Oleh: Iyek Aghnia — Penulis yang Tinggal di Toboali

“Kepercayaan itu seperti vas bunga, sekali pecah, meskipun Anda bisa memperbaikinya, vas itu tidak akan pernah sama lagi” ( Walter Anderson).

Arti pembisik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang membisikan sesuatu kepada orang lain.

Makna lain dari pembisik adalah orang yang bertugas membisikkan apa yang harus dikatakan oleh pemain lain dalam sandiwara.

Berkoherensi dengan pemimpin, tentunya seorang pemimpin perlu orang-orang yang memiliki ketrampilan dan pengetahuan, mengingat seorang pemimpin memiliki keterbatasan semiotik.

Tak semua ketrampilan dan pengetahuan diketahui seorang pemimpin.

Mereka dan orang-orang yang berada di sekitar lingkaran pemimpin sering dikatakan sebagai orang dekat, tangan kanan atau pembisik.

Baca Juga  Legitimasi Publik, Tidak Perlu Direkayasa

Mereka itu bisa dikategorikan sebagai salah seorang dan orang-orang yang dipercaya oleh pemimpin.

Oleh sebab itulah, para pembisik tersebut, tentu saja memiliki keterampilan dan pengetahuan tertentu sehingga sangat dipercaya pemimpin.

Tidak mungkin mereka yang berada dalam lingkaran pemimpin itu, tidak berpengetahuan tinggi dan memiliki ketrampilan.

Dan apa yang mereka sampaikan kepada pemimpin, tentu memiliki makna yang penting bagi seorang pemimpin dalam mengemban amanah rakyat.

Keinginan untuk tidak lagi dicalonkan sebagai presiden sungguh-sungguh keluar dari sanubari beliau,” tulis Sumardjono, ajudan terakhir Pak Harto, dalam buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’ (2011).

Bukan hanya Pak Harto yang berkehendak mundur.

Mantan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Mien Sugandhi, mengungkapkan pada 1996 bu Tien Soeharto juga mengatakan berkali-kali tidak ingin suaminya menjabat lagi sebagai presiden.

Baca Juga  Neng Ayo Neng, Kita Dengarkan Lagu Judul-Judulan

“Tiba-tiba Ibu Tien berkata kepada saya, ‘Tolong katakan kepada ….. (Ibu Tien menyebut seorang petinggi Partai penguasa saat itu), agar Pak Harto jangan menjadi presiden lagi. Sudah cukup, sudah cukup, beliau sudah tua,” kata Mien Sugandhi, menirukan ucapan Ibu Tien dalam suatu acara.

Tapi beberapa pembantu Pak Harto meyakinkan beliau untuk menjadi Presiden RI kembali.

” Mayoritas rakyat Indonesia tetap menghendaki Bapak Haji Muhammad Soeharto untuk dicalonkan menjadi Presiden masa bakti 1998-2203,” kata pimpinan partai penguasa saat itu.

Hati Pak Harto goyah. Ia berubah pikiran dan menerima pencalonan kembali sebagai Presiden.

Dua bulan kemudian Pak Harto mengundurkan diri sebagai Presiden akibat gelombang reformasi dan para menterinya tidak mau lagi bekerja sama.

Baca Juga  Pada Suatu Malam, Bersama Penulis Muda Junjung Behaoh

Sejarah penuh dengan pelajaran tentang para pemimpin/penguasa yang goyah karena rayuan fatamorgana dari orang-orang dekatnya.

Kisah-kisah mulai dari Bharatayudha hingga serial fiksi Game of Thrones menunjukkan bagaimana peran orang-orang dibalik layar ini untuk mempengaruhi keputusan penguasa, dengan berbagai alasan.

Pada titik inilah, keteguhan hati dan kenegarawanan seorang tokoh politik diuji.

Dari narasi di atas dapat kita petik sebuah pembelajaran bahwa ada orang disekitaran pemimpin yang terkadang menyampaikan apa yang terjadi lapangan tidak sesuai dengan realita sebenarnya.