Karya: Agus Bachtiar K

“Tidak masalah pak Guru, sekali-sekali. Kebetulan hari ini saya memasak agak banyak,” kata Yuk Yeti si janda muda anak satu pemilik toko kelontong depan sekolah meyakinkanku.

Dalam seminggu ini, sudah berkali-kali dia mengantar makanan ke rumah dinasku tepat setelah jam pulang sekolah. Jujur saja, masakan Yuk Yeti memang juara di lidahku. Bukan semata karena gratis, tapi bumbu lempah kuning khas Bangka racikannya memang beda. Selain aromanya yang menggugah selera, kuahnya lebih kental dan sama sekali tidak ada bau anyir ikan.

Baru sebulan aku bertugas di SMP terpencil ini setelah SK PPPK kuterima. Perjalanannya luar biasa: aku harus menyeberang dengan kapal kayu selama tiga jam untuk sampai kesini. Awalnya, aku nyaris menyerah. Karena menurut cerita dari beberapa teman, lokasi penempatanku itu sangat jauh dari keramaian kota. Dan ternyata benar. Jauh sekali dari “pusat peradaban”.

“Untung saja, ada sinyal di sini, kalau tidak, bisa-bisa aku hilang dari peredaran,” gerutuku.

Namun, pesan lirih Ibu malam sebelum keberangkatan membuatku luluh sekaligus menguatkanku.

“Gus, tidak semua orang punya kesempatan jadi ASN. Jaga diri baik-baik, kamu harus jadi contoh bagi adikmu,” kenangku akan tatapan penuh harap Ibu.

Akhirnya, di sinilah aku sekarang. Di perumahan guru yang berhadapan langsung dengan toko kelontong milik Yuk Yeti. Dia janda muda yang cantik, dan ramah.

Menurut gosip guru olahraga, dia orang kaya. Suaminya meninggal karena tertimpa ekskavator dan longsoran tanah saat mengawasi anak buah yang sedang bekerja di lokasi tambang. Warisan mendiang suaminya, mulai dari tambang hingga kebun sawit, berlimpah ruah.

Baca Juga  Bukan Cinderella

Banyak lelaki, dari jejaka sampai bos besar ingin melamarnya. Tapi mereka kecewa karena selalu nihil tanpa hasil. Bahkan pertengahan tahun lalu, Pak Kades ingin menyuntingnya sebagai istri ke 4. Tapi dengan tegas, Yuk Yeti menolak. Dan kabarnya kedua istri muda pak Kades kini sudah diceraikan sejak dana desa di pangkas oleh pemerintah pusat. Entah apa hubungannya, aku tak paham.

“Sungguh berita yang tidak populer,” kataku dalam hati disertai rasa heran pada guru olah raga yang terlihat “macho” tapi pandai bergibah itu.

“Apa ini, Yuk?” tanyaku saat dia menyodorkan rantang hijau susun tiga siang itu.

“Lauk, sayur, sama ada empek-empek bato sedikit, Pak Guru,” jawabnya sambil mengulurkan tangan yang begitu lembut untuk ukuran orang kampung.

“Aduh, bukannya menolak, tapi saya tidak enak kalau tetangga melihat Ayuk sesering ini mengantar makanan,” kataku menahan beban perasaan.

“Pak Guru, anggap saja ini wujud terima kasih karena sudah membimbing Rio. Sekarang dia rajin belajar,” rayunya sedikit memohon.

“Kasihan Rio, Pak Guru. Sudah lama dia tidak merasakan hangatnya kasih sayang seorang ayah”.

Mendengar itu, aku tersedak ludah sendiri. Untuk kesekian kalinya, aku menyerah dan menerima paket makanan bergizi gratis itu lagi.

Baca Juga  Masa Depan yang Tak Pernah Kusaksikan

Sejak Yuk Yeti menyimpan nomor WA-ku sebagai wali kelas Rio, gawaiku tidak pernah sepi. Anehnya, pesannya jarang membahas soal permasalahan anaknya atau tentang pengetahuan berkesenian. Sebagai guru Seni Budaya, aku malah sering dikirimi pertanyaan tentang PR Matematika, IPA, hingga Bahasa Inggris.

Bahkan, ada saja alasan agar aku datang ke rumahnya: memeriksa bola lampu mati, mencari saluran TV yang hilang, sampai mengecek magiccom yang nyetrum. Aku sempat curiga, jangan-jangan dia sengaja mengendorkan bola lampu itu.

Bisa juga dia sendiri yang menghapus kanal TV nya. Siapa tahu dia sengaja menyiram penanak nasinya itu sampai korsleting, agar aku datang. Wajarlah aku punya kecurigaan seperti itu, karena hampir tiap saat ada saja yang rusak di rumah Yuk Yeti.

Tapi, mengingat kebaikannya, aku segera menghapus prasangka buruk itu.

“Rio, anggap saja Pak Guru itu ayahmu ya, Nak,” kata Yuk Yeti suatu sore saat aku memperbaiki mesin airnya yang (katanya) mati total.

Sontak aku bersin berkali-kali, seolah ada bulu hidung yang masuk ke saluran napas. “Pak Guru flu? Nanti minum jamu tolak bersin di toko ya,” katanya cemas.

“Tidak usah, Yuk. Saya memang sering bersin kalau kena udara dingin,” jawabku asal, padahal cuaca sore itu sedang panas menyengat. Untungnya, dia percaya saja.

“ Merdeka!” teriakku dalam hati sambil menahan tawa.

Baca Juga  Impian Syarifah

Menjelang libur semester, aku bersiap mudik. Enam bulan di pulau ini terasa cepat, mungkin karena aku mulai nyaman… atau mungkin karena janda muda yang polos ini?. Apakah sebenarnya aku mulai jatuh hati? Entahlah…

Setelah merampungkan pengolahan nilai dan memasukkan angka-angka di aplikasi rapor digital, usai sudah pekerjaanku untuk semester ini. Tiga hari lagi rapor akan dibagikan pada wali murid, kulihat di leger nilai, Rio berada di peringkat ke tiga. Selain cerdas dan disiplin, Rio sebenarnya anak yang baik dan tidak pernah membuat kegaduhan di kelas. Hanya saja dia sering kudapati melamun saat jam istirahat. Yuk Yeti pernah bercerita, dulu waktu masih SD, Rio bandel sekali dan sering tak mau masuk sekolah. Sakit, ngantuk, takut dengan guru, dan berbagai alasan lain yang dibuat-buat agar bisa mangkir dari sekolah.

“Semenjak ada Pak Guru, Rio berubah. Dia menemukan sosok ayah idaman,” puji Yuk Yeti.

Hidungku mendadak mekar mendengar pujian itu. Aku harus menahan napas agar diameter lubang hidungku tidak melebar dan “menyedot” Yuk Yeti masuk ke dalamnya.

“Rio Sopiansyah!” kupanggil nama itu saat pembagian rapor Jumat pagi.

Sesosok ibu muda melenggang maju kedepan dengan langkah agak dibuat-buat menuju mejaku yang dipenuhi tumpukan rapor berwana biru tua.

“ Silakan duduk Bu,” kataku pada Yuk Yeti.

“Ya Pak Guru,” sambutnya sambil duduk tepat didepanku.