Rindu akan Kuah Kuning
Karya: Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungaliat, Bangka
Bandung, 15 April 2023
(Bandara Internasional Husein Sastranegara)
CERPEN, TIMELINES.ID — Dengung mesin pesawat menggetarkan satu bandara. Doa-doa terpanjatkan sebelum pesawat lepas landas. Seusai doa meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa, roda pesawat mulai berjalan.
Semakin lama, kecepatan bertambah. Kedua roda mulai terangkat, sesaat kami lepas landas, kedua roda tersebut otomatis tertekuk masuk ke dalam pesawat.
Dari balik jendela kabin kelas bisnis, aku memandang pemandangan terakhir kota Bandung sebelum menghilang ditutupi awan putih tebal. Tersenyum tipis sejenak sebelum beralih ke kedua putriku yang sedang bersenda gurau.
Putri bungsuku, Gilsha, baru berusia 8 tahun, berceloteh tentang betapa menyenangkannya suasana di Bangka. Sedangkan putri sulungku, Farida, yang berusia 11 tahun, menanggapi adiknya dengan sedikit gurauan. Farida sibuk dengan pemandangan dari dalam pesawat.
Fatimah, dengan senyum yang terus melekat, berusaha memperbaiki kerudung Gilsha yang beberapa kali hampir terlepas akibat Gilsha terlalu banyak bergerak.
Ibu yang sangat sabar terhadap anaknya yang hiperaktif. Aku tak bisa menahan senyum gemasku saat menjawab beberapa pertanyaan tidak masuk akal dari Gilsha.
“Abi, kenapa pesawat bisa terbang padahal tidak bisa mengepakan sayap seperti burung?”
“Karena mereka punya mesin, Gilsha. Selain itu, semua sudah diperhitungkan lewat kecepatan angin dan ukuran body pesawat, jadi pesawat bisa terbang.”
“Mengerti tidak, Gilsha?” tanya Farida main-main. Sebagai tanggapan, Gilsha hanya menggeleng polos sembari menyengir. Aku dan Farida tertawa melihatnya, sementara Fatimah hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
Tahun ini kami mudik ke kampung halamanku, rumah orang tuaku di Kota Sungailiat, tepatnya di Kabupaten Bangka. Sudah 4 tahun kami tidak mudik ke sana karena Covid-19 yang merebak.
Bagi Gilsha, ini perjalanan ketiganya ke Bangka. Sedangkan bagi Farida, ini adalah perjalanannya yang kesekian kalinya.
Satu jam berlalu, kulihat Gilsha yang tertidur di dekapan Fatimah. Farida yang setengah melamun nampaknya akan ikut terlelap pula. Aku dan Fatimah tersenyum satu sama lain sebelum ikut memejamkan mata, tertidur.
Pangkalpinang, 15 April 2022
(Bandara Depati Amir)
Tibalah kami di tempat tujuan kami setelah dua jam penerbangan. Sebentar saja aku menapakkan tanahku di tanah kelahiranku, udara familiar masuk menyeruak ke dalam hidungku.
Sementara telingaku mencatat suara kagum Gilsha di belakang, hidungku menghirup aroma masakan khas Bangka, yaitu Lempah Kuning. Ah, seketika aku teringat masakan Ibu. Tak sabar lagi aku masuk ke dalam rumah itu.
“Woi, Adam!” Seketika aku menoleh ke arah suara yang familiar tersebut. Itu Ilham, adik semata wayangku yang sedang melambai dengan kunci mobil di tangannya. Refleks aku ikut melambaikan tangan padanya.
Gilsha dan Farida langsung berlari begitu menyadari keberadaan paman mereka, sementara aku dan Fatimah mengikuti dari belakang.
Ilham yang membuka tangannya untuk menerima pelukan dari Farida dan Gilsha. Sesaat melihatku, dia beralih untuk memelukku dan Fatimah.
“Ape kabar, bang? Lah lame ka dek balik. Mak kk pak lah kangen kek ikak. (Apa kabar, bang? Sudah lama kau tidak pulang. Ayah)”
“Alhamdulillah kami baik. Ya, ka terti lah, Ham. (Ya, kau paham saja, Ham.)” Ilham mangut-mangut dengan senyum tipis mendengar jawabanku.
Ilham beralih berbicara dengan anak-anakku yang tidak sabar berbicara dengannya. Ilham bicara dengan Bahasa Indonesia karena kedua putriku tidak terlalu fasih berbahasa Bangka, “Ini ponakan-ponakan om gimana kabarnya? Aman puasanya?”
“Aman, Om!” jawab mereka serentak dengan bersemangat.
“Wah, hebat dong ponakan-ponakan om.”
“Yasudah, karena kita sudah sampai dan takutnya kelewatan waktu berbuka, sebaiknya jangan buang banyak waktu lagi. Kalian mau ketemu nenek, kan?”
“Mau, Abi! Ayo pergi!” sahut Gilsha bersemangat, sementara Farida hanya mengangguk dengan semangat.
Akhirnya, kami pergi menuju rumah orang tuaku di Sungailiat dengan menggunakan mobil Ilham. Ilham membantuku memasukkan oleh-oleh dari Bandung ke dalam bagasi sembari berbincang-bincang dengan kedua putriku.
Setelahnya, aku duduk di bangku samping kemudi, sementara Fatimah dan kedua anakku duduk di kursi penumpang.
Dimulailah perjalanan kami dengan kendaraan beroda empat. Selama perjalanan, hatiku membengkak dengan kerinduan suasana damai dan tentram di Bangka.
Sekilas aku juga melihat tatapan kagum dari keluargaku yang sudah lama tidak merasakan udara Bangka yang lebih segar. Namun, karena kami sudah lama tidak pulang ke Bangka, ada beberapa bangunan yang sebelumnya belum pernah kami lihat.
“Abi, itu tempat apa?” tanya Farida yang keheranan.
Seketika aku menoleh dan aku langsung tahu bangunan apa itu, “Itu bioskop, nak. Memang baru dibangun tahun 2020 kemarin, betul kan Ham?” Ilham mengangguk sembari tersenyum simpul.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.