Saat Doa Menaklukkan Penolakan: Jalanku Menuju Unmuh Babel

Oleh: Putri Simba

Namaku Putri Rahmawati yang kerap disapa dengan nama pena Putri Simba, seorang anak yang terlahir dari keluarga sederhana yang terus berjuang menghadapi hidupnya. Tidak ada warisan kekayaan, tabungan besar untuk masa depan, melainkan yang ada hanyalah kerja keras orang tuaku, doa yang tidak pernah putus dan mimpi yang diam-diam aku rawat sendiri, tetapi hampir aku kubur dalam kala itu.

Sejak kecil,aku tahu hidupku tidak akan mudah, aku tumbuh melihat bagaimana orang tuaku berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang cukup, kadang pas-pasan hanya untuk membeli beras saja. Aku belajar sejak dini bahwa meminta bukanlah hal yang mudah bagi kami, bahkan untuk sekadar ingin sesuatu, aku sering berpikir dua kali.

Saat kelas XII SMA, di tengah tugas sekolah dan persiapan ujian, aku menyimpan satu mimpi besar, aku ingin kuliah. Bukan karena ikut-ikutan teman atau pun gengsi, tetapi karena aku ingin mengubah hidup. Aku ingin membanggakan kedua orang tuaku, ingin menciptakan sarjana pertama di keluarga dan sukses di masa depan.

Baca Juga  Obat Luka

Namun, kenyataannya semua impian yang aku bayangkan itu tidak sesuai ekspektasi, tidak langsung kuliah, bahkan tidak mendapatkan dukungan restu kedua orang tuaku untuk kuliah kala itu.

“Nak, sebaiknya kamu tidak usah kuliah, kita ini orang yang gak punya dan bukan orang kaya, jadi jangan memaksakan diri untuk kuliah. Kami tidak ada biaya nya, untuk makan pun sulit apalagi untuk biaya kuliah, Nak. Lagian kenapa kamu kuliah mengambil jurusan jurnalistik, kami tidak pernah setuju kamu menjadi seorang wartawan, Nak. Lebih baik di tahun ini kamu jangan kuliah, kerja dulu, tahun depan baru kuliah tetapi mengambil jurusan guru, jangan jurnalistik.” Kalimat itu masih teringat jelas di pikiranku yang seolah membuatku hancur tak berdaya.

Aku tidak marah, hanya sedih pada keadaan. Rasanya seperti berdiri di persimpangan antara menyerah atau tetap berjuang, meski tanpa kepastian. Walaupun aku tahu kalimat itu diucapkan bukan karena tidak sayang, melainkan hanya ragu, takut tidak mampu, takut harapanku terlalu tinggi untuk keadaan kondisi kami. Di sisi lain, hatiku juga menjerit.

Baca Juga  Kisahku

“Apakah mimpi harus kalah pada keadaan, apakah cita-cita harus padam karena tidak ada biaya?

Malam demi malam aku menangis, bukan karena dimarahi, tetapi karena merasa tak berdaya. Merasa kecil, tidak punya pilihan, dan merasa mimpiku terlalu mahal untuk ukuran keluargaku juga restu doanya. Hari-hari setelah itu terasa berat, aku jalani terpaksa berkerja merantau demi bisa membantu kedua orang tuaku. Setiap kali melihat teman-teman seangkatanku memakai almamater kampus mereka lalu duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa, hatiku terasa sesak dan kembali bertanya di dalam doa panjangku.

“Ya Allah, apakah mimpiku memang harus berhenti di sini? Apakah aku benar-benar tidak diizinkan untuk menciptakan S-1 sarjana pertama di keluarga? Apakah mimpiku memakaikan baju wisuda juga toga itu kepada kedua orang tuaku hanya akan menjadi bayangan yang tak pernah nyata?”

Namun, di tengah itu semua, Allah menunjukkan satu jalan takdir kepadaku. Aku diminta untuk bangkit kembali dan mengingat satu kutipan narasi dari Ir Soekarno yaitu ” Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”.

Baca Juga  Kenangan di Balik Pintu Kelas Putih Abu-Abu

Kalaupun aku harus jatuh, aku ingin jatuh setelah mencoba bukan jatuh karena menyerah. Akhirnya aku mencoba memberanikan diri menanyakan/ mencari-cari info beasiswa kepada guruku dan di situ tertulis satu nama kampus yang beliau bagikan yang tak pernah terpikirkan oleh benak kepalaku yaitu kampus Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Lalu dengan bismillah dan nekat setelah minta izin restu orang tua, walaupun masih ragu, aku langsung mendaftar, kumpulkan setiap berkas -berkasnya dengan teliti.

Seling berapa Minggu setelah mendaftar, kabar itu datang atas izin takdir dari Allah yang harus aku jalani penuh semangat. Aku diterima kuliah menjadi mahasiswa baru universitas Muhammadiyah Bangka Belitung melalui jalur beasiswa KIP prodi PBI/ Pendidikan Bahasa Inggris. Dan saat kabar itu sampai di rumah, suasana berubah, orang tuaku yang tadinya tidak mendukung langkahku untuk kuliah, merasa takut tidak mampu kini mulai merestui aku kuliah, menjadi orang pertama yang selalu mendoakan diriku serta selalu mendukung memeluk langkah panjangku.