Sepucuk Surat Receh untuk Kakak (Tamat)
“Eits, kalo di Tigaraksa iya, tapi inget ga yang pas balik ma’had tapi lu-nya malah ke Tanah Abang,” timpal Kakak menyangkal.
Aku mengingat memori itu, memori memalukan dalam hidupku.
Saat itu aku menginjak tahun kedua kehidupanku di ma’had, tahun kedua pada masa putih-biruku. Kala itu aku sudah harus balik ke ma’had, menggunakan kereta, dari stasiun Pondok Ranji.
Dan saat itu kakak belum mempunyai motor, alhasil aku ngegrab bike menuju Stasiun Pondok Ranji. “Duluan aja ya, nanti kita ketemu di Stasiun Cisauk,” ujarnya, kala itu.
Aku yang buta arah jelas saja bingung. Ketika memasuki peron harusnya aku menyebrangi peron, tapi pada saat itu kereta berhenti tepat di depanku, dan ramai sekali yang masuk.
Bodohnya, aku malah ikut masuk. Lagi, lagi tanpa handphone, aku sendirian di kereta tanpa orang yang ku kenal. Aku menyadari ada yang tidak beres dari jalur ini. Karena sudah ber jam-jam kereta ini masih tidak sampai pada tujuannya, Stasiun Cisauk.
Kembali melihat rute kereta, dan benar saja aku salah arah. Pada akhirnya sampailah aku di Stasiun Tanah Abang, dari Tangerang sampai ke Jakarta Selatan. Aku memutuskan turun kereta, kemudian naik lagi ke kereta yang berlawanan arah, menuju Stasiun Cisauk.
Lega, itu yang kurasakan ketika aku sampai pada tujuan awalku, Stasiun Cisauk.
“Selamat sore, mohon kepada adik yang menggunakan baju pink segera ke meja pusat informasi.”
Baru saja dengan santainya menenteng ransel, mendengar announcement itu aku tidak merasa yang dimaksud adalah aku, hingga …, “Dek, sini dulu, tunggu disini ya, kakaknya dari tadi mondar-mandir nyariin kamu!” tegur seorang petugas kereta saat itu.
Kemudian, petugas pemilik suara cantik itu menelpon, “Iya Kak, adiknya sudah kami amankan disini.”
Panik? Sudah pasti. Aku mengusap telingaku, berharap beberapa menit lagi tetap utuh kedua telingaku. Suguhan susu dari pihak layanan kereta api membuatku tenang sebentar.
“Braaak!” pintu itu terbuka, kudapatkan wajah Kakak yang merah padam karena marah.
“Terima kasih, ya, Kak,” tutur Kakak kepada para petugas yang membantuku tadi.
Sekeluarnya aku dari ruangan, Kakak menjewer telingaku sampai keluar stasiun. Selain rasa sakit yang menerpa kedua telingaku, akupun malu. Bayangkan saja dijewer dari ruang pusat informasi sampai keluar stasiun yang jaraknya lumayan jauh dan banyak orang yang menyaksikan. Rest In Peace My Ear.
“Kan udahh gue bilang, tunggu dulu, berangkat ke Cisauk-nya barengan,” cecar Kakak, masih dengan raut wajah yang menyeramkan. Padahal jelas sekali aku disuruh berangkat duluan, entahlah, mungkin kedua telinga ini sudah rusak, akibat keseringan dijewer.
Insiden ini mengingatkanku pada film Korea berjudul My Annoying Brother. Mengisahkan tentang D.O EXO sebagai atlet judo yang kehilangan penglihatannya, kakakknya yang di penjara pun segera mengajukan diri untuk bisa keluar dari penjara agar bisa merawat adiknya, sebagai pembebasan bersayarat.
Karena sang atlet hanya hidup sendiri, orangtuanya meninggal, dan yang ia punya hanya kakaknya. Padahal adiknya hanya dimanfaatkan, mereka bertemu setelah lima belas tahun berpisah. Awalnya sang kakak tidak pernah sekalipun merawat adik yang buta ini, tetapi lambat laun dia selalu berada di sisi adiknya, mengajari banyak hal tentang kehidupan, “Lu ga boleh putus asa hanya karena lu buta, lu masih muda, dan perjalanan lu masih panjang!”
