indonesia. Terutama menjelang HUT ke-80 RI kemarin, aksi ini pun telah menjadi sorotan publik.
Bagi sebagian orang tindakan ini sekadar ekspresi budaya populer generasi muda, sebagian yang lain menganggap fenomena ini sebagai ancaman terhadap simbol negara dan potensi sikap kontra pemerintah.
Namun, bagi penggemar anime One Piece yang akrab disebut dengan “nakama”, fenomena ini dianggap sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap ketidakadilan sosial-politik yang terjadi di negeri ini. (Tempo.co, 05/08/2025)
Sebagai sebuah karya fiksi, One Piece memang sarat dengan simbol. Kisah Luffy dan kru Topi Jerami bukan hanya perjalanan mencari harta karun, tetapi juga perlawanan terhadap tirani, penindasan, dan dominasi “pemerintah dunia” dalam narasi cerita. Namun, ketika simbol-simbol dari dunia fiksi ini dibawa ke ranah sosial-politik Indonesia, menimbulkan pertarungan makna dan paradigma di tengah masyarakat.
Interaksionisme Simbolik: Membaca Makna One Piece di Ruang Publik
Teori interaksionisme simbolik menegaskan bahwa tindakan manusia selalu didasari oleh makna yang ia pahami. Makna ini bukan sesuatu yang statis, tetapi terbentuk melalui interaksi sosial, diskusi, tontonan, bacaan, bahkan pengalaman sehari-hari.
Bendera One Piece, yakni Jolly Roger menjadi contoh nyata. Berbagai pemaknaan muncul dari satu simbol saat dibawa ke ruang publik. Mulai dari pemaknaan sebagai simbol kebebasan, perlawanan, kepahlawanan, hingga ada juga yang memaknai sebagai pelecehan terhadap simbol negara, bahkan potensi makar.
Inilah yang disebut pertarungan makna. Dulu, bendera tengkorak identik dengan perompak dan kriminal. Tetapi melalui interaksi budaya populer, ia kini dimaknai ulang sebagai simbol keberanian dan solidaritas melawan ketidakadilan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makna sebuah simbol bersifat dinamis. Ia bisa berubah, dinegosiasikan, bahkan ditantang melalui interaksi sosial. Dalam sosial-politik di Indonesia, pemerintah seharusnya tidak serta-merta mengkriminalisasi pengibaran bendera One Piece, melainkan membaca pesan sosial yang dikandungnya berkenaan dengan keresahan rakyat terhadap ketidakadilan dan kekecewaan terhadap penguasa.
Simbol sebagai Cermin Sosial
Charles Horton Cooley melalui konsep looking-glass self menjelaskan bahwa manusia membentuk jati diri berdasarkan cermin penilaian orang lain. Interaksi sosial menjadi “cermin” tempat seseorang menilai perilaku, dan bahkan simbol yang ia gunakan, kemudian hasil interaksi sosial itulah yang membentuk evaluasi diri. (Cooley, 1902)
Fenomena One Piece di Indonesia dapat dibaca dalam kerangka yang sama. Maraknya pengibaran bendera One Piece merefleksikan kekecewaan rakyat terhadap kondisi sosial politik dan ekonomi di Indonesia.
Kesenjangan sosial yang semakin lebar. Kekuasaan digunakan bukan untuk melayani rakyat, melainkan untuk melindungi kepentingan segelintir elit politik dan pengusaha. Akibatnya, rakyat dipaksa menghadapi beban hidup yang berat. Seperti harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja terbatas, korupsi merajalela, sementara pelayanan publik semakin dikomersialisasi.
Tidak heran, rakyat kemudian mencari simbol alternatif untuk mengekspresikan perlawanan. Bendera One Piece menjadi medium simbolik, seolah mengatakan bahwa rakyat siap “memberontak” terhadap sistem yang menindas. Maka fenomena ini seharusnya menjadi evaluasi besar bagi para penguasa. Tetapi, apakah perjuangannya cukup berhenti pada simbol ini?
Akar Masalah: Kapitalisme Sekuler
Sejatinya semua permasalahan negeri ini berakar pada sistem kehidupan yang digunakan, yakni sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini menyingkirkan agama dari ruang publik, menjadikan akal sebagi sumber hukum dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi para pemilik modal untuk menguasai kekayaan dan kebijakan.
