Karya: Khoiriah Apriza

Memiliki nama lengkap, Anisa Rahma. Namun, lebih dikenal dengan panggilan Caca. Entah lah, ia juga bingung awal mulanya ia dipanggil Caca.

Usianya kini telah menginjak 29 Tahun. Namun, ia lebih memilih karier dibandingkan masalah percintaan. Bukan karena ia tidak tertarik dengan cinta. Hanya saja, ia sudah lelah.

Ketika mencintai, cintanya tak terbalaskan. Ketika mencintai terang-terangan, orangnya malah menjauhinya.

Serba salah memang, jadi ia memilih tidak mempermasalahkan akan statusnya yang sudah mau menginjak usia kepala tiga, namun masih belum menikah.

Jika Caca biasa saja saat jodohnya tidak kunjung datang, maka kedua orang tuanya sangat-sangat khawatir. Caca selalu ditanyai orang tuanya, keluarga, tetangga serta sahabatnya akan perihal “kapan nikah?”

Rasa kesal, pasti ada. Sedih, jangan ditanya lagi. Siapa sih di muka bumi ini yang tidak mau menikah? Apa lagi menikah dengan orang yang dicintai.

***

Hari ini, terlihat Caca memandangi ke arah luar jendela. Di luar sana nampak langit yang menumpahkan segala beban yang ia tampung di atas sana.

Baca Juga  Laut, Tenanglah

Seperti itu lah hidup. Akan ada di mana masa seorang manusia menumpahkan segala keluh kesahnya. Tapi ketahuilah, Bahwa seberat apapun cobaan mu, akan ada jalan untuk keluar dari permasalahan tersebut.

Ingat lah, bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.

Jangan coba-coba salahkan takdir, karena terkadang yang terbaik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Namun, yang baik menurut Allah, sudah jelas baik untuk kita.

“Melamun aja kerjaannya Neng. Ngelamun apa coba? Mikir rumah tangga? enggak. Pelajaran sekolah?  enggak. Pekerjaan? juga enggak.” cibir seseorang di belakang Caca.

Suara itu, sudah tak asing di telinganya. Ada rasa kesal di hati, Namun ia ingat bahwa surganya berada di telapak kaki seseorang tersebut.

Tidak berani rasanya, jika harus melawan perempuan yang sudah berjuang antara hidup dan mati karena melahirkannya ke dunia.

Baca Juga  Gema Ramadhan, Forum Anak dan Fasilitator Anak Basel Santuni 35 Anak Yatim

 

“Enggak Bunda. Caca lagi liat hujan kok. Enggak ngelamun,” alibi nya seraya tersenyum melirik ke arah bundanya, yang sedang duduk di sofa.

“Bunda udah tua lho Ca. Kamu enggak mau gitu nikah? Bunda juga pengen gendong cucu. Apalagi kamu anak tunggal,” Bunda memandang sendu ke luar jendela tanpa melirik Caca.

“Caca juga pengen. Tapi, mau gimana lagi. Belum ketemu jodoh nya,” ujar Caca dengan pasrah.

“Jodoh itu dicari, bukan ditunggu. Kamu mah kerjaannya cuma nunggu cowok melamar. Sekali-kali kamu yang melamar duluan. Kayak bunda dulu ke Abah kamu,” ujar Bunda dengan senyuman manisnya. “Iya kan Abah?” lanjutnya mengajukan pertanyaan kepada suaminya yang kepalanya ditidurkan dipangkuannya.

“Iya bener tuh Ca. Lagian enggak apa-apa cewek melamar duluan. Contohnya Khodijah yang melamar Rasulullah Saw duluan,” tambah Abah menyetujui perkataan istrinya.

“Iya kalau diterima. Kalau enggak? Yang ada Caca malu dong,” gerutunya.

“Nikah itu enak lho Ca,” ujar Bunda seraya mengelus rambut suaminya.

Baca Juga  Bukan Cinderella

“Setuju. Apapun yang dilakukan pasangan suami-istri itu mendapatkan pahala. Selama itu perbuatan benar. Enak banget kan? Peluk dapat pahala, cium dapat pahala, puji istri atau suami dapat pahala. Pokoknya banyak banget,” sambung Abah yang menikmati pijatan istrinya di kepalanya.

“Ihh Abah, Bunda! Caca kan jadi iri mau nikah juga!” rengek Caca yang kesal melihat keromantisan bunda dan Abahnya.

***

Seperti biasa, Caca bekerja di butiknya. Caca adalah seorang perancang busana. Entah itu gaun pernikahan, baju keluarga dan sebagainya. Butiknya juga, sudah mempunyai banyak cabang yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Caca nampak sibuk dengan pekerjaannya. Tangannya yang putih bersih, dengan lihai mengetikkan sesuatu di laptop nya. Sesekali ia menyeruput tehnya.

“Gimana konsepnya gini aja?” tanya Caca dengan memperlihatkan laptopnya kepada kliennya.

“Pokoknya yang bagus. Gue nurut sama Lo aja deh,” ujar lelaki tampan tersebut.