Meskipun disertai dengan umpatan-umpatan. Hate and love kental terasa, sampai pada akhirnya sang kakak didiagnosis memiliki kanker pankreas, dan memiliki sisa hidup hanya tiga bulan. Karena itu, ia bertekad agar adiknya kembali seperti dulu, yakni sebagai atlet judo.
Awalnya minder sang adik akhirnya menuruti kemauan kakaknya, berlatih sangat keras, sampai menjadi perwakilan Korea untuk pertandingan internasional.
Sama seperti aku dan kakak, adu mulut sudah biasa terjadi, pun dengan pergelutan fisikpun tak jarang kami lakukan. Meskipun pada akhirnya aku yang kalah, kalah karena selalu menerima keadaan. Meski begitu, kami sering saling khawatir dari jauh, selalu memastikan keadaan satu sama lain baik-baik aja.
Terlebih aku hanya memiliki Kakak pada saat itu, hidup mandiri jauh dari orangtua sulit, dan tidak semenyenangkan itu.
Aku dan kakak menggunakan grab car menuju ma’had-ku. Sesampainya di sana, ramai sekali, sedang ribuan pertanyaan mengenai, “Kamu baik-baik aja, kan?” ternyata hari itu aku viral di media sosial anak santri, kakak memposting berita tentang kehilanganku, bahkan para Ustadz mencariku dari stasiun ke stasiun, memalukan.
Apakah aku bisa dijadikan duta? Duta buta arah mungkin.
“Wei, bengong aje!” Aku terkesiap.
“Iya gue inget, itukan salah Kakak, nyuruh aku duluan padahal buta arah.”
“Gue nyuruhnya tunggu di situ goblok, lu nya aja telinganya ditinggal.”
Aku hanya terdiam, karena jika dilanjutkan waktuku untuk bercengkrama dengan malamnya Jogja terbuang sia-sia. Karena berdebat dengannya tak kunjung usai, tidak pernah mau mengalah. Aku menyaksikan Jogja pada malam hari melalui kaca grab car yang berembun. Hari ini Jogja hujan, menyambut kami dan kenangan dalam tetesan hujan yang sendu.
Kami sampai di tempat penginapan yang dituju, dan segera beristirahat. Niatku untuk tidur lebih cepat terganggu, “Dek, usap punggung Kakak dulu!” rengeknya, malam itu aku mengemong, layaknya anak kecil. Meski aku tetap mengusap punggungnya sampai akupun terlelap. Perjalanan Malang-Jogja cukup melelahkan bagiku, sehingga malam itu cepat sekali terlelap.
Keesokan paginya, kami mulai menjelajahi wisata-wisata yang ada di Jogja.
Kakakku suka sekali berfoto, dan aku sangat suka sekali memoto. Bak dua individu yang simbiosis mutualisme, bukan? Namanya Kakak, kapan tidak pernah memanfaatkan adiknya? Meskipun begitu aku diuntungkan, selain menjelajahi wisata dengan gratis, segala hal dari makanan, pakaian, sampai barang-barang, dibelikan oleh kakak.
Sesedikit apapun saldonya di ATM, kakak tetap menjadi bank berjalan terbaik untukku.
Kami banyak sekali berbelanja hari itu. Kebanyakan hasil belanja tersebut milik adik-adikku, sedang kakak hanya membeli satu tas dan satu daster. Kakak memang selalu memprioritaskan adik-adiknya dahulu sebelum dirinya.
Sifatnya yang begini mengingatkanku pada karakter Oh In-Joo pada serial drama Little Woman, seorang anak pertama yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk adik-adiknya, bahkan In-Joo menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, agar adiknya bisa study tour ke luar negeri, meskipun uang itu akhirnya diambil ibunya sendiri, untuk kesenangan pribadinya.
Karakter In-Joo sangat mirip dengan kakakku, karena keduanya sadar seberapa pentingnya uang. Pun kehidupannya sangat realistis, bahkan prioritas mereka sama, yakni keluarga.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